Ketua Dewan Masjid Indonesia atau DMI, Natsir Zubaidi menyatakan belum ada jumlah pasti khatib di Indonesia, meskipun ia telah membentuk ikatan Khatib Indonesia. Menurutnya, kekurangan khatib masih kentara di beberapa daerah yang jauh atau terpencil dari pusat kota. Menurut Natsir, kekurangan khatib di daerah terpencil karena transportasi yang kurang dan sulit. Sehingga perlu ada subsidi silang untuk membantunya. Hal ini sebagaimana diungkapkan Natsir kepada media hari selasa kemarin.

Natsir mengatakan, bantuan finansial bisa diberikan oleh masjid lainnya yang lebih sejahtera dalam pendapatan infak atau sedekah, termasuk dari dana lembaga filantropi. Dia mencontohkan, Masjid Al-Azhar dalam beberapa kesempatan, seperti Shalat Id atau acara khusus lainnya kerap mendapatkan dana yang ditaksir lebih besar daripada masjid lainnya di Indonesia.

Ia tak menampik jumlah ideal khatib di setiap masjid merupakan hal relatif. Sebab, menurutnya masjid di Indonesia tak bisa diseragamkan karena ada budaya daerah masing-masing yang berperan di dalamnya.

Natsir menegaskan, kondisi khatib dan khutbah di Indonesia dinilai menyesuaikan dengan kultur dan historis di setiap tempatnya.

Khusus Indonesia, ada sistem swadaya atau gotong royong yang membantu setiap aktivitas di masjid, termasuk kondisi khatib itu sendiri. Bahkan menurut Natsir, 99 persen masjid di Indonesia dibangun oleh masyarakat Islam Indonesia itu sendiri.

https://khazanah.republika.co.id

%d blogger menyukai ini: