Artikel sebelumnya http://fajribandung.com/fenomena-haters-1/

Haters dalam kacamata wala wal baro

Perlu diketahui bahwa Siapa saja yang membaca al Qur’an dengan tadabbur dan seksama, akan mendapatkan bahwa Al Wala’ dan Al Bara’ ( yang merupakan pengejawantahan dari kalimat tauhid ) adalah masalah yang sangat prinsipil.

Bahkan Syeikh Hamad bin Atiq pernah berkata :

“Bahwa tidak ada suatu hukum paling jelas yang disebutkan dalam Al-Qur’an, setelah kewajiban bertauhid dan haramnya syirik kecuali masalah Al Wala’ dan Al Bara’.”

Inti dasar dara konsep al wala dan wal bara adalah bila cinta dan benci didalam hati kita diukur melalui kacamata syariat, sehingga terbentuklah sikap wala (loyal) pada apa-apa yang dicintai Allah, dan bara (berlepas diri) pada apa-apa yang dibenci Allah. Jadi penilaian cinta dan benci sudah tidak lagi dari kacamata maslahat manusia.

Berikut dalinya :

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’ Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali’” (Al-Mumtahanah: 4).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka“ (Al-Ma’idah: 51).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang“ (Al-Mumtahanah: 1).

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Al-Hasyr: 10).

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (Al Mujadilah: 22).

Dan masih banyak lagi ayat yang lainnya baik dari quran dan hadits karena seperti yang tadi kita ketahui bersama ayat al wala dan wal bara adalah ajaran islam islam yg paling jelas, prinsipil, dan tak bisa ditakwil lagi sehingga hal ini menjadi ijma ulama terdahulu. Walaupun perkara ini disamarkan dan didustakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab terhadap masyarakat umum.

Namun perlu diingat bahwa wala (loyal) itu berbeda dengan ihsan (baik) dan adil

“…Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah:195)

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Maaidah [5]:8)

Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah ketika ada orang yahudi yang sakit, namun ketika ditanya oleh para sahabat, ternyata Rasulullah menjenguknya agar yahudi itu mendapatkan hidayah masuk islam bukan untuk ber wala (loyal / bermesra-mesraan) dengan orang yahudi itu.

Jadi intinya adalah yang kita benci atau berlepas diri adalah karena akidahnya bukan kepada manusianya, baik kepada kaum kafirin murni maupun kepada muslim yang melakukan kesyirikan ataupun penyimpangan aqidah.

Jadi konsep haters yang benci dengan selebriti karena suaranya, dandanannya, ngga suka karena karakternya itu jelas salah besar karena :

  1. Sikap santun (ikhsan) dalam menasihati itu tetap harus dijaga.
  2. Apabila dia seorang muslim, maka kebencian harusnya didasari karena syariat, seperti tidak berhijab syarii, bicaranya kotor, dll. Walaupun seperti poin sebelumnya, karena dosa-dosa tadi bukanlah dosa yang mengkafirkan (selama tidak dianggap halal) maka ukhuwah tetap harus dijaga. Kita ingkari kelakuan mereka (bara) tapi tetap jaga ukhuwah (wala)
  3. Apabila dia orang kafir, maka jelas kita harus berlepas diri pada mereka, jangan kagum kepada mereka, jangan terpesona akan kebaikan dan keramahan mereka, harus ditanam sikap berlepas diri (bara) kepada mereka, walaupun sikap & sifat mereka membuat kita kagum kepada mereka. Justru tunjukkanlah kepada mereka keistimewaan islam, agar mereka mendapat hidayah (bukan untuk loyal/wala)
  4. Apabila mereka adalah muslim yang melakukan tindakan kekufuran (bid’ah mukafiroh) maka cobalah untuk membuka syubhat kepada mereka, bila hujjah sudah ditegakkan, tetapi mereka tetap seperti itu. Maka sesungguhnya para pendahulu kita baik dari para sahabat, tabin, tabiit tabiin, dan ulama-ulama ASWAJA (yang saya maksud adalah Ahlu Sunnah WAl JAmaah, bukan ASli WArisan JAwa) sangat keras sikapnya kepada mereka, bahkan mereka tidak segan-segan untuk menceritakan kejelekan dan kesesatan mereka kepada khalayak ramai.

Seburuk apapun akhlaknya selama aqidahnya lurus, maka kita tetap harus wala pada mereka, namun ketika ada yang seseorang yang santun, murah senyum, dermawan, suka menolong tapi dia meyakini bahwa sholat wajib itu sehari hanya 3 kali, atau kiblat itu bukanlah di ka’bah, mengkultuskan ulama melebihi Allah dan Rasulnya. Maka point keempat diatas harus kita tegakkan.

Wallahu A’lam

By : murahwy madholin

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: