Sahabat hijrah yang dimuliakan Allah, Allah adalah dzat yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengawasi dan Maha Mengetahui semua yang kita lakukan, yang kita ucapkan bahkan yang kita bisikan di dalam hati kita. Oleh karena itulah, mukmin yang sejati adalah mukmin yang selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga jauh dari yang namanya maksiat.

Nah sahabat hijrah, merasa diawasi oleh Allah inilah yang menjadikan tolak ukur baik dan buruknya amal kita. kondisi dimana kita merasa diawasi oleh Allah ini dinamakan dengan ihsan, tentunya sahabat sudah tidak asing lagi dengan hadits tentang iman, islam dan ihsan.

Sebagaimana yang Rasulullah sebutkan di dalam hadits jibril.

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu. hadits riwayat Bukhori dan Muslim.

Bahkan nih sahabat, mayoritas ulama berpendapat bahwasanya Ihsan merupakan tingkat tertinggi dalam agama, kedudukannya diraih setelah kedudukan Islam dan Iman.

Nah sahabat hijrah, Orang yang telah mencapai derajat Ihsan adalah orang yang senantiasa murooqobah, apa itu muroqobah, muroqobah adalah sikap dimana kita merasa di awasi dan dilihat oleh Allah dalam segala gerak-gerik kita, terutama tatkala sedang beribadah.

Sahabat hijrah yang berbahagia, Terlalu sering kita mengeluh akan sulitnya meraih keikhlasan dan sulitnya menolak riyaa’, serta sulitnya meraih kehusyu’an. Diantara perkara yang sangat membantu seseorang untuk meraih keikhlasan dan menolak riyaa’ adalah dengan mempraktekan ihsaan. yaitu merasa diawasi,dilihat oleh Allah tatkala sedang beribadah.

Jika seseorang tatkala beribadah merasa diawasi dan dilihat serta dinilai oleh Allah maka ia akan berusaha untuk beribadah dengan sebaik-baiknya di hadapan Allah.

Berkaitan dengan hal ini Allah berfirman di dalam quran surat asy-Syu’aro ayat 17 sampai ayat 20 yang berbunyi.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٢١٧) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (٢١٩) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri, dan melihat pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Tatkala sedang sholat harus sadar bahwa berdirinya, ruku’nya dan sujudnya, sedang diawasi oleh Allah, maka tatkala itu ia akan lupa dengan pandangan dan penilaian manusia dan tidak mempedulikan penilaian mereka, Karenanya diantara definisi ikhlash yang disebutkan oleh para ulama adalah .

نِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْخَلْقِ بِدَوَامِ النَّظْرِ إِلَى الْخَالِقِ

“Melupakan pengamatan manusia dengan selalu memandang kepada Pencipta”.

Nah sahabat hijrah, Demikian juga tatkala ia merasa dilihat oleh Allah maka sholatnya akan menjadi lebih khusyuk karena hatinya terfokus dan konsentrasi kepada Allah.

Subhaanalaah ya sahabat, bagaimana sikap ihsan ini bisa menghimpun tiga sifat yang utama, yakni keikhlasan…, kekhusyu’an…, dan menolak riyaa’….

Oleh karena itu sahabat, tak heran jika para ulama menyatakan ihsan sebagai derajat yang tertinggi dalam agama setelah iman dan islam.

Seorang yang mencapai derajat ihsan ia bukan saja hanya merasa di awasi oleh Allah dalam gerak-gerik tubuhnya, bukan hanya merasa diawasi dalam setiap kata yang diucapkannya, bukan hanya merasa diawasi dalam setiap pandangan dan lirikan matanya, bahkan lebih dari itu semua ia juga merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-gerik hati dan niatnya.

Karena itu, Allah berfirman di dalam quran surat al-Mukmin ayat 19.

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (١٩)

“Dia Allah mengetahui pandangan  mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.

Kemudian juga sahabat, Allah berfirman di dalam quran surat at-Tagoobun ayat 4.

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٤)

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan, dan Allah Maha mengetahui segala isi hati.

Sahabat hijrah, Allah juga Maha Mengetahui apa yang kita sembunyikan di hati kita, apakah kita ungkapkan atau kita sembunyikan tentang sesuatu hal, Allah pasti mengetahuinya, berkaitan dengan hal ini Allah berfirman di dalam quran surat ali Imran ayat 29.

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ (٢٩)

“Katakanlah, “Jika kalian Menyembunyikan apa yang ada dalam hati kalian atau kamu nyatakan, pasti Allah Mengetahui”.

Nah, jika seseorang sudah mengetahui hal ini, maka dia akan malu ketika berbuat riya atau ingin dipandang oleh orang lain ketika dia beribadah, karena dia tahu bahwa Allah tahu apa yang ada di dalam hatinya.

Sahabat hijrah, Kita tidak akan mencapai derajat ihsan kalau tidak ahsan, dan kita tidak akan ahsan kalau tidak punya ilmu tentang maratibul amal. bagaimana maksdunya?. apa itu ahsan dan maratibul amal?.

Jadi sahabat hijrah, begini penjelasannya.

Berbuat baik, akan tetapi tidak mengetahui tingkatan amalnya maka itu salah. misalnya ketika kita membaca Al Quran, sedangkan di saat itu ada tetangga yang sakit meminta bantuan, dan kita tetap membaca Al Quran, maka membaca Al Quran itu bisa menjadi MAKSIAT.Karena di saat yang sama kita meninggalkan yang ahsan.

Perintah ahsan disebutkan oleh Allah di dalam quran surat al-Mulk ayat 2,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dialah Allah, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Jadi yang jadi ukuran bukan banyaknya amal, tapi ahsannya atau baiknya amal. sementara amal yang ahsan itu adalah amal yang paling ikhlas,

Berkaitan dengan hal ini, Syekh Muhammad bin Ismail berkata bahwa manusia itu ada 3 dalam amalnya.

Yang pertama, amalnya ketika jauh dari manusia atau tersembunyi lebih baik daripada ketika dia berkumpul, maka dia orang yang dikaruniai Allah .

Kemudian yang kedua, orang yang amalnya ketika tersembunyi dari manusia sama dengan amalnya yang dia lakukan ketika berada dalam kumpulan manusia, maka dia adalah orang yang adil,

Dan yang ketiga, orang yang ketika tersembunyi dari manusia lebih buruk amalnya dibanding ketika dia berkumpul dengan manusia, maka dia kering hatinya.

Nah, sahabat hijrah, coba kita lihat diri kita masing-masing, apakah kita jadi orang yang pertama, kedua atau ketiga. Jangan-jangan jadi orang ketiga, kita bisa rugi serugi-ruginya, Naudzubillahimin dzalik.

Tahukah sahabat bahwa Amalan hati ini lebih besar pahalanya daripada amal dzahir, begitupun dengan dosanya juga lebih besar daripada amalan dzahirnya.

Contohnya adalah iblis. Iblis melakukan dosa berupa amalan hati, dia sombong dan merasa diri lebih baik dari Adam.

Sementara Adam pernah melakukan dosa berupa amalan jasad, yakni dengan memakan buah pohon yang terlarang, kemudian bertaubat kepada Allah dan mengakui dirinya sebagai orang yang dzalim.

Nah, dari dua hal ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dosa sombong iblis lebih besar dibanding dosa nabi Adam ketika makan buah terlarang, itu pun biasanya dosa sombong lebih kecil kemungkinan untuk disadari dan ditaubati, dibanding dosa lainnya.

Walaupun kita tahu bahwa tidak ada dosa yang kecil jika dibanding siapa yang kita durhakai, sebagaimana kata ulama, “Jangan kau pandang kecilnya dosa, tapi pandanglah siapa yang kau maksiati.” kata-kata yang sungguh indah.

Oleh karena itulah sahabat, Muraqabatullah merupakan amalan hati, dan amalan hati adalah amalan terberat bagi manusia.

Sahabat hijrah yang dimuliakan Allah, Semoga kita semua termasuk orang yang senantiasa merasa selalu diawasi oleh Allah , sekian, semoga Allah mempertemukan kita kembali di rubrik pemuda hijrah edisi mendatang.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 

%d blogger menyukai ini: