Berkaitan dengan permasalahan ini, Al hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa Larangan sholat bagi wanita haid, adalah perkara yang telah jelas karena kesucian menjadi syarat dalam sholat dan wanita haid tidak dalam keadaan suci. Adapun puasa tidak ada syarat di dalamnya kesucian maka larangan puasa bagi wanita haid itu sifatnya adalah ta’abudi atau hal yang bersifat ibadah semata, sehingga butuh suatu nash pelarangan berbeda dengan sholat.

Jadi, tidak masalah seseorang yang merasa tanggung untuk makan karena dekat waktu maghrib, apalagi tujuannya untuk menghormati orang yang berpuasa. Selama dia tidak beranggapan bahwa puasanya masih sah maka tidak apa-apa. Beda halnya jika orang yang tidak mau makan dan minum karena beranggapan haidhnya tidak membatalkan puasanya, maka dia berdosa.

Jadi, larangan berpuasa bagi wanita haid ini sifatnya ta’abudi atau ibadah semata yang wallahu a’lam akan hikmah dibalik larangan tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa larangan ini merupakan bentuk rahmah Allah kepada para wanita, karena wanita dalam keadaan lemah ketika haid dan melakukan puasa, ketika itu tentu akan menambah kelemahan dan akhirnya akan membahayakan jiwa si perempuan. Wallahu a’lam.

Lalu hukum membaca doa qunut dalam shalat Witir –khususnya saat Qiyam Ramadhan- adalah sunnah. Para ulama  berbeda pendapat tentang waktu disyariatkannya pada shalat witir, ada yang berpendapat sepanjang tahun, ada juga yang berpendapat selama bulan Ramadha/ dan pada sejak pertengahan Ramadhan sampai akhir. Ringkasnya, bahwa di bulan Ramadhan pada shalat tarawihnya dianjurkan untuk berqunut pada witirnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun qunut dalam witir maka itu hukumnya boleh, dan tidak harus. Karena dari sebagian sahabat Nabi ada yang tidak qunut.

ada yang qunut pada pertengahan kedua dari Ramadhan, ada yang qunut sepanjang tahun.  Siapa yang mengerjakan salah satu darinya maka ia tidak dicela”.

Pilihan qunut atau tidak sama seperti pilihan apakah kita akan melakukan shalat witir tiga rokaat atau lima rokaat.

Adapun bacaan qunut itu sendiri Disebutkan oleh Al-Tirmidzi, bahwasanya Nabi mengajari Al-Hasan doa dalam qunut. Dan diriwayarkan pula oleh Al-Tirmidzi dan Ahmad serta yang lainnya, Al-Hasan bin Ali berkata, Rasulullah mengajariku beberapa kalimat yang aku baca dalam qunut witir,

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Ya Allah berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku keafiatan bersama orang-orang yang telah Engkau beri keafiatan. Lindungi aku bersama orang-orang yang telah Engkau lindungi. Berkahilah aku dalam apa yang Engkau telah berikan kepadaku. Selamatkanlah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan. Karena sesungguhnya Engkau-lah yang menetapkannya dan tidak lah Engkau dikenai ketetapan itu. Sesungguhnya tidak akan terhina orang yang Engkau cintai. Maha suci dan Mahatinggi Engkau, Wahai Rabb kami”.

Adapun mengenai pelaksanaannya, paling utama dikerjakan sebelum ruku. Walaupun jika dikerjakan sesudah ruku maka tak mengapa. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, “bahwasanya Rasulullah mengerjakan shalat witir, lalu beliau qunut sebelum ruku”.

Ringkasnya, bahwa qunut dalam shalat witir selama tarawih memiliki landasan yang kuat. Artinya disunnahkan. Walaupun jika tidak qunut tidak bisa disalahkan. Boleh dikerjakan selama bulan Ramadhan. Boleh juga setelah masuk pertengahan keduanya. Waktu paling utamanya sebelum ruku’, walaupun kalau ba’da ruku’ juga dibolehkan. Dan mencukupkan doa yang ma’tsur tanpa menambahnya dengan doa sangat panjang itu yang lebih selamat dan mendekati kebenaran.

%d blogger menyukai ini: