Partai Komunis Cina yang merupakan partai pemerintah dilaporkan telah mengindoktrinasi imam-imam di Xinjiang untuk menyebarkan komunisme kepada umat Islam. Setelah pelatihan selesai, para imam harus menulis esai tentang apa yang telah mereka dapatkan dari belajar. Sebagai aturan, peserta menerima sertifikat penyelesaian setelah pelatihan.

Seorang imam mengatakan bahwa Pemerintah meminta para profesor untuk mengindoktrinasi mereka. Setelah pulang, para imam diharuskan menyebarkan apa yang mereka pelajari kepada jamaah.

Para imam itu merasa sangat tidak berdaya di bawah kondisi yang diterapkan negara tersebut kepada mereka. bahkan ada kamera pengintai di masjid. Sehingga hukuman akan mengancam para imam jika mereka tidak melaksanakan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah.

Kebijakan indoktrinasi yang digunakan kepada para imam telah memicu ketidakpuasan di antara beberapa Muslim di Provinsi Qinghai. Umat Islam setempat meyakini bahwa para imam yang telah menyelesaikan pelatihan pemerintah berbicara seperti pejabat pemerintah, beberapa bahkan mendistorsi kitab suci dan ajaran Islam.

Ketidakpuasan umat Islam tidak justru malah disikapi tindakan keras pemerintah cina. Pada tanggal 9 Agustus 2019 lalu, pemerintah menutup sebuah masjid di kota Xining selama sholat Jumat. Menurut jamaah masjid itu, alasan sebenarnya dari penutupan masjid adalah bahwa jamaah menolak untuk menerima imam yang ditunjuk oleh pemerintah. (jurnalislam.admin)

 

%d blogger menyukai ini: