Saat ini, terutama di dunia kampus Islam, filsafat atau sebagian orang mengkompilasinya dengan penyebutan filsafat Islam, telah menjadi trend yang seakan tak terbantahkan dan mutlak harus diikuti. Padahal dalam Islam, yang menjadi rujukan yang mutlak harus diikuti hanyalah al-Qur’an al-Karim, Sunnah Rosululloh yang shahihah, dan ijma’ yaitu kesepakatan kaum muslimin. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang pasti baik dari al-Qur`an maupun dari Hadits Rosululloh.

Dari al-Qur`an, di antaranya firman Alloh dalam surat an-Nisa ayat 59 berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Pada yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.

 

Dalam kitab al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun dinyatakan, bahwa para sahabat dan para imam kaum musliminpun sangat tegas memperingatkan kaum muslimin dari menelaah beragam ajaran dan mengkaji pelbagai pemikiran yang berasal dari luar Islam, seperti Yahudi dan Nashroni.

Dikisahkan, ketika kerajaan Persia Majusi berhasil ditaklukkan, kaum Muslimin menemukan tum-pukan buku peninggalan yang cukup banyak dan menggunung. Maka Sa’ad bin Abi Waqqosh yang pada waktu itu sebagai panglima, menulis surat kepada Khalifah ‘Umar bin al-Khoththob agar diizinkan memindahkan buku-buku tersebut untuk kemudian memanfaatkannya. Maka, Kholifah ‘Umar bin al-Khoththob menjawabnya dengan sepucuk surat yang menyiratkan kekuatan iman, kebanggaan Islam, dan kejernihan tarbiyah, dengan berkata:

“Sebaiknya, buku-buku tersebut dibuang jauh-jauh! Seandainya di dalamnya ada petunjuk kebenaran, maka sungguh kita telah diberi petunjuk oleh Alloh yang lebih baik darinya yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebaliknya, jika di dalamnya bergelimang kesesatan, maka dengan membuangnya Alloh telah menjauhkannya dari kita!”

Asal filsafat

Selain dari ajaran Persia Majusi, filsafat juga banyak dimiliki dan didasari oleh berbagai agama dan isme atau pemahaman dari berbagai agama dan negara selain Islam, seperti Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, India, Cina, dan negara lainnya. Namun, yang paling terkenal adalah berasal dari Yunani yang terkenal dengan kebudayaan Hellenisme-nya. Karena istilah filsafat sendiri, memang berasal dari bahasa Yunani; yaitu dari philos yang artinya cinta atau philia yang berarti persahabatan; dan dari sophia yang berarti hikmah (wisdom), kebaikan, pengetahuan dan pengamalan praktis.

Berkembangnya filsafat, termasuk marak dan masifnya kajian filsafat “Islam” dewasa kini, tidak terjadi dengan sendirinya. Hal tersebut terjadi karena konspirasi sistemik yang tertata rapi. Yaitu melalui penodaan terhadap kemurnian Islam, pudarnya kesucian fithrah dan kebanggan terhadap “hal baru” yang awalnya disangka “madu”, padahal itu adalah “racun” dan “virus ganas” yang bahkan akan mematikan. Berdasarkan penelusuran data dan pelacakan fakta, hal tersebut terjadi karena peran sentral dari hal-hal berikut:

Pertama, Peran Perguruan Iskandariyah.

Perguruan Iskandariyah adalah perguruan Yunani terbesar yang penuh sesak dengan beragam ajaran sekte dan aliran filsafat, khususnya aliran Neo-Platonisme. Ketika kaum Muslimin berhasil menaklukkan Mesir, perguruan tersebut masih tetap eksis. Beberapa master filsafat atau filosof yang tersisa dari perguruan tersebut kemudian diterima secara terbuka dan bahkan difasilitasi oleh kaum Muslimin untuk menyebarkan ajaran Neo-Platonisme dengan kemasan agama, hingga berhasil mengorbitkan para filosof yang menisbatkan diri kepada Islam sebagai cendekiawan ataupun filusuf muslim.

Kedua, adanya Figur Zindik.

Yaitu cendekiawan kaum kafirin yang berpura-pura masuk Islam dengan tetap menyimpan kesumat kebencian dan selalu memendam kekufuran atau zindik. Di antara figur tersebut, yang paling terkenal dan memiliki peran besar adalah; Musa bin Maimun bin Yusuf Abu ‘Imran al-Qurthubi; seorang tabib dan filosof Yahudi yang sempat menjadi pemimpin kaum Yahudi selama 34 tahun, namun kemudian pura-pura masuk Islam (zindik).

Karena kehandalannya dalam kedokteran, maka ia pernah diangkat sebagai dokter pribadi Nuruddin, anak sulung Shalahuddin al-Ayyubi. Ia berhasil menyebarkan racun filsafat kepada kaum Muslimin yang diselipkan kepada sepuluh karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab, terutama karyanya yang berjudul Dalalatul Hairin (Petunjuk bagi orang-orang yang bimbang).

Peran yang ketiga adalah Kholifah Abu Ja’far al-Manshur.

Yaitu seorang Khalifah ‘Abbasiyyah yang gemar mempelajari ilmu nujum yaitu perbintangan yang dilarang, astrologi dan sangat akrab dengan ahli nujum. Bahkan, ia menjadikan mereka sebagai “staff ahli” atau penasehatnya. Salah satu ahli nujūm tersebut bernama Nubikht yang beragama Majusi, yang juga sangat antusias mengajarkan filsafat kepada kaum Muslimin, bahkan kemudian mewariskan jabatan strategis dan kemahirannya secara turun-temurun kepada anaknya yang bernama Abu Sahal.

Keempat, penerjemahan buku-buku filsafat dan manthiq.

Hal ini berlangsung pada masa khilafah Bani Umayyah saat khalifah dijabat oleh Khalid bin Yazid. Pada saat itu, yang diterjemahkan antara lain mengenai perkataan hikmah tokoh, pepatah, korespondensi, wasiat, dan sejarah umum filsafat. Kemudian “proyek penerjemahan” ini semakin menggeliat pada masa Abu Ja’far al-Manshur dan mencapai puncak keemasannya di masa Harun al-Rasyid melalui figur Khalid bin Yahya al-Barmaki al-Farisi yang berhasil menjadi menteri berpengaruh dan sangat rakus untuk menyebarkan filsafat ke khalayak kaum Muslimin.

Dengan demikian, kita semua memahami bahwa ternyata ada konspirasi dibalik pelajaran-pelajaran filsafat yang diajarkan di kampus-kampus negeri kita. Yaitu supaya kaum muslimin jauh dari ajaran agama dan rujukan utamanya yaitu al-Qur`an dan Hadis, sehingga mereka mudah melabrak aturan-aturan Alloh. Wallohul Musta’an…

Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing… Apakah Rosululloh , para sahabatnya, dan para imam yang empat serta ulama lainnya gemar mempelajari filsafat tersebut, ataukah malah melarangnya?

Bukankah dahulu tatkala Islam mengalami kejayaan dan masa keemasannya adalah dengan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, dan bukan dengan gandrung kepada filsafat?

Sungguh Maha Benar Alloh atas segala firman-Nya dalam surat al-Isro ayat 9, tentang al-Qur`an adalah petunjuk yang sebenarnya.

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isra’ [17]: 9)

Demikian juga telah benar apa yang disampaikan oleh ash-Sodiq al-Mashduq, Rosululloh dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Telah kuwariskan kepada kalian dua sumber, bila kalian berpegang kepada keduanya, niscaya kalian takkan sesat, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Demikianlah uraian tentang konspirasi di balik filsafat Islam, semoga Alloh menjaga kaum muslimin dari aliran dan keyakinan sesat dan menyesatkan. Amin… Wallohu Ta’ala a’lam…

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

 

%d blogger menyukai ini: