Pada edisi yang lalu kita sudah membahas mengenai beberapa bencana yang dapat ditimbulkan oleh lidah jika tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat sampai dengan point yang ketiga Adapun kelanjutannya.

Yang keempat Mengucapkan Perkataan Keji, kotor, Celaan, Dan Semacamnya.

Semua hal ini tercela dan terlarang. Nabi bersabda:

“Seorang Mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji buruk akhlaqnya, dan bukan orang yang kotor omongannya”  Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ahmad.

Betapa banyak perkataan keji dan kotor tersebar di zaman ini, di koran-koran, majalah-majalah, buku-buku, novel-novel, radio, HP, atau lainnya. Bahkan ada perkara yang lebih buruk dan lebih keji dari sekedar ucapan! Namun yang bisa merasakan keburukannya adalah orang-orang yang hatinya masih hidup.

Sedangkan orang yang hatinya sakit atau mati, maka dia tidak akan merasakan keburukannya, bahkan mungkin sebaliknya, dia akan merasa nikmat. Sebagaimana luka yang hanya dirasakan oleh orang yang masih hidup, sedangkan orang yang mati, dia tidak akan merasakan sakit akibat luka Wallohul Musta’an.

Yang kelima Keterlaluan Dalam Bercanda.

Yaitu semua waktunya digunakan untuk bercanda dan membuat orang tertawa. Padahal dengan banyak canda akan menjatuhkan wibawa, menyebabkan dendam dan permusuhan, serta mematikan hati. Nabi bersabda:

“Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu akan mematikan hati. Hadits Riwayat Ibnu Majah.

Apalagi jika banyak bercanda ini ditambahi dusta, maka jelas akan lebih berbahaya lagi. Nabi memperingatkan hal tersebut dengan sabda Beliau: “Kecelakaan bagi orang yang menceritakan suatu lalu dia berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya! Kecelakaan baginya!” Hadits Riwayat Tirmidzi Abu Dawud.

Di zaman dahulu, bercanda dan membuat tertawa itu hanyalah dilakukan oleh pribadi-pribadi tertentu. Namun sekarang, grup lawak bermunculan seperti jamur di musim hujan diperlombakan dan dipertontonkan serta dibayar dengan honor tinggi. Setan telah menjerat banyak orang dalam kesesatan dan memanfaatkan mereka sebagai perangkap. Semoga Alloh menjaga kita dari segala jebakan setan. Aamiin.

Jika canda itu dilakukan kadang-kadang dan dengan perkataan yang benar serta dilakukan kepada orang-orang yang membutuhkannya, seperti anak-anak, wanita, sebagian orang laki-laki, sebagaimana canda Nabi maka hal itu tidak mengapa. Karena canda akan menyenangkan hati dan menyegarkan suasana. Sebagian Ulama menyatakan bahwa “Canda dalam perkataan itu seperti garam dalam makanan. Tiadanya menjadi hambar, berlebihnya membuat tak lagi nikmat.

Selanjutnya, yang keenam Membicarakan Suatu Yang Bathil.

Maksudnya adalah menceritakan perbuatan-perbuatan maksiatnya seperti berbangga dengan perbuatan bermabuk-mabukan atau kemungkaran yang lain. Nabi bersabda:

“Semua umatku mu’âfan akan diampuni dosanya, atau tidak boleh dighibah, kecuali orang-orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan buruk pada malam hari, kemudian di waktu pagi dia mengatakan, ”Hai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan ini”.

Padahal di waktu malam Alloh telah menutupi perbuatan buruknya, namun di waktu pagi dia membongkar tutupan Alloh”  Hadits Riwayat Bukhori Muslim.

Oleh karena itulah hendaknya kita menutupi aib diri kita sendiri, tidak perlu bercerita kepada orang lain, apalagi aib orang lain kita sudah seharusnya menutupnya rapat-rapat.

Yang ketujuh Perkataan Yang Salah Berkaitan Dengan Masalah Agama Apalagi Jika Berkaitan Dengan Sifat-Sifat Alloh

Kesalahan lisan yang satu ini, tentu susah diatasi kecuali oleh para ahli ilmu dan ahli bahasa. Orang yang malas atau tidak bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan bahasa, maka perkataannya tidak akan lepas dari ketergelinciran. Semoga Alloh mema’afkan kesalahan akibat ketidaktahuan. Aamiin

Diantara contoh perkataan yang salah berkaitan dengan masalah agama yaitu perkataan “Apa yang Alloh dan engkau kehendaki”. Dalam hadits dijelaskan

“Dari Ibnu Abbas dia berkata: Rosululloh mendengar seorang laki-laki berkata: “Masya Alloh wa syi’ta” apa yang Alloh dan engkau kehendaki, maka Beliau bersabda, “Bukan begitu tetapi katakanlah, “Masya’Alloh wahdah”, apa yang dikehendaki oleh Alloh semata. Hadist Riwayat Ahmad.

Hikmah larangan ucapan “Masya’ Allah wa syi’ta” yang artinya, apa yang Alloh dan engkau kehendaki, dan semacamnya adalah karena ucapan itu merupakan bentuk menyekutukan kehendak Alloh Karena kata sambung “dan” bermakna mengumpulkan, menyamakan dan menyekutukan. Yang benar, dalam menggabungkan kehendak hamba dengan kehendak Alloh ialah dengan menggunakan kata “kemudian”.  Karena kata “kemudian” mengandung makna urutan, berikutnya, dan ada selang waktu. Hal ini karena kehendak Alloh mendahului kehendak hamba. Maka tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi kecuali yang dikehendaki oleh Alloh Semua yang Alloh ‘Azza wa Jalla kehendaki maka pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.

Selain yang telah disebutkan tadi sesungguhnya bencana-bencana lidah masih banyak seperti ghibah namimah dusta, dan lain sebagainya, mudah-mudahan penjelasan ini sebagai pemacu bagi kita semua untuk selalu menjaga lidah kita dari keburukan dan selalu menghiasinya dengan kebaikan.

Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Marilah kita jaga diri kita dari perbuatan-perbuatan yang berakibat buruk pada diri kita sendiri. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada kita, untuk mengisi hari-hari kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhi hal yang tidak bermanfaat. Aamiin. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

 

 

 

%d blogger menyukai ini: