Pembaca yang budiman dimana saja saat ini anda berada, setelah kepergian 2 orang pembela dan pendukung dakwah Nabi , yaitu Istri beliau Khodijah binti Khuwailid dan paman beliau, Abu Tholib, Pada bulan Syawal tahun kesepuluh dari Kenabian, atau yang bertepatan dengan akhir bulan Juni tahun 619 Masihi, Rasulullah keluar menuju Tha’if, yang terletak tidak jauh dari kota Makkah untuk mendakwahkan islam.

Dengan berjalan kaki beliau dan Zaid bin Haritsah menyusuri jalan terjal menuju Thoif.  Setiap qabilah yang beliau lewati dalam perjalanan ke Ta’if, diseru oleh beliau kepada Islam, namun tidak seorang pun yang menerima dakwah beliau. Kemudian setibanya beliau di Tha’if, beliau langsung mendatangi tiga bersaudara pimpinan Bani Thaqif yaitu Abdul Yalii, Mas’ud dan Habib bin Amru bin Umair al-Tsaqafi. Di sana menyeru mereka kepada Islam dan menolong agama Alloh tersebut, tetapi mereka malah menolak dan mencerca dakwah beliau. Salah seorang dari mereka berkata, “ Allah telah mengoyak tirai Ka’bah sekiranya engkau yang diutuskan sebagai nabi.” Kemudian seorang lagi dari mereka mengatakan, “Tak ada orang lainkah untuk diutus Allah selain dari engkau.” Dan orang yang ketiga mengatakan, “Demi Allah aku tidak mau berbicara denganmu. Jika engkau seorang utusan Allah, maka engkau adalah lebih baik untuk menjawab persoalan itu,namun kalau engkau berdusta maka tidak seharusnya bagiku untuk menjawabnya.”  Mendenar penolakan dan cercaan tersebut, Rasulullah pun bangun dan meminta supaya mereka tidak melebih-lebihkan perbincangan tersebut.

Pembaca yang budiman, Rasulullah berada di kalangan penduduk Ta’if selama sepuluh hari, dengan mengajak mereka kepada Islam, tidak ada satu pun seorang pembesar qobilah yang tidak didakwahi oleh beliau, tetapi mereka malah menolak dan mengusir beliau dari Thoif. Mereka berkata, “keluarlah kamu dari bumi (Thoif) ini!”.

Bukan hanya itu, mereka juga memprovokasi dan menyeru orang-orang yang bodoh dan hamba-hamba sahaya mereka, supaya memaki Rasulullah . Bahkan untuk mengusir beliau, mereka berbaris disepanjang jalan keluar Ta’if, untuk melemparkan batu-batu kerikil yang disertai caci maki dan celaan kepada Rosululloh , kaki dan kepala belau terluka  dan mengeluarkan darah. Tidak rela melihat beliau diperlakukan seperti itu, Zaid bin Haritsah yang menemani beliau ke Thoif pun melindungi Rasulullah dengan tubuhnya sendiri dari lemparan bebatuan tersebut, hingga terluka kepalanya.

Pembaca, penduduk Thoif yang terhasut dengan kata-kata kotor para pembesarnya terus melemparkan batu-batu kerikil, hingga terpaksa Rasulullah berlindung di balik tembok Utbah dan Syaibah, dua orang anak lelaki Rabi’ah. Setelah berlindung di balik tembok tersebut, barulah anak-anak kecil dan hamba sahaya kaum di Ta’if berhenti melempari Nabi dengan batu-batu kerikil. Kemudian Rasulullah berteduh di bawah rindangnya pepohonan di kebun anggur dan menyandarkan tubuhnya ke salah satu dindingnya, lalu berdoa kepada Allah dengan doa yang amat terkenal, doa itu membayangkan isi hati Rasulullah yang dipenuhi dengan dukacita yang amat sangat. Beliau berdoa,

Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, Dan sedikitnya kemampuanku,
Serta kehinaanku dihadapan manusia. Wahai Sebaik-baik pemberi kasih sayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku, Kepada orang yang jauh yang menggangguku, Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku, Asalkan Engkau tidak marah padaku maka tiadalah keberatan bagiku, Akan tetapi kemurahan-Mu jauh lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi seluruh kegelapan,
Dan yang akan memberikan kebaikan segala urusan dunia dan akhirat, Untuk melepaskan aku dari Marah-Mu, Atau menghilangkan Murka-Mu dariku. Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridloan-Mu, Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu“.

Pembaca yang budiman, Begitu khusuknya beliau shollallohu ‘alaihi wasallam berdoa hingga tidak menyadari bahwa ternyata dua anak Rabi’ah memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah . Tampak jelas bahwa Sang Khalik sangat tersentuh dengan doa khusuk hamba-Nya yang sedang berduka tersebut,

hingga kemudian Alloh berkenan menggerakkan hati si pemilik kebun untuk menyuruh pelayannya yang bernama Addas, seorang pemeluk Nasrani yang taat, agar mengambilkan buah anggur untuk diberikan kepada Rasulullah dan Zaid bin Haritsah .

Dua anak Robi’ah tadi berkata kepada Addas, “ambillah setandan anggur ini dan bawakan untuk orang tersebut”. Tatkala addas menaruhnya diantara kedua tangan , beliau mengulurkan tangannya untuk menerimanya sembari membaca, “bismillah”, lalu memakannya. ‘Addas berkata: “Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini.” Lantas Rasulullah bertanya kepadanya, “kamu berasal dari negeri mana? Dan apa agamamu?”. Addas menjawab, “Aku seorang Nashrani dari penduduk Ninawy (Nineveh)”. Rasulullah berkata lagi, “dari negeri seorang shalih bernama Yunus bin Matta?”. Orang tersebut berkata, “ apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?”. Beliau menjawab: “dia adalah saudaraku, seorang Nabi, demikian pula dengan diriku”.  Mendengar hal tersebut, ‘Addas langsung memeluk kepala Rasulullah , bahkan ia juga mencium kedua tangan dan kedua kaki beliau.  Melihat hal tersebut salah satu dari kedua putera Rabi’ah, berkata kepada yang lainnya, “pembantumu itu telah dibuatnya menentangmu”.  Tatkala ‘Addas datang kepada tuannya, kedua putra Robi’ah tadi berkata kepadanya, “celakalah dirimu! Apa yang terjadi dengan dirimu ini?” “wahai tuanku! Tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang lebih baik dari orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku suatu hal yang hanya diketahui oleh seorang Nabi”. Jawabnya. “celakalah dirimu, wahai ‘Addas! Jangan biarkan dia memalingkanmu dari agamamu sebab agamamu lebih baik dari agamanya”, kata mereka berdua.

Pembaca yang budiman, Setelah keluar dari tembok tersebut, Rasulullah pulang menuju Mekkah dengan perasaan getir dan sedih serta hati yang hancur lebur. Tatkala sampai di suatu tempat yang bernama Qarn al-Manâzil, Allah mengutus Malaikat Jibril kepada beliau bersama malaikat penjaga gunung yang menunggu perintah beliau untuk meratakan al-Akhasyabain (dua gunung di Mekkah, yaitu gunung Qubais dan yang di seberangnya, Qu’ayqa’ân) terhadap penduduk Thoif”.

Imam al-Bukhary meriwayatkan rincian kisah ini dengan sanadnya dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasanya ‘Aisyah bercerita kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi ,

Apakah engkau menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada perang Uhud?”. Beliau bersabda, “Aku pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kaummu, tetapi perlakuan mereka yang paling berat adalah pada waktu di ‘Aqabah ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abd Yalail bin ‘Abd Kallal tetapi dia tidak merespons apa yang aku maui sehingga aku beranjak dari sisinya dalam kondisi bermuram muka karena sedih. Ketika itu, aku belum tersadarkan kecuali sudah di dekat tempat yang bernama Qarn ats-Tsa’âlib (sekarang disebut Qarn al-Manâzil). Waktu aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba datang segumpal awan menaungiku, lalu aku melihat ke arahnya dan ternyata di sana ada Jibril yang memanggilku. Dia berkata: “sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan respons mereka terhadapmu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan kepadanya sesuai keinginanmu terhadap mereka”. Malaikat penjaga gunung tersebut memanggilku sembari memberi salam kepadaku, kemudian berkata: “wahai Muhammad! Hal itu terserah padamu; jika engkau menginginkan aku meratakan mereka dengan al-Akhasyabain, maka akan aku lakukan.” Nabi menjawab: “bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah ‘Azza Wa Jalla semata, Yang tidak boleh disekutukan dengan sesuatupun”. Melalui jawaban yang diberikan oleh Rasulullah ini tampaklah sosok unik yang tiada duanya dari kepribadian dan akhlaq beliau yang demikian agung yang sulit untuk diselami. Rasulullah tersadar dan hatinya merasa tentram berkat adanya kemenangan yang berbentuk ghaib yang diberikan oleh Allah kepadanya dari atas tujuh langit.

Kemudian beliau meneruskan perjalanan hingga sampai ke lembah Nakhlah (pohon korma) dan berdiam di sana selama beberapa hari. Di lembah Nakhlah tersebut terdapat dua tempat yang cocok untuk didiami, yaitu as-Sayl al-Kabîr dan az-Zîmah sebab disana terdapat sumber air dan subur. Selama masa berdiam disana, Allah mengutus kepada beliau segolongan jin yang kisahnya diabadikan di dalam al-Qur’an pada dua tempat, yaitu di dalam surat al-Ahqâf ayat 29-31 dan surat Jinn ayat 1-15. Alloh berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan “.(QS.Al-Ahqaf(46):29).

 

Pembaca, Berkat adanya kemenangan dan kabar-kabar gembira tersebut, gumpalan awan kegetiran, kesedihan dan keputusasaan yang semula mengungkung beliau sejak keluar dari Thaif karena diusir dan ditolak, menjadi sirna. Sehingga beliau membulatkan tekad untuk kembali ke Mekkah guna memulai langkah baru di dalam menawarkan Islam dan menyampaikan risalah Allah yang abadi dengan spirit baru, heroik dan penuh vitalitas. Wallohu a’lam

%d blogger menyukai ini: