Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dunia Islam mudah dimanipulasi karena Muslim sebagai komunitas tidak solid. Dia menggarisbawahi negara mayoritas Muslim menghadapi banyak ancaman, termasuk terorisme dan perang sipil, selain meningkatnya xenofobia.

Dilansir di Daily Sabah, Rabu kemarin, Erdogan merasa prihatin karena semakin meningkatnya sentimen anti-Muslim dan serangan yang mengarah kepada umat Islam di Barat. Turki bersama dengan Pakistan dan Malaysia telah mengusulkan mendirikan pusat media dan komunikasi untuk melawan rasialisme anti-Muslim. Kebencian anti-Muslim meningkat secara signifikan di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.

Ekstremisme kanan-kiri dan xenofobia telah memicu kebencian anti-Muslim di negara-negara Barat, di mana serangan teror oleh ISIS dan Alqaidah digunakan sebagai alasan untuk melegitimasi pandangan-pandangan itu. Dia mendesak Amerika dan organisasi global lainnya menetapkan 15 Maret sebagai Hari Solidaritas Internasional Melawan Islamofobia.

Menurut Erdogan, hal tersebut terjadi karena negara Islam mudah dimanipulasi dan lemahnya persatuan umat Islam.   Selain itu, lemahnya umat Islam ini juga didorong karena mereka tidak berdaya, tidak berperan aktif dan keterwakilannya hampir tidak ada dalam organisasi internasional. Menurut Erdogan, saat ini negara Islam tidak memiliki hak prerogatif untuk membuat dan menerapkan keputusan dalam menentukan masa depannya sendiri. Dia juga  mencatat tidak ada satu pun negara Muslim di Dewan Keamanan. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: