Gubernur Xinjiang Shohrat Zakir menyatakan orang yang ada di wilayahnya sudah lulus dari kamp dan hidup berbahagia. Hal ini diungkapkan Shohrat zakir Senin kemarin. Dia justru menuduh Amerika Serikat malah menutup telinga ketika warga Xinjiang menghadapi kondisi serius dengan terorisme.

Warga Uighur dan etnis minoritas Muslim dari wilayah tersebut dilaporkan ditahan secara sewenang-wenang di kamp dan penjara. Laporan itu pun datang langsung dari keluarga yang anggotannya ditahan.

Sementara pihak berwenang China menggambarkan penahanan sebagai bentuk pelatihan kejuruan. Namun, dokumen rahasia baru-baru ini bocor ke konsorsium organisasi berita mengungkapkan strategi yang disengaja untuk menekan etnis minoritas, meskipun mereka tidak melakukan kejahatan.

Ketua Partai Komunis kota Urumqi, ibu kota Xinjiang, Xu Hairong tidak membantah keaslian dokumen tersebut. Tetapi dia mengatakan tidak ada yang namanya kamp penahanan.

Kemudian Amerika  pun merilis Undang-Undang Uighur yang mengutuk penahanan massal terhadap lebih dari 1 juta warga Uighur, Kazakh, dan lainnya. Upaya itu juga menimbulkan kemungkinan sanksi terhadap pejabat pemerintah China yang dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Xinjiang. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: