إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ،َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.، أَمَّا بَعْدُ

Pembaca yang budiman dimana saja anda berada. Pada pertemuan sebelumnya telah kita bahas bersama sebanyak 4 buah dari Ittiba atau mengikuti Rosululloh diantaranya adalah Mahabbatulloh yaitu mendapatkan kecintaan Alloh sekaligus pengampunan, lalu yang kedua; akan memperolah rahmat dari Alloh yang ketiga akan mendapatkan tambahan petunjuk dari Alloh atau hidayatulloh sedangkan yang keempat; akan dikumpulkan bersama orang-orang pilihan di surga.

Baiklah Pembaca. pada edisi kali ini kita masih akan melanjutkan pembahasan buah dari Ittiba atau mengikuti Rosululloh  Berikut ini adalah buah ittiba’ kepada Rosululloh yang kelima:

 

Yaitu; Nadharatul Wajhi. Salah satu bentuk ittiba’ Rosululloh adalah mendengarkan, mempelajari, menghafal, dan memahami hadits Rosululloh kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Orang yang mempelajari hadits Rosululloh menghafal kemudian menyampaikannya apa adanya tanpa menambah atau mengurangi, maka Alloh akan membuat wajahnya berseri dan bersinar.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi, rosululloh bersabda;

« نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

 “Semoga Alloh menyinari wajah seseorang yang mendengar hadits dari kami, lalu ia hafal sehingga ia menyampaikannya kepada orang lain. Boleh jadi seorang pembawa fiqih menyampaikan ilmunya kepada orang yang lebih paham. Dan boleh jadi pembawa fiqih bukanlah seorang yang faqih.”

 

Pembaca. Hadits ini mendorong kita untuk selalu bersemangat mempelajari, memahami, dan menghafal hadits Rosululloh kemudian menyampaikan teks hadits itu apa adanya dengan penuh amanah tanpa menambah atau mengurangi sedikitpun. Jika kita itu kita lakukan kita berhak mendapatkan wajah yang bersinar di hari kiamat nanti.

 

Hadits di atas juga menyatakan bahwa mungkin saja orang yang disampaikan kepadanya suatu ilmu kemudian ia lebih paham daripada yang menyampaikan. Atau bahkan bisa jadi yang menyampaikan sebuah riwayat tidak memahami riwayat tersebut, sedangkan yang disampaikan justru memahaminya dengan baik.

 

Orang yang mencintai Rosululloh maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk ittiba’ kepada Rosululloh dengan mengikuti sunnah beliau. Maka orang ini akan bersama Rosululloh di surga, seperti sabda beliau sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi:

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِى فَقَدْ أَحَبَّنِى وَمَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِى فِى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku; dan barangsiapa mencintaiku, maka ia bersamaku di surga.”

Yang selanjutnya adalah Izzatun Nafsi.

Orang yang mengikuti Rosululloh dengan ikhlas semata-mata karena mencintai Alloh dan Rosul-Nya, akan meraih kemuliaan dan kekuatan jiwa dihadapan Alloh Betapa tidak? Ia telah mendapatkan kecintaan, ampunan, rahmat, hidayah, dan berbagai anugrah lain dari Alloh  Dengan itu semua terangkatlah dirinya menuju tempat yang tinggi dan mulia, ia tidak lagi peduli dengan kemuliaan di mata manusia selama ia mulia di sisi Alloh.

Ingatlah, kemuliaan itu terletak pada mengikuti Alloh Al-‘Aziz yang memiliki kemuliaan atau keperkasaan dan mengikuti Rosul-Nya.

Kebahagiaan. Alloh berirman dalam surat al A’rof ayat 157:

Yang Artinya; “ Yaitu orang-orang yang mengikut rosul, Nabi yang Ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya Al Quran, mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

 

Keberuntungan pasti akan diperoleh oleh mereka yang selalu ittiba’ kepada Rosululloh -saws-dengan beriman kepadanya, memuliakannya, menolong ajarannya, dan selalu mengikuti cahaya Al-Qur’an.

 

Kemudian buah yang kesembilan adalah Kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

Pembaca. Tak dapat diragukan lagi bahwa orang yang mendapatkan semua nilai dari mengikuti Rosululloh tersebut adalah orang-orang yang pasti berbahagia hidupnya dengan kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akhirat.

Siapa saja yang senantiasa berittiba kepada Rosululloh dalam setiap ibadahnya. Semoga bermanfaat, wallohu a’lam, wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

%d blogger menyukai ini: