Connie menyebut, sikap negara-negara seperti AS dan Australia sangat janggal menjelang ledakan di kawasan Sarinah.

Pengamat Militer Dr. Connie Rahakundini mengatakan bahwa dirinya memiliki cara pandang yang berbeda dengan banyak orang dalam menilai peristiwa ledakan di kawasan Sarinah, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (14/01/2016) pekan lalu.

Dikatakan Connie, bahwa peta lokasi titik peledakan bom itu berdekatan dengan sejumlah kantor instansi pemerintahan strategis. Karena itu, perlu ada pertanyaan mengapa ledakan bom teror memiliki jarak yang cukup dekat dengan Istana.

Lebih lanjut, dikatakan Connie terdapat kejanggalan dalam peristiwa bom Sarinah yaitu saat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi marah kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir. Retno marah karena Adel membatalkan pertemuan bisnis yang dijadwalkan pada hari Kamis itu.

Seperti diketahui peristiwa bom Sarinah tersebut berlangsung Kamis, 14 Januari 2016. Sementara, Adel membatalkannya tepat sehari sebelum peristiwa bom Sarinah itu terjadi. Menurut Connie, Menlu seharusnya mencurigai adanya pembatalan agenda tersebut.

Selain kejanggalan itu, disebutkan oleh Connie, sikap negara-negara sahabat seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia juga sangat janggal menjelang terjadinya bom Sarinah tersebut.

Di mana, lanjutnya, kedua negara itu telah mengeluarkan “Travel Warning” (larangan melakukan perjalanan ke Indonesia) yaitu seminggu sebelum peristiwa bom Sarinah, Kamis (07/01/2016).

Seperti diketahui, Amerika Serikat mengeluarkan “travel warning” pada 7 Januari 2015 bagi warga negaranya yang hendak berkunjung ke Indonesia, khususnya ke Surabaya. Sementara, Australia merilis “travel advice” ke Indonesia bagi warga negaranya dengan menyatakan adanya kemungkinan ancaman teroris, khususnya di kota-kota besar Indonesia.*

%d blogger menyukai ini: