Presiden Amerika Serikat Donald Tramp dijadwalkan merilis rencana perdamaian Timur Tengah, termasuk konflik Israel-Palestina, pada hari ini.  Sebelumnya penasihat senior Gedung Putih Jared Kushner sempat menyatakan bahwa dalam rencana perdamaian tersebut tak ada frasa solusi dua negara.

Sumber itu pun menyebut rencana perdamaian akan tetap mempertahankan status Haram al-Sharif di Yerusalem di bawah pengawasan Kerajaan Yordania. Trump JUGA mengusulkan tentang penarikan garis perbatasan antara Israel dan wilayah Tepi Barat yang diduduki. Permukiman ilegal yang telah berdiri di Tepi Barat disebut akan masuk teritorial Israel.

Namun, belum diketahui permukiman mana saja yang akan menjadi wilayah Israel. Rencana perdamaian yang disusun Trump turut mencakup beberapa bentuk kontrol keamanan Israel atas Tepi Barat. Rencana tersebut akan menawarkan otonomi terbatas kepada Otoritas Palestina atas wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Hal itu jauh dari tuntutan Palestina yang menghendaki kemerdekaan penuh dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Sedangkan, New York Times melaporkan bahwa rencana perdamaian Tramp mengusulkan bahwa Israel memiliki kedaulatan atas sebagian besar Lembah Yordan yang membentang dari utara ke selatan di sepanjang perbatasan Yordania. Para perencana pertahanan dan tokoh politk Israel telah melihat Lembah Yordan sebagai perbatasan timur ideal bagi negara mereka.

Kendati belum resmi dirilis, rencana perdamaian Timur Tengah yang disusun Trump telah ditolak Palestina. Menurut Palestina, rencana itu pasti memihak pada kepentingan politik Israel. Hal ini diungkapkan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh saat pertemuan kabinet di Ramallah, Tepi Barat, Senin kemarin.

https://internasional.republika.co.id

%d blogger menyukai ini: