Pembaca yang budiman. Mengajak manusia menuju agama Alloh merupakan salah satu ibadah yang agung, manfaatnya menyangkut orang lain. Bahkan dakwah menuju agama Alloh merupakan perkataan yang paling baik. Alloh berfirman, di dalam Surat Fushilat ayat 33, yang berbunyi,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Alloh, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Dakwah mengajak kepada kebenaran merupakan tugas para Nabi, maka cukuplah sebagai kemuliaan bahwa para da’i mengemban tugas para Nabi, dan dengan berdakwah inilah kita telah mengamalkan suatu amalan yang terbaik dan mulia, yakni amalan para Nabi yang mulia. FirmanNya, yang terdapat di dalam Surat Yusuf ayat 108,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَ مَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya, “Katakanlah, “Inilah jalanku yakni agamaku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Alloh dengan hujjah yang nyata yakni ilmu dan keyakinan. Maha suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Yang sangat disayangkan, fenomena yang terjadi pada zaman ini, yang sebagian “mubaligh” membuat tarif untuk tablighnya atau dakwahnya. Padahal hal tersebut merupakan perkara yang menyelisihi syari’at.

Sebagian ada yang memasang tarif untuk berceramah di kota misal yang dekat dengan tariff 500 ribu setiap jamnya, atau bahkan bisa mencapai jutaan. Semakin jauh tempat yang dituju atau semakin lama durasinya untuk berceramah, semakin tinggi pula tarifnya!. Wal’iyadzubillah.

Seandainya yang disampaikan oleh para mubaligh itu merupakan kebenaran, maka memasang tarif dalam dakwah itu merupakan kesalahan,

apalagi jika yang disampaikan di dalam ceramah-ceramah itu ternyata dongeng-dongeng, lelucon-lelucon dan nyanyian-nyanyian yang dibumbui dengan nasihat-nasihat agama, maka itu merupakan kemungkaran, walaupun dinamakan dengan nama yang indah. Karena hal itu bertentangan dengan jalan para Nabi dalam berdakwah.

Namun, jika seseorang berdakwah dengan benar dan ikhlas, kemudian dia diberi harta, sedangkan dia tidak mengharapkannya dan tidak memintanya, tujuannya hanyalah berdakwah, baik dia mendapatkan harta itu atau tidak, maka insya Alloh menerimanya tidak mengapa. Umar  pernah berkata,

“Dahulu Rosululloh memberikan pemberian kepadaku, kemudian aku mengatakan, “Berikan kepada orang yang lebih miskin daripada aku”. Maka Beliau bersabda, ”Ambillah itu!. Jika datang kepadamu pemberian, sedangkan engkau tidak mengharapkan untuk diberi, dan tidak meminta, maka ambillah itu!. Dan yang tidak, maka janganlah engkau mengikuti hawa-nafsumu terhadapnya!”. Hadits Riwayat Bukhori.

Dengan demikian, maka sepantasnya seorang da’i juga memiliki pekerjaan dan usaha untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga dia tidak menggantungkan kepada umat. Karena sesungguhnya makanan terbaik yang dimakan oleh seseorang ialah hasil keringatnya sendiri. Nabi bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seorangpun memakan makanan sama sekali yang lebih baik daripada dia makan dari pekerjaan tangannya. Dan sesungguhnya Nabi Alloh, Dawud dia makan dari pekerjaan tangannya”. Hadits Riwayat Bukhori.

Pembaca yang budiman. Sungguh, dakwah ini adalah suatu perkara yang sangat mulia dan terbaik di sisi Alloh Maka ketika kita tidak melaksanakannya sesuai aturan yang telah Alloh tetapkan, sungguh sangat hinalah diri kita yang lemah ini. Semoga kita dijauhkan dari hasutan dan niat-niat yang membuat amal dakwah kita rusak. Aamiin. Wallohu a’lam.

%d blogger menyukai ini: