Berbakti kepada kedua orang tua dalam kebaikan adalah kewajiban. tidak memandang siapa orang tuanya. Bahkan orang tua yang kafir sekalipun wajib ditaati, selama dalam hal hubungan baik antar sesama manusia, khususnya sesama orang tua dan anak. Selama kedua orang tuanya tidak memerintahkan kepada keburukan dan kekafiran.

Lalu, Bagaimana seorang anak harus bersikap terhadap orang tuanya yang masih kafir ?.

Kisah Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas dan ibunya dapat dijadikan sebagai pelajaran.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Diceritakan bahwa ibunya Sa’ad bin Abi Waqash bersumpah tidak akan berbicara kepada anaknya. Ibunya juga  tidak mau makan dan minum karena menginginkan Sa’ad murtad dari ajaran Islam.

Ibu Sa’ad mengetahui bahwa  dalam ajaran islam, Allah menyuruh seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya berkata. “Aku tahu Allah menyuruhmu berbuat baik kepada ibumu, maka aku menyuruhmu untuk keluar dari ajaran Islam .”

Kemudian selama tiga hari ibu Sa’ad tidak makan dan minum, ia bersumpah tidak akan menyentuh makanan sebelum Sa’ad murtad dari Islam.

Sebagai seorang anak Sa’ad tidak tega dan merasa iba kepada ibunya. Berkaitan dengan kisah Sa’ad ini Allah menurunkan wahyu seperti yang terdapat pada surat Al-Ankabut ayat 8.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

Artinya :”Dan Kami berwasiat kepada manusia agar berbakti kepada orang tuanya dengan baik, dan apabila keduanya memaksa untuk menyekutukan Aku yang kamu tidak ada ilmu tentangnya, maka janganlah taat kepada keduanya.”

Turunnya ayat ini membuat Sa’ad semakin bertambah mantap keyakinannya. Akhirnya Sa’ad membuka mulut ibunya dan memaksa ibunya untuk makan. Dengan demikian Sa’ad tidak berbuat kufur kepada Allah dan juga bisa berbuat baik kepada ibunya.

Para Ulama mengambil dalil dari ayat ini tentang wajibnya berbakti dan bersilaturahmi kepada kedua orang tua. meskipun keduanya masih kafir. Kafir yang dimaksud pada permasalahan ini bukan kafir harbi atau kafir yang menentang dan memerangi Islam.

Jika orang tuanya tidak kafir harbi, dalam artian tidak menyerang kaum muslimin, maka hendaklah bergaul dengan mereka dengan baik dan bersilaturahmi kepada keduanya.

Hal tersebut didasarkan kepada surat Luqman ayat 15.

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Artinya: “Dan pergaulilah kepada keduanya dalam kehidupan dunia dengan cara yang ma’ruf.”

Kisah tentang bakti kepada orang tua yang kafir juga bisa kita ambil dari kisah Asma binti Abu Bakar ash-Shidiq . Ketika ibunya yang masih dalam keadaan musyrik akan datang untuk berkunjung kepadanya, Asma meminta fatwa kepada Rasulullah . Kemudian Rasulullah bersabda.

“Hendaklah kamu menyambung silaturahmi kepada ibumu.” Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.

Secara fitrah, seorang anak akan mencintai orang tuanya karena merekalah yang melahirkan serta mengurusnya, tapi jika mencintai kekufuran mereka maka tidaklah dibenarkan. Kita mencintai mereka karena merekalah ibu bapak kita yang telah mengurus dan menyayangi kita dengan sepenuh hati mereka.

Semoga menjadikan kita sebagai anak yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tua. Jangan sampai kita membenci orang tua hanya karena kesalahan sepele. Jangan pula membenci mereka hanya karena mereka tidak mengenal islam dengan baik, dan bertentangan dengan pemahaman kita. dakwahi mereka dengan baik dan lemah lembut dan penuh dengan kesabaran.

Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: