Afghanistan mengerahkan lebih dari 100 ribu personel keamanan untuk mengamankan pemilu presiden yang dijadwalkan digelar pada Sabtu besok. Hal itu dilakukan karena Taliban mengancam akan mengacaukan proses pemungutan suara.  Hal ini sebagaimana diungkapkan direktur jenderal operasi dan perencanaan di Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Abdul Muqim Abdurrohim zai, Kamis kemarin.

Kendaraan militer pun dikerahkan ke daerah-daerah yang tak stabil dan berpotensi menjadi target serangan.

Taliban dilaporkan telah mengancam masyarakat Afghanistan untuk tidak berpartisipasi dalam pilpres kali ini. Ancaman tersebut menempatkan warga dalam posisi dilematis.  Saat berpartisipasi dalam pemilu, jari mereka akan ditandai dengan tinta permanen. Hal itu berisko mengingat pada pemilu-pemilu sebelumnya Taliban memotong jari warga yang telah ditandai tinta.

Pada pemilu kali ini, Taliban telah mengancam akan membunuh siapa pun yang mengikuti pemilu. Pekan lalu, Taliban menyerang massa kampanye Presiden Ashraf Ghani. Aksi bom bunuh diri menyebabkan hampir 50 orang tewas.

Taliban diketahui telah menolak penyelenggaraan pemilu di Afghanistan. Mereka pun menentang pemerintahan saat ini karena dianggap boneka Amerika.

Prospek perdamaian Afghanistan pun masih suram. Sebab perundingan damai antara mereka dan Amerika Serikat telah dibatalkan.

(internasional.republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: