Bangladesh telah mengonfirmasi akan mencabut pembatasan pendidikan bagi para pengungsi muda Rohingya. Keputusan ini menjadi peraturan yang melonggarkan setelah sekian lama dinanti.  Langkah pemerintah mengizinkan sekolah bagi anak-anak berusia 11 hingga 13 tahun telah diterima secara luas oleh para aktivis dan guru.  Menteri Luar Negeri Bangladesh,  Abdul Momen mengatakan Bangladesh ingin generasi muda rohingya memiliki pendidikan yang layak. Adapun sistem pembelajarannya, mereka akan mengacu pada kurikulum Myanmar.

Di masa lalu, beberapa pemuda Rohingya yang putus asa akan pendidikan telah memalsukan kartu identitas warga Bangladesh. Hal itu dilakukan agar mereka dapat mendaftarkan diri secara diam-diam di sekolah. Pada 2019, Bangladesh mengeluarkan perintah bagi sekolah-sekolah lokal untuk mengeluarkan semua pemuda Rohingya.

PBB menjelaskan, sektor pendidikan untuk kemanusiaan di Cox’s Bazar berencana untuk mengujicoba pengenalan kurikulum Myanmar di kamp-kamp pengungsi Rohingya mulai bulan April. Untuk awal, program ini akan menargetkan 10 ribu siswa Rohingya di kelas enam hingga sembilan.

%d blogger menyukai ini: