Sudah hampir lima tahun Yaman didera perang berkepanjangan. Hingga kini tidak ada tanda-tanda perang tersebut akan mereda. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi dan Uni Emirat Arab belum juga berhasil mengalahkan Milisi Syi’ah Hutsi.

organisasi-organisasi kemanusiaan mengatakan krisis kemanusiaan di Yaman kian memburuk. Afrah Nasir dari Human Right Watch mengatakan krisis kemanusiaan di seluruh penjuru Yaman semakin parah. Bahkan menurut Nasir, ketika pertempuran menurun krisis kemanusiaan di seluruh penjuru Yaman tetap memburuk.

Sejak konflik dimulai sudah sekitar 9 ribu warga sipil terbunuh. Sebanyak 3 juta orang lainnya terpaksa mengungsi untuk melarikan diri dari perang. Yaman juga berada di jurang kelaparan. Sebanyak 24 juta orang bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Diprediksi kondisi krisis kemanusiaan di Yaman akan semakin terpuruk lagi. Karena pada 24 Desember lalu puluhan organisasi kemanusiaan menahan operasi mereka di negara tersebut karena menjadi target pemboman. Hal ini sebagaimana diungkap oleh PBB.

Sementara Kementerian Kesehatan Hutsi mengumumkan sejak Oktober wabah flu babi dan demam berdarah di Yaman telah menewaskan hampir 200 orang. Kantor Kemanusiaan PBB di Yaman mengatakan langkah menahan operasi bantuan kemanusiaan dilakukan setelah ada serangan roket granat terhadap tiga organisasi kemanusiaan di Provinsi Dhale.

Serangan tersebut melukai seorang petugas keamanan dan merusak beberapa gedung. PBB mengatakan pengeboman itu menjadi peringatan bagi pekerja kemanusiaan’. PBB menambahkan hal ini bisa menghentikan distribusi bantuan kepada 270 ribu penduduk yang sangat membutuhkan.  (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: