Masjid adalah tempat melakukan solat berjamaah bagi kaum muslimin. Masjid memiliki kedudukan yang terhormat dalam Islam karena ia merupakan tempat solat sebagai ibadah teragung dalam Islam.
Alloh subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Jin ayat delapan belas:
“Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kalian menyembah seseorangpun di dalamnya di samping menyembah Allah”(Al-Jin:18).
Ketika semua masjid milik Alloh, ,maka tidak boleh menisbatkan masjid kepada seseorang mahluk dengan nisbat kepemilikan dan kekhususan, adapun penisbatan masjid dengan nama agar dikenal, maka hal itu tidak apa-apa dan tidak termasuk dalam larangan tersebut.

Nabi solollohu’alaihi wasallam menisbatkan mesjidnya kepada dirinya, seperti yang diterangkan di dalam sebuah sabdanya: مَسْجِدِي هذَا (masjidku ini), begitu juga beliau menisbatkan masjid quba’ kepadanya, yaitu quba’, dan masjid baitul maqdis dinisbatkan kepada Iliya’, apa yang telah disebutkan adalah penisbatan nama mesjid kepada selain Allah agar mudah dikenal, semua ini tidak termasuk di dalam larangan di atas.
Seseorang yang hendak beribadah di masjid hendaknya memperhatikan adab-adab masjid. Di antaranya:
Pertama: Orang yang makan bawang putih dan bawang merah harus menjauhi mesjid, sampai baumulut karena bawang atau sejenisnya hilang. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dari Jabir radhiallahu anhu bahwa Nabi Solollohu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ قَالَ فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ
Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah menjauh dari kita” Atau bersabda “Maka hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk di rumahnya”.
Dikiaskan kepada bawang merah atau bawang putih segala sesuatu yang berbau busuk yang bisa menyakiti orang yang shalat, namun jika seseorang memakai sesuatu yang bisa mencegah bau yang tidak sedap tersebut dari dirinya seperti memakai pasta gigi dan lainnya, maka tidak ada larangan baginya setelah itu untuk menghadiri mesjid.
Adab yang kedua: Dianjurkan untuk bergegas menuju masjid agar ia mendapatkan keutamaan baris terdepan ketika solat, hal ini berdasarkan sabdaRasulullah solollohu’alaohi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:
لَوْ تَعْلَمُونَ – أَوْ يَعْلَمُونَ – مَا فِى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَكَانَتْ قُرْعَةً
“Seandainya mereka mengetahui keutamaan shaf pertama, niscaya akan diadakan undian untuk mendapatkannya”.

Adab yang ketiga: Dianjurkan berjalan menuju shalat dengan khusyu’, dan tenang. Nabi solollohu’alaihi wasallam telah melarang umatnya berjalan menuju sholat secara tergesa-gesa walaupun sholat sudah didirikan.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan bahwa Abu Qotadah radhiallahu anhu berkata: Pada saat kami sedang shalat bersama Nabi solollohualaihi wasalam, tiba-tiba beliau mendengar suara kegaduhan beberapa orang. Sesudah menunaikan shalat beliau mengingatkan:
مَا شَأْنُكُم؟ قَالُوْا: اِسْتَعْجَلْنَا إِلىَ الصَّلاَةِ. فَقَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوْا, إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَعَلَيْكُمْ بِاالسَّكِيْنَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا
“Apa yang terjadi pada kalian?”. Mereka menjawab: “Kami tergesa-gesa menuju shalat”. Rasulullah menegur mereka: “Janganlah kalian lakukan, apabila kalian mendatangi shalat maka hendaklah berjalan dengan tenang.Solatlah sesuai rekaat yang kalian dapatkan dan jika ada rekaat yang terlewat maka sempurnakanlah
Adab keempat: Saat berjalan menuju shalat hendaklah berdo’a dengan mengucapkan:
اَللّهُمَّ اجْعَلْ فيِ قَلْبِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي لِسَانِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُوْرًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُوْرًا وَاجْعَلْ خَلْفِي نُوْرًا وَأَمَامِي نُوْرًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا اَللّهُمَّ وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا
“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan jadikanlah di dalam lisanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah di sebelah belakangku cahaya dan di hadapanku cahaya, dan jadikanlah di atasku cahaya dan di bawahku cahaya. Ya Allah, agungkanlah cahayaku!”.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Adab kelima, hendaklah seseorang ketikaMemasuki masjid mendahulukan kaki kanan ketika masuk dan mendahulukan kaki kiri ketika keluar. Keudian hendaklah ia berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rosululloh Solollohualaihi wasallam. Imam Muslim, meriwayatkan dari Abu Usaid, bahwa Rosululloh solollohu’alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ ، فَلْيَقُلِ : اللهمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ . وَإِذَا خَرَجَ ، فَلْيَقُلِ : اللهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
Jika seseorang masuk masjid, maka hendaklah ia berkata: Ya Alloh bukakanlah pintu rahmat-Mu untukku. Dan jika keluar, hendaklah ia berdoa: ya Alloh aku meminta fadilah-Mu.
Adab keenam:Menunaikan shalat tahiyatul masjid saat memasuki sebuah mesjid. Imam Bukhori meriwayatkan hadis dari Abi Qotadah Al-Sulami bahwa Rasulullah solollohu’alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
“Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid maka hendaklah dia shalat dua rekakat sebelum duduk”.
Adab lain yang harus perhatikan oleh seorang muslim, yaitu
Tidak membuat perkumpulan di dalam masjid untuk memperbincangkan dunia semata. Rasulullah solollohua;laihi wasallam bersabda:
يَأْتِ عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ يَحْلِقُوْنَ فيِ مَسَاجِدِهِمْ وَلَيْسَ هُمُوْمُهُمْ إِلاَّ الدُّنْيَا وَلَيْسَ ِللهِ فِيْهِمْ حَاجَةٌ فَلاَ تُجَاِلسُوْهُمْ
“Akan datang suatu masa kepada sekelompok orang, di mana mereka melingkar di dalam mesjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada bagi kepentingan apapun pada mereka maka janganlah duduk bersama mereka”.
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dan dihasankan oleh al-Albani. Wallahu’alam…

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: