Aktivis hak asasi manusia yang tergabung dalam kelompok the Free Rohingya Coalition menyerukan boikot global terhadap Myanmar. Seruan itu digelorakan saat Myanmar akan menghadapi persidangan perdana dugaan tindakan genosida di Pengadilan Internasional di Den Haag, Belanda.

Koalisi pembebasan rohingya menyatakan telah memulai Kampanye Boikot Myanmar dengan 30 organisasi di 10 negara. Mereka menyerukan perusahaan, investor asing, serta organisasi profesional maupun budaya untuk memutuskan hubungan kelembagaan dengan Myanmar. Hal ini sebagaimana diungkapkan koalisi pembebasan rohingya dalam pernyataan senin kemarin.

Aung San Suu Kyi dilaporkan telah tiba di Den Haag pada Ahad kemarin. Dia memimpin delegasi Myanmar untuk menghadapi persidangan pengadilan internasional yang dijadwalkan digelar pada 10 hingga 12 Desember. Aung san suu kyi datang untuk membela negaranya dari tudingan genosida.

Gambia, mengatasnamakan Organisasi Kerja Sama Islam, menjadi pihak yang membawa kasus dugaan genosida terhadap etnis Rohingya ke pengadilan internasional. Gugatan diajukan pada awal November lalu.

Menteri Kehakiman Gambia Abubacarr Tambadou  mengatakan bahwa Gambia membawa kasus rohingya ke Pengadilan Internasional karena Gambia yakin bahwa Myanmar telah melanggar Konvensi Genosida. Hal ini diungkapkan  Abubacarr Tambadou dalam wawancara khusus dengan media turki hari senin kemarin. Menurut dia, apa yang terjadi di Negara Bagian Rakhine merupakan sesuatu yang mengerikan. Sehingga Myanmar harus bertanggung jawab  atas tindakannya. Tambadou mengaku telah mengunjungi kamp pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh. Menurut dia, apa yang dilihatnya di sana mengingatkannya pada genosida Rwanda.

%d blogger menyukai ini: