Jakarta – Konsep moderat atau moderasi hendaknya dimaknai secara sungguh-sungguh dalam kaitannya dengan kehidupan beragama. Di sisi lain, sikap atau pemikiran moderat tidak berarti pengakuan kebenaran atas semua agama.

Sebab, masing-masing agama memiliki akidah. Moderat itu dimaknai sebagai hubungan yang berimbang, baik dalam kaitan antara seorang manusia dan Tuhan maupun antara manusia dan sesama. Demikian disampaikan cendekiawan Muslim Profesor Didin Hafidhuddin.

Dia melanjutkan, perbedaan adalah sunnatullah. Karena itu, adanya hal-hal yang berbeda bukan untuk dipersatukan, tetapi untuk saling menghormati dan menghargai. Menurut dia, selama ini di Indonesia umat Muslim turut dalam menjalin persahabatan yang baik dengan kalangan non-Muslim.

Didin juga memaparkan, ada persamaan di semua agama dalam hal muamalah. Misalnya, masing-masing agama mengajarkan untuk tidak berkata dusta, berkhianat, dan berbagai perbuatan buruk lainnya yang sasarannya adalah manusia. Tetapi ia menegaskan bahwa dalam akidah itu berbeda. Tidak mungkin disamakan.

Kemenag berencana meluncurkan buku putih Moderasi agama sebagai panduan untuk memudahkan pejabat maupun aparatur sipil negara di bawah Kemenag. Dengan buku itu, mereka diharapkan dapat memahami moderasi agama, sesuai dengan perspektif agama masing-masing. (republika/admin)

%d blogger menyukai ini: