Perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT ke-35 Persatuan Negara-Negara Asia Tenggara atau ASEAN di Bangkok, Thailand, kembali berlanjut pada Ahad kemarin. Sejak Sabtu sebelumnya, para pimpinan ASEAN, termasuk Presiden Joko Widodo dan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa, terus menyoroti isu etnis Rohingya yang terusir dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Menlu Retno mengatakan bahwa Rata-rata para pemimpin ASEAN mendorong agar kemajuan dapat terus terjadi. Repatriasi pengungsi Rohingya yang sukarela, aman, bermartabat diharapkan dapat segera dilaksanakan dan ASEAN menyatakan kembali kesiapannya untuk membantu. Hal ini sebagaimana diungkapkan Retno dalam keterangan pers yang diunggah Sekretariat Presiden, kemarin. Dalam konteks ini, ASEAN telah sepakat untuk membentuk gugus tugas  yang akan memantau pelaksanaan repatriasi.

Pada Agustus 2017, lebih dari 700 ribu etnis Rohingya melarikan diri dari Rakhine dan mengungsi ke Bangladesh. Hal itu terjadi setelah militer Myanmar melakukan operasi brutal dengan dalih untuk menangkap gerilyawan Arakan Rohingya Salvation Army.

Masifnya arus pengungsi ke wilayah perbatasan Bangladesh segera memicu krisis kemanusiaan. Para pengungsi Rohingya terpaksa harus tinggal di tenda atau kamp dan menggantungkan hidup pada bantuan internasional. Investigator PBB telah menyimpulkan, yang dilakukan militer Myanmar terhadap etnis mayoritas Muslim serupa genosida alias pembersihan etnis. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: