Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin pada hari Kamis hingga Sabtu kemarin berada di Baku, Azerbaijan dalam rangka menghadiri  Pertemuan Puncak Para Tokoh Agama Dunia Baku Kedua.

Din dalam presentasinya menegaskan bahwa radikalisme dan ekstremisme, apalagi dalam bentuk kekerasan adalah berbahaya dan bersifat anti kemanusiaan. Namun, Din Syamsuddin mengingatkan bahwa radikalisme dan ekstremisme tidak hanya bersifat keagamaan , tapi juga bersifat non keagamaan seperti radikalisme sekuler. Din juga menambahkan bahwa sekulerisme bisa bercampur dengan kebebasan sehingga menjadi radikalisme sekuler-liberal. Menurut Din, hal ini menjadi lebih berbahaya karena sering merasuk ke dalam sistem kehidupan nasional seperti politik dan ekonomi. Hal ioni diungkapkan Din dalam keterangan tertulisnya kepada media ahad kemarin.

Radikalisme sekuler-liberal yang merasuki sistem politik dan ekonomi sesuatu negara, jelasnya, akan membuat negara itu rusak bahkan runtuh, serta akan meninggalkan ideologi negara yang ada.

Menurut Din, itulah yang dewasa ini menjadi fenomena di beberapa negara. Radikalisme sekuler-liberal masuk perlahan-lahan ke dalam sistem nasional suatu negara dan bahkan diadopsi sebagai sistem operasional.

Pertemuan Puncak Para Tokoh Agama Dunia Baku Kedua ini dihadiri sekitar 200 tokoh berbagai agama dunia. Pertemuan dibuka oleh Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyef. (Hidayatulloh.com/admin)

%d blogger menyukai ini: