Tidak takut, tidak berduka dan tidak guncang saat semua manusia terguncang hebat di hari kiamat.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَياةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Alloh. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus [10]:62-64)

Ibnu Katsir rohimahuwloh berkata tentang berita gembira di akhirat bagi orang-orang yang bertaqwa dalam ayat ini:

وَأَمَّا بُشْرَاهُمْ فِي الْآخِرَةِ، فَكَمَا قَالَ تَعَالَى: {لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الأكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ} [الْأَنْبِيَاءِ: 103] . وَقَالَ تَعَالَى: {يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [الْحَدِيدِ: 12]

“Sedangkan berita gembira untuk mereka di akhirat nanti adalah seperti yang disebutkan dalam firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala:

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا الْحُسْنَى أُوْلَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ * لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنفُسُهُمْ خَالِدُونَ * لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata):”Inilah hari kalian yang telah dijanjikan kepada kalian”. (QS. Al-Anbiya [21]:101-103)

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka):”Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kekal kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Al-Hadid [57]:12). (Baca Tafsir Ibnu Katsir: 4/281)

  1. Wajah mereka putih berseri

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Alloh (surga); mereka kekal di dalamnya. (QS. Ali `Imron [3]:107)

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ * ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria, (QS. `Abasa [80]:38-39)

Ibnu Katsir rohimahuwloh berkata:

وَقَوْلُهُ: (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ * ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ) أَيْ: يَكُونُ النَّاسُ هُنَالِكَ فَرِيقَيْنِ: (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ) أَيْ: مُسْتَنِيرَةٌ، (ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ) أَيْ: مَسْرُورَةٌ فَرِحَةٌ مِنْ سُرُورِ قُلُوبِهِمْ، قَدْ ظَهَرَ الْبِشْرُ عَلَى وُجُوهِهِمْ، وَهَؤُلَاءِ أَهْلُ الْجَنَّةِ.

“Firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala [Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria) artinya manusia pada hari itu ada dua golongan: (yaitu ada wajah-wajah yang musfiroh) yaitu bersinar dan (dohikatum mustabsyiroh) artinya gembira ria yang menggambarkan kegembiraan hati-hati mereka. Kegembiraan itu begitu tampak jelas di wajah-wajah mereka dan mereka itulah penduduk surga. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 8/327)

  1. Ada 7 Golongan yang mendapatkan naungan Alloh di saat tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya.

Abu Huroiroh rodiyawlohu `anhu meriwayatkan bahwa Rosululloh shollawlohu `alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ

Ada tujuh golongan yang Alloh melindungi mereka dalam lindungan-Nya pada hari kiamat, di hari ketika tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, yaitu;

  1. Imam yang adil,
  2. Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Alloh,
  3. Seseorang yang senantiasa mengingat Alloh saat sendiri sehingga matanya berlinang,
  4. Seseorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid,
  5. Dua orang yang saling mencintai karena Alloh,
  6. Seseorang yang diajak berkencan oleh wanita bagsawan dan rupawan, namun ia menjawab; ‘Saya takut kepada Alloh’,
  7. (Serta) seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu menahu terhadap amalan tangan kanannya.”(HR. Bukhori No. 6806)
  8. Kondisi Orang-orang yang membantu memudahkan kesulitan orang lain serta menutupi aib orang lain.

Abu Huroiroh rodiyawlohu `anhu meriwayatkan bahwa Rosululloh shollawlohu `alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya (Hadis riwayat Muslim: 2699).

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (8/215) dijelaskan:

Ketika semua makhluk adalah satu keluarga, sedangkan memberikan kelapangan adalah satu perbuatan baik, maka Alloh membalasnya dengan balasan yang setimpal. Hal tersebut didasarkan pada Firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala :

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. Ar-Rohman [55]:60)

(Dan siapapun yang menutupi seorang muslim) tentang keburukan perilakunya, sehingga tidak dicerca atau dipakaikan baju (niscaya Alloh menutupinya) artinya menutupi aib atau auratnya.”

  1. Kondisi orang-orang yang bersikap adil kepada semua orang

Rosululloh shollawlohu `alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَـنِ – عَزَّ وَجَلَّ -، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ، وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Sesungguhnya orang yang berlaku adil, kelak pada hari kiamat akan berada di atas mimbar dari cahaya dari sebelah kanan-Nya Ar-Rohman ‘Azza wa Jalla, dimana kedua tangan-Nya adalah kanan. Orang-orang yang belaku adil dalam hukum dan keluarga mereka serta terhadap apa yang mereka tangani. (Hadis riwayat Muslim: 1827)

An-Nawawi rohimahuwloh berkata:

Al-Qodhi berkata: boleh jadi mereka berada di atas mimbar yang sebenarnya menurut arti dzohir hadis tersebut. Boleh jadi juga mimbar itu kinayah/kiasan untuk sebuah kedudukan yang tinggi. Menurutku yang jelas itu arti yang pertama sekaligus mengandung kedudukan yang tinggi, sehingga maknanya berarti mereka itu berada di atas mimbar yang sebenarnya dan kedudukan mereka memang juga tinggi”. (Syarh an-Nawawi `ala Muslim: 12/211)

  1. Kondisi orang-orang yang mati syahid

وَالْذِّي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ – إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجُرْحُهُ يَثْعَبُ، اللَّوْنُ لَوْنُ دَمٍ، وَالرِّيحُ رِيحُ مِسْكٍ

“Demi Tuhan yang jiwa-ku ada di tangan-Nya, setiap luka yang diderita muslim di jalan Alloh akan dibiarkan seperti itu pada hari Kiamat. Luka tusukan nanti tetap mengucurkan darah yang warnanya seperti darah (dunia) namun harumnya seperti Kasturi (Hadis riwayat al-Bukhori: 5533)

  1. Kondisi orang-orang yang menahan marah

Rosululloh shollawlohu `alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا، وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ؛ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ”.

 

“Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Alloh akan menyebut dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki,” (HR. Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 3/440).

“Siapa saja yang menahan jiwanya dari hawa nafsu, maka surga adalah tempat tinggalnya dan bidadari adalah balasannya”.

(Syarh al-Misykat Lit Toyyibi al-Kasyif `an Haqoiq as-Sunan: 10/2239)

  1. Kondisi para muadzzin

Mu`awiah bin Abi Sufyan rodiyawlohu `anhuma berkata: Saya mendengar Rosululloh shollawlohu `alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 “Para muadzzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 387)

Yakni tatkala manusia sudah berdesak-desakan dan ketika keringat-keringat manusia sudah membanjiri mereka, bahkan ada yang keringatnya setinggi mulutnya. Maka muazzin selamat dari semua itu karena lehernya yang panjang. (Syarh Muslim: 4/333 karya An-Nawawi)

Abu Sa`ied Al-Khudri rodiyawlohu `anhu berkata kepada Abdulloh bin Abdurrohman bin Abu So’so’ah Al-Ansori:

إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.


“Saya perhatikan kamu sangat menyukai kambing dan kampung. Karenanya jika kamu sedang bersama kambingmu atau sedang berada di kampungmu lalu kamu mengumandangkan azan untuk melaksanakan sholat, maka keraskanlah suaramu ketika azan. Karena sesungguhnya tidaklah suara muadzzin itu didengar oleh jin, manusia, dan yang lainnya kecuali pasti semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat. Kemudian.” (Hadis riwayat al-Bukhori no. 87)

  1. Kondisi orang yang berwudu

Dari Abu Huroiroh rodiyawlohu `anhu meriwayatkan bahwa Nabi shollawlohu `alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

“Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah, tangan, dan kaki yang bercahaya karena bekas-bekas wudu mereka. Karenanya barangsiapa di antara kalian yang bisa memperpanjang cahayanya maka hendaklah dia lakukan.” (Hadis riwayat al-Bukhori no. 136 dan Muslim no. 246)

Disadur bebas  dari:

رابط الموضوع: http://www.alukah.net/sharia/0/96805/#ixzz4137iJnGa

(dengan beberapa tambahan keterangan dari penulis)

Penulis : Dr. Muhammad Sarbini. MHI

%d blogger menyukai ini: