Pembaca yang budiman, Sebagaimana dijelaskan pada kajian sebelumnya, bahwa Allah telah menuliskan takdir di lauhul mahfudz lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Namun Al Qur’an dan As Sunnah menunjukan bahwa ada penetapan takdir dalam waktu yang lain. Yaitu ketika seseorang masih berada di rahim ibunya. Kemudian takdir tahunan yang ditetapkan setaun sekali pada malam lailatul Qodar, dan takdir harian yang ditetapkan setiap hari.

Pembaca yang budiman, Mengenai penulisan takdir ketika di rahim ditunjukan oleh hadits ibnu Mas’ud Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah , kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari pula. Kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.” (H.R Bukhari).

Ibnu katsir rahimahullah berkata, “yaitu pada malam lailatul Qodar diputuskan dari lauhul mahfudz untuk dituliskan peristiwa yang akan terjadi selama satu tahun berkaitan dengan ajal, rizki dan lainnya dalam tahun itu”.

Para ulama menafsirkan ayat ini, “kesibukan-Nya adalah memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan merendahkan, memberi dan menahan, mengayakan dan memisikinkan, menghidupkan dan mematikan dan sebagainya”.

Pembaca yang budiman. Wajib bagi manusia untuk mengimani takdir Allah dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya. Maka seorang Muslim, jika dia berbuat baik, dia bersyukur kepada Allah dan jika dia berbuat dosa, dia akan beristighfar atau bertaubat kepada Allah dan siapa yang terus terusan berbuat dosa dengan alasan takdir, maka dia telah mengikuti musuhnya, Iblis La’natullah ‘Alaih.

Kemudian, seorang Muslim juga harus berusaha untuk kebaikan duniawinya, dengan bekerja, berusaha, mencari nafkah untuk keluarga dan sebagainya. Tidak berpangku tangan dengan alasan takdir. Jika ternyata hasil usahanya sukses, maka dia bersyukur kepada Allah Tapi jika ternyata gagal, maka dia meyakini bahwa itu merupakan kehendak Allah dan apa yang menimpanya sudah ditakdirkan oleh Allah untuknya, tentu dengan berbaik sangka kepada Allah, bahwa itu adalah yang terbaik baginya. Tidaklah ada kehendak Allah kecuali mengandung hikmah yang Allah ketahui dengan ilmu-Nya.

Pembaca yang budiman. Ada dua kelompok yang salah memahami takdir Allah, yaitu,

Yang pertama, kelompok ini dinamakan dengan Qodariyah, mereka mengatakan bahwa Allah tidak mentakdirkan perbuatan hamba-Nya. Seorang manusia secara mutlak bebas melakukan perbuatannya tanpa campur tangan Allah.

Adapun yang kedua, adalah kelompok yang dinamakan dengan Jabariyah, mereka mengatakan bahwa Allah menakdirkan segala sesuatu, akan tetapi manusia tidak punya pilihan atas perbuatannya, manusia dipaksa untuk melakukan perbuatkannya, jadi manusia seperti robot yang diatur oleh remot.

Adapun keyakinan yang benar adalah, bahwa Allah menghendaki segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia

Akan tetapi meskipun begitu, hal ini tidak menafikan bahwa manusia juga diberi otak untuk berpikir, diberikan kebebasan untuk memilih, dan tidak dipaksa atas perbuatannya,

Juga firman Allah,

Bahkan Allah telah menunjukan jalan kepada manusia, mengutus para Rosul-Nya, dan menurunkan kitab-Nya, menyuruh untuk berbuat kebaikan, dan melarang untuk berbuat dosa. Allah berfirman,

Kemudian Apa perbedaan antara qadha dan qadar?

Dua kata ini banyak kita jumpai dalam Al Qur’an dan As Sunnah, Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa qadha dan qadar maknanya sama, tidak ada perbedaan sama sekali.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Qodar adalah penetapan, adapun yang dimaksud dengan Qodho adalah penciptaan sudah Dia tetapkan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa takdir ada empat tingkatan, ketika Allah berkehendak kemudian menuliskan-Nya ini yang dinamakan qadar. Kemudian ketika terjadi dan diciptakan ini yang dinamakan qadha. Maka dua hal ini sesuatu yang berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

Tapi yang paling benar adalah, bahwa kata qadha dan qadar ketika dipisah, disebutkan sendiri-sendiri. Ketika disebut kata qadha maka masuk di dalamnya qadar. Dan ketika disebut kata qadar masuk di dalamnya qadha. Namun ketika kedua duanya disebutkan secara bersamaan, maka qadha dan qadar memiliki makna masing masing sebagaimana yang telah disebutkan.

Pembaca yang budiman. lantas apa hikmahnya Allah menciptakan keburukan dan mentakdirkannya?.

Memang seebagian orang sering bertanya-tanya akan hal ini. Jika Allah Maha kuasa, dan Allah memerintahkan kepada kebaikan, kenapa Allah menghendaki keburukan dan mentakdirkannya? Jawaban hal ini adalah, Allah tidak menghendaki dan menciptakan sesuatu yang bersifat buruk secara mutlak. Tapi dalam setiap keburukan yang Allah ciptakan, pasti terkandung hikmah yang baik. Dalam artian dari satu sudut pandang memang terlihat sesuatu yang buruk, namun jika dilihat dari sudut pandang lain akan terlihat bahwa disana ada hikmah yang baik yang Allah kehendaki.3

Sebagai contoh, kenapa Allah menciptakan iblis? bukankah iblis dan bala tentaranya menyesatkan manusia dari jalan Allah? Jawabannya, karena Allah menghendaki dengan adanya iblis manusia akan teruji, mana yang benar-benar beriman dan mana yang hanya main-main. Allah ingin mengangkat derajat orang beriman dengan ujian berupa iblis.

Itulah Pembaca, hikmah Allah dalam penciptaan-Nya. intinya Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan tanpa hikmah.

Pembaca yang budiman, demikianlah pembahasan tentang takdir Allah menurut Ahlus Sunnah, semoga dapat menambah keimannan kita kepada rukun iman yang keenam ini. Walllahua’lam.,

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

%d blogger menyukai ini: