Cape Town, Afrika Selatan – Prihatin dengan perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina dan karena tak adanya komitmen Israel untuk mewujudkan solusi dua negara, Presiden Afrika Selatan mengumumkan bahwa dia masih berkomitmen dengan tekadnya untuk menurunkan status perwakilan diplomatik negaranya di Tel Aviv.

Presiden Cyril Ramaphosa mendesak parlemen untuk mengimplementasikan resolusi 2017 partai penguasa yang menyeru diturunkannya status kedutaan besar di Israel menjadi hanya sebagai kantor penghubung, karena pelanggaran berkelanjutan terhadap hak-hak rakyat Palestina oleh Israel.

Beberapa pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Tramp mengumumkan pengakuan Yerussalem sebagai ibukota Israel, partai Afrikan Nasional Kongress di bawah kepemimpinan mantan presiden Jacob Zuma, meloloskan sebuah resolusi guna menunjukkan “dukungan terhadap rakyat Palestina yang tertindas.

Selama tujuh dekade terakhir, ikatan diplomatik Afrika Selatan dan Israel seperti hubungan benci-cinta. Setelah Afrika Selatan menjadi salah satu negara yang paling awal mengakui negara Israel pada tahun 1948, hubungan dengan negara Yahudi itu tumbuh subur saat rezim minoritas kulit putih berkuasa di negeri Afrika tersebut.

Namun, menyusul runtuhnya sistem politik apartheid, yang mendiskriminasikan orang kulit hitam, negara itu mulai cenderung mendukung rakyat Palestina, menggelar demonstrasi dan kampanye boikot menentang negara Israel. (hidayatullah/admin)

%d blogger menyukai ini: