Sahabat hijrah yang dirahmati Allah, ketika bulan ramadhan tiba, orang-orang giat dalam beribadah. tapi ketika ramadhan berlalu ibadah mereka mengendur, bahkan banyak ibadah yang selama bulan ramadhan rutin dilakukan, di luar ramadhan ditinggalkan.

Jadi, ibadah seakan ada musimnya, baru muncul dan laris manis di bulan ramadhan saja. Namun setelah ramadhan berakhir akan lenyap tanpa bekas. padahal sahabat hijrah, amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang berkesinambungan atau terus menerus.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengangkat pembahasan yang cukup menarik yaitu bagaimana seharusnya kita beramal. Apakah amalan kita haruslah banyak?. Ataukah lebih baik amalan kita itu rutin walaupun sedikit?. Itulah yang akan kami ketengahkan ke hadapan sahabat hijrah semua. semoga memberi pencerahan.

Sahabat, Perlu diketahui bahwa ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu. Seperti ini bukanlah perilaku yang baik. Para ulama pun sampai mengeluarkan kata-kata pedas terhadap orang yang rajin shalat misalnya, hanya pada bulan Ramadhan saja. Sedangkan pada bulan-bulan lainnya amalan tersebut ditinggalkan.

Ada ulama yang mengatakan begini. “Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja.  Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun.”Ibadah bukan hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun.

Nah sahabat, suatu ketika seorang ulama bernama Asy Syibliy pernah ditanya. ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?.”

Beliau pun menjawab. ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” maksudnya apa??, Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan, sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Sya’ban saja.

Begitu pula amalan suri tauladan kita , Muhammad ,  adalah amalan yang rutin dan bukan musiman pada waktu atau bulan tertentu. Itulah yang beliau contohkan kepada kita.

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah . ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?”. Tanya Alqomah.

’Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً

Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang terus menerus. hadits riwayat Bukhori dan Muslim.

Perlu sahabat ketahui bahwa tanda diterimanya suatu amalan adalah apabila amalan tersebut membuahkan amalan ketaatan berikutnya. Di antara bentuknya adalah apabila amalan tersebut dilakukan secara continue atau rutin. Sebaliknya tanda tertolaknya suatu amalan alias tidak diterima,  apabila amalan tersebut malah membuahkan kejelekan setelah itu.

Makanya sebagian ulama berkata.

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya, dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.

Ibnu Rajab menjelaskan hal ini dengan membawakan perkataan salaf lainnya. ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.

Sahabat, Di antara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin dilakukan. Amalan yang rutin itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin, meskipun jumlahnya banyak. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala.

Karenanya, Rasulullah bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang continue walaupun itu sedikit.”

Sahabat hijrah, Allah tidak akan pernah merasa bosan dengan ibadah kita, sampai kita sendiri yang bosan karenanya. oleh karena itu Rasulullah bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. Ketahuilah bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit.

Nah sahabat, dalam beramal kita harus pertengahan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.” ini bukan berarti meremehkan amalan yang besar, tapi hanya menegaskan tentang keutamaan amal yang rutin walau sedikit.

Tak heran jika Rasulullah memberi wasiat kepada Abdullah bin Amr untuk melakukan ibadah secara rutin. Beliau berkata kepada Abdullah.

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.

Di dalam sebuah ungkapan, Hasan al-Basri berkata. “Jika syaithon melihatmu continue dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan semakin tamak untuk menggodamu.

Sahabat, amalan yang continue akan terus mendapat pahala. Berbeda dengan amalan yang dilakukan sesekali saja, meskipun jumlahnya banyak, maka ganjarannya akan terhenti pada waktu dia beramal.Bayangkan jika amalan tersebut dilakukan terus menerus, maka pahalanya akan terus ada walaupun amalan yang dilakukan sedikit.

Dan apabila seseorang meninggalkan amalan sholih yang biasa dia rutinkan karena alasan sakit, sudah tidak mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau udzur syar’i lainnya, maka dia akan tetap memperoleh ganjarannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi .

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim dan dalam keadaan sehat. Hadits riwayat Bukhori.

Maka dari penjelasan  ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa merutinkan amalan yang biasa dilakukan mengandung banyak keutamaan, selain itu juga dicintai oleh Allah ,  jangan  sampai ditinggalkan begitu saja.

Akhir kalam, semoga kita semua selalu diberi taufik oleh Allah untuk mendawamkan kebaikan dan amal kita, sampai jumpa di pemuda hijrah edisi mendatang.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 

%d blogger menyukai ini: