Seteleah turunnya wahyu kedua yang memerintahkan Nabi untuk berdakwah menyebarkan dan menyampaikan risalah Islam, beliau saw pun giat menyebarkan dakwah dan memperingatkan mereka yang membangkang terhadap risalah yang beliau saw bawa dari Alloh .

Namun sebelum itu, Seperti yang sudah diketahui bahwa kota Mekkah merupakan pusat agama bagi bangsa Arab. Disana terdapat para pengabdi ka’bah dan tiang sandaran bagi berhala dan patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab. Untuk mencapai sasaran perbaikan yang memadai terhadap kondisi yang ada nampaknya akan bertambah sulit dan keras jika jauh dari jangkauan kondisionalnya. Oleh karena itu, kondisi tersebut membutuhkan tekad baja yang tak mudah tergoyahkan oleh beruntunnya musibah dan bencana yang akan menimpa beliau, maka sangat bijaksana dalam menghadapi hal itu, tatkala beliau memulai dakwahnya  secara sirri (sembunyi-sembunyi) agar penduduk Mekkah tidak dikagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing emosi mereka.

Oleh sebab itu, yang pertama-tama dilakukan oleh Rasulullah adalah menawarkan Islam kepada orang-orang yang dekat hubungannya dengan beliau, keluarga besar serta shahabat-shahabat karib beliau. Mereka semua didakwahi oleh beliau untuk memeluk Islam. Beliau juga tak lupa mendakwahi orang yang sudah saling mengenal dengan beliau dan memiliki sifat baik dan suka berbuat baik, mereka yang beliau kenal sebagai orang-orang yang mencintai Allah al-Haq dan kebaikan atau mereka yang mengenal beliau sebagai sosok yang selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keshalihan. Hasilnya, banyak diantara mereka – yang tidak sedikitpun digerayangi oleh keraguan terhadap keagungan, kebesaran jiwa Rasulullah serta kebenaran berita/wahyu yang dibawa oleh beliau. Merekapun dengan yakin merespons dengan baik dakwah beliau. Merekalah yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai as-Saabiquun al- Awwalluun (orang-orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam).

Dibarisan depan mereka terdaftar isteri Nabi , Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid , maula (budak) beliau, Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi , keponakan beliau; ‘Ali bin Abi Thalib – yang ketika itu masih anak-anak dan hidup dibawah tanggungan beliau – serta shahabat paling dekat beliau, Abu Bakr ash-Shiddiq . Mereka semua memeluk Islam pada permulaan dakwah.

Kemudian setelah itu, Abu Bakr juga bergiat dalam mendakwahkan Islam. Dia adalah sosok laki-laki yang lembut, disenangi, fleksibel dan berakhlak baik. Para tokoh kaumnya selalu mengunjunginya dan sudah tidak asing dengan kepribadiannya karena keintelekan, kesuksesan dalam berbisnis dan pergaulannya yang luwes dengan masyarakat. Dia terus berdakwah kepada orang-orang dari kaumnya yang dia percayai dan selalu berinteraksi dan bermajlis dengannya. Berkat hal itu, maka masuk Islam lah ‘Utsman bin ‘Affana al-Umawi , az- Zubair bin al-‘Awam al-Asadi , ‘Abdurrahman bin ‘Auf , Sa’d bin Abi Waqqash az-Zuhriyan dan Thalhah bin ‘Ubaidillah at-Timi . Kedelapan orang inilah yang terlebih dahulu masuk Islam dan merupakan gelombang pertama dan palang pintu Islam.

Selain itu, Diantara orang-orang pertama lainnya yang masuk Islam adalah Bilal bin Rabah al-Habasyi , kemudian diikuti oleh Amin (Kepercayaan) umat ini, Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah yang berasal dari suku Bani al-Harits bin Fihr, Abu Salamah bin ‘Abdul Asad, al-Arqam bin Abil Arqam (keduanya berasaldari suku Makhzum), ‘Utsman bin Mazh’un – dan kedua saudaranya, Qudamah dan ‘Abdullah -, ‘Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf, Sa’id bin Zaid al-‘Adawy dan isterinya; Fathimah binti al-Khaththab al-‘Adawiyyah – saudara perempuan dari ‘Umar bin al-Khaththab-, Khabbab bin al-Arts, ‘Abdullah bin Mas’ud al-Hazaly serta banyak lagi selain mereka. Mereka itulah yang dinamakan as-Saabiquunal Awwaluun. Mereka terdiri dari semua suku Quraisy yang ada bahkan Ibnu Hisyam menjumlahkannya lebih dari 40 orang, yang pertama-tama menyambut dakwah Nabi . Namun, dalam penyebutan sebagian dari nama-nama tersebut masih perlu diberikan catatan.

Sementara itu, Ibnu Ishaq berkata: “…kemudian banyak orang yang masuk Islam secara berbondong-bondong baik laki-laki maupun wanita sampai akhirnya tersiarlah gaung “Islam” di seantero Mekkah dan mulai banyak menjadi bahan perbincangan orang. Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Maka cara yang sama pun dilakukan oleh Rasulullah dalam majlis beliau bersama para sahabatnya untuk menambah kaimanan mereka, karena dakwah ketika itu masih bersifat individu dan sembunyi-sembunyi.

Sementara itu disisi lain, Wahyu pun terus turun secara berkesinambungan dan memuncak setelah turunnya permulaan surat al-Muddatstsir. Ayat-ayat dan penggalan-penggalan surat yang turun pada masa ini merupakan ayat-ayat pendek, memiliki pemisah-pemisah yang indah dan valid, senandung yang menyejukkan dan memikat seiring dengan suasana masyarakat kala itu yang begitu lembut dan halus. Ayat-ayat tersebut membicarakan solusi memperbaiki penyucian diri ( tazkiyatun nufuus), mencela pengotorannya dengan gemerlap duniawi dan menyifati surga dan neraka yang seakan-akan terlihat oleh mata kepala sendiri. Juga, menggiring kaum Mukminin ke dalam suasana yang lain dari kondisi komunitas social kala itu.

Termasuk wahyu pertama yang turun adalah perintah mendirikan shalat. Ibnu Hajar berkata: “sebelum terjadinya Isra’, beliau secara qath’i pernah melakukan shalat, demikian pula dengan para shahabatnya. Akan tetapi yang diperselisihkan apakah ada shalat itu adalah sholat yang telah diwajibkan sebelum (diwajibkannya) shalat lima waktu ataukah tidak?. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang telah diwajibkan itu adalah shalat sebelum terbit dan terbenamnya matahari”. Demikian penuturan Ibnu Hajar .

Terkait hal tersebut Al-Harits bin Usamah meriwayatkan dari jalur Ibnu Lahi’ah dari Zaid bin Haritsah bahwasanya pada awal datangnya wahyu, Rasulullah didatangi oleh malaikat Jibril, dia mengajarkan beliau tata cara berwudhu. Maka tatkala selesai melakukannya, beliau mengambil seciduk air lantas memercikkannya ke faraj beliau. Hal tersebut merupakan kewajiban pertama. Selanjutnya Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Nabi dan para shahabat pergi ke perbukitan dan menjalankan shalat disana secara sembunyi-sembunyi jauh dari kaum mereka.

Suatu ketika Abu Thalib pernah melihat Nabi dan ‘Ali melakukan shalat, lantas menegur keduanya namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang serius, dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (tsabat) dalam menjalankan sholat tersebut.

Meskipun dakwah pada tahapan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan bersifat individu, bahkan beliau bermajlis dengan sahabatnya secara sembunyi-sembunyi pula di rumah al-Arqom bin abil arqom, namun perihal keislaman sebagian penduduk mekah sampai juga ke telinga petinggi kaum Quraisy. Hanya saja, mereka belum mempermasalahkannya karena Rasulullah tidak pernah menyinggung agama mereka ataupun tuhan-tuhan mereka selain Alloh .

Tiga tahunpun berlalu sementara dakwah masih berjalan secara sembunyisembunyi dan individu. Dalam tempo waktu ini terbentuklah suatu jamaah Kaum Mukminin yang dibangun atas pondasi ukhuwwah (persaudaraan) dan ta’awun (solidaritas) serta penyampaian risalah dan proses reposisinya. Kemudian turunlah wahyu yang membebankan Rasulullah agar menyampaikan dakwah kepada kaumnya secara terang-terangan, menentang kebatilan mereka, serta menyerang berhala-berhala mereka. namun bagaimanakah tanggapan dari kaum Quraisy mengania islam ini? Bagaimanakah kisah selanjutnya? insyaAlloh pada artikel edisi berikutnya menganai dakwah islam secara terang-terangan. Wallohu a’alam.

%d blogger menyukai ini: