Pembaca yang budiman di manpun Anda berada. sesungguhnya Allah telah menentukan segala perkara untuk makhluk-Nya sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak-Nya. Maka, semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu, kekuasaan dan kehendak Allah ,namun tidak terlepas dari kehendak dan usaha hamba-Nya.

Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana caranya mengimani takdir Allah -st-. Karenanya pada kesempatan kali ini kita akan ulas sedikitnya mengenai iman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Pembaca yang budiman. Takdir atau qadar adalah perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah dan telah dituliskan semuanya berupa segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak-Nya. Maka, semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu, kekuasaan dan kehendak Allah .

Allah berfirman dalam Q.S Al-Qamar ayat 49,

إنا كل شىء خلقنه بقدر

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.  (Qs. Al-Qamar: 49)

Kemudian di ayat lain Allah berfirman,

وخلق كـل شىء فقدره تقديرا

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (QS. Al-Furqan: 2)

Pembaca yang budiman di manapun anda berada. Mengimani takdir baik dan takdir buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak dikatakan beriman seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku adalah atas ketentuan dan takdir Allah.

Rasulullah bersabda,

لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خبره وشره حتى بعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya”.  (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Jibri pernah bertanya kepada Nabi mengenai iman, maka beliau menjawab,

الإيمان أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره

“Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk”. (HR. muslim)

Pembaca yang  dirahmati Allah -st-.

Beriman kepada takdir tidak akan sempurna kecuali dengan empat tingkatan. Keempat perkara ini adalah pengantar untuk memahami masalah takdir. Barangsiapa yang mengaku beriman kepada takdir, maka dia harus merealisasikan keempat tingkatan ini, karena antara tingkatan ke tingkatan berikutnya tersebur saling berkaitan. Barang siapa yang mengakui semuanya, baik dengan lisan, keyakinan dan amal perbuatan, maka keimanannya kepada takdir telah sempurna. Namun, barang siapa yang mengurangi salah satunya atau lebih, maka keimanannya kepada takdir telah rusak.

Adapun tingkatan yang Pertama adalah al-‘Ilmu.

Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali mengenai apa-apa yang telah terjadi, dan yang akan terjadi, serta apa yang tidak terjadi, baik secara global maupun terperinci, di seluruh penjuru langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui semua yang diperbuat makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan. Allah mengetahui rizki, ajal, amal, gerak, dan diam mereka, serta mengetahui siapa di antara mereka yang sengsara atau bahagia.

Allah telah berfirman,

ألم تعلم أن الله يعلم ما فى السـماء والأرض ۗإن ذلك فى كتـب ۚإن ذلك على الله يسر

“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.  (QS. Al-Hajj: 70)

إن الله بكل شيء عليم

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu”.  (QS. At-Taubah: 115)

Pembaca yang  dirahmati Allah .kemudian tingkatan yang Kedua adalah al-Kitaabah  atau Penulisan.

Yaitu, mengimani bahwa Allah telah menuliskan apa yang telah diketahui-Nya berupa ketentuan-ketentuan seluruh makhluk hidup di dalam al-Lauhul Mahfuzh. Suatu kitab yang tidak meninggalkan sedikit pun di dalamnya, semua yang terjadi, dan yang akan terjadi, serta segala yang telah terjadi hingga hari Kiamat, ditulis di sisi Allah dalam Ummul Kitab.

Allah berfirman dalam QS. Yaasiin ayat 12

و كل شيء أحصينه فى إمام مبـين

“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Yaasiin: 12)

Kemudian.

ما أصاب من مصيبة فى الأرض ولا فى أنفسكم إلا فى كـتب من قبل أن نبرأهاۚإن ذلك على الله يسر

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya”.  (QS. Al-Hadiid: 22)

Pembaca yang  dirahmati Allah .

Dan Rasulullah bersabda,

كتب الله مقادير الخلا ئق قبل أن يخلق السماوات زالأرض بخمسبن ألف سنة

“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”. (HR. muslim)

Oleh karena itu, apa yang telah ditakdirkan oleh Allah atas kita pasti akan terjadi tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak akan terjadi pasti tidak akan,sekalipun seluruh manusia dan golongan jin mencoba mencelakainya.

Pembaca yang  dirahmati Allah .

Tingkatan yang Ketiga adalah al-Iraadah dan Al Masyii-ah, Keinginan dan Kehendak.

Yaitu, bahwa segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi adalah sesuai dengan keinginan dan kehendak Allah yang bersumber rahmat dan hikmah-Nya. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya , dan menyesatkan siapa yang dikehendaki dengan hikmah-Nya. Dia tidak boleh ditanya mengenai apa yang diperbuat-Nya karena Dia telah sempurna segala perbuatan-Nya, tetapi kita, sebagai makhluk-Nya yang akan ditanya tentang apa yang terjadi pada kita, sesuai dengan firman-Nya,

لايسئل عما يفعل وهم يسئلون

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanya”.  (QS. Al-Anbiyaa’: 23)

Kehendak Allah itu pasti terlaksana, juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya.

Pembaca yang  dirahmati Allah -st-.

Demikianlah pembahasan kita kali ini yaitu tentang beriman kepada takdir Allah dalam pandangan ahlus sunnah bagian pertama, dan kita akan lanjut ke bagian kedua di kesempatan yang akan datang, semoga dengan pembahasan kali ini kita semakin yakin terhadadap takdir Allah yang baik maupun yang buruk semua atas kehendak-Nya. Wallahua’lam.,

 

%d blogger menyukai ini: