Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur atau Uighur, Seyit Tumturk mengapresiasi perhatian waga Indonesia terhadap penderitaan etnis Uighur. Menurut Seyit, selama puluhan tahun ini, tidak ada yang benar-benar menyuarakan penindasan yang dialami Uighur, atau membela nasib uighur secara terang-terangan.

Sampai pada akhir 2018 lalu, masyarakat Indonesia melakukan protes besar-besaran atas ketidakadilan yang dialami Uighur. Menurut dia, aksi ini sangat berarti bagi 35 juta diaspora Uighur dunia.

Ia pun atas nama 35 juta warga Uighur dunia mengucapkan terima kasih kepada seluruh muslim Indonesia, yang telah mengambil tanggung jawab umat ini, dan menjadi contoh seluruh umat muslim di dunia.

Turkistan Timur atau Daerah Otonomi Uighur Xinjiang merupakan daerah yang sempat menjadi sorotan dunia atas pelanggaran hak dan opresi yang diterima etnis Uighur di Cina. Seyit mengatakan, sebagai gambaran, saudara-saudara muslim Uighur di sana dilarang untuk salat, zakat, puasa, menggunakan jilbab, peci, dan segala bentuk simbol peribadahan Islam.

Seyit Tumturk mengatakan, saat ini warga Uighur yang berada di pengungsian Turki berada dalam kondisi cukup baik. Saat ini mereka juga membutuhkan bantuan yang bersifat pribadi.

https://khazanah.republika.co.id

%d blogger menyukai ini: