Pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala, hidup berumah tangga adalah keniscayaan bagi kita, karena memang hikmah diciptakannya laki-laki dan perempuan adalah untuk melengkapi satu sama lain, melengkapi kekurangan diantara dua jenis yang berbeda, dan menyatukan kelebihan sehingga menjadi sempurna.

Sahabat, kita perlu untuk mengetahui ilmu tentang kehidupan rumah tangga, terkhusus kita juga harus mengetahui hak istri terhadap suami atau hak suami terhadap istri, plus kewajiban masing-masing yang harus dilaksanakan. sehingga ketika kita memasuki gerbang pernikahan, kita memiliki bekal untuk menjalani lembar kehidupan rumah tangga,

Nah sahabat, di rubric pemuda hijrah kali ini kita akan membahas hak-hak suami terhadap istri.

Sahabat, Hak suami atas istri termasuk salah satu hak yang paling agung untuk ditunaikan oleh seorang wanita. Bahkan haknya suami atas istrinya lebih besar daripada haknya istri atas suaminya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam quran surat al-Baqoroh ayat 228.

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”

Adapun sahabat, diantara hak-hak suami terhadap istri adalah.

Yang pertama, kewajiban istri untuk taat kepada suami, atau hak suami untuk mendapatkan ketaatan dari istri.

Sahabat hijrah, Allah telah jadikan para suami sebagai pemimpin atas istrinya. Ia wajib mengatur, mengarahkan dan mengurusi istrinya sebagaimana pemimpin yang mengurusi rakyatnya. Hal ini karena Allah telah istimewakan kaum lelaki dari fisik, akal, dan beban nafkah.

Allah Ta’ala berfirman di dalam quran surat an-Nisa ayat 34.

اَلرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Kemudian hak yang kedua, Siap melayani suaminya dalam urusan ranjang saat ia memintanya.  Ini termasuk hak suami atas istrinya setelah suami menyerahkan mahar dari perkawinannya. Maka jika seorang istri menolak untuk melayani suaminya maka ia telah melakukan dosa besar, kecuali ia memiliki udzur syar’i seperti haid, puasa wajib, sakit dan semisalnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda.

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu ia menolak sehingga suaminya di malam itu murka kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi. mutafaqun alaih.

Kemudian juga di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah disebutkan bahwa Saat Mu’adz tiba dari Syam, ia bersujud kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam berkata.”Apa ini wahai Mu’adz?.”

Mu’adz menjawab. “Aku telah datang ke Syam, aku temui mereka bersujud kepada para pemimpin dan penguasa mereka. Lalu aku berniat dalam hatiku melakukan itu kepada Anda.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda. “Jangan lakukan itu, kalau saja aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah, pastilah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya.

Kemudian pendengar, hak yang ketiga, seorang istri Tidak mengizinkan masuk ke rumahnya orang yang tidak disukai suaminya. janganlah ia membawa masuk ke dalam rumahnya orang yang dibenci suaminya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda.

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

“Tidak boleh bagi wanita untuk berpuasa sunnah sementara suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya. Istri juga tidak boleh memasukkan orang lain ke dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Dan harta yang ia nafkahkan bukan dengan perintahnya, maka setengah pahalanya diberikan untuk suaminya. hadits riwayat Bukhori.

Kemudian hak yang keempat,  Tidak keluar rumah kecuali dengan izin suami.

Pendengar, para ulama mazhab syafi’I dan hambali berpendapat bahwa seorang istri tidak boleh keluar untuk menjenguk ayahnya yang sakit kecuali dengan izin suaminya. suami punya hak untuk melarang istrinya untuk keluar rumah dengan tujuan apa pun, karena ketaatan kepada suami adalah wajib, maka tidak boleh meninggalkan perkara wajib dengan sesuatu yang tidak wajib.”

Kemudian yang kelima,  Suami memiliki hak mendisiplinkan istrinya saat ia tidak patuh kepada perintahnya dengan cara yang baik, Sebabnya, Allah Ta’ala telah memerintahkan mendisiplinkan wanita dengan hajr, apa itu hajr?. hajr adalah menjauhkan dari tempat tidurnya, dan memukul istri ketika tidak mau taat. Tentunya pukulan di sini pukulan yang tidak meninggalkan bekas dan tidak membuat istri cedera, juga tidak dilakukan pada anggota tubuh yang riskan.

Kemudian hak yang keenam, Istri berkhidmat kepada suaminya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa seorang istri wajib membantu suaminya dengan cara yang ma’ruf. Ini sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. ini berarti setiap istri harus melayani suami sesuai dengan adat atau kebiasaan di daerah tersebut selama tidak bertentangan dengan syariat.

Sahabat hijrah, Sesungguhnya pemenuhan hak suami oleh istri merupakan ladang kebaikan yang besar. begitu juga sebaliknya, seorang suami yang bersikap baik dan memuliakan istrinya juga merupakan ladang kebaikan yang besar dan tidak boleh ditinggalkan.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya. “Apabila wanita menunaikan shalat lima waktu, puasa romadhon, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka disampaikan kepadanya, masuklah surga dari pintu mana saja yang kamu mau.

Dan diriwayatkan dari al-Husain bin Mihshan, bahwa bibinya pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam karena satu keperluan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadanya. “apakah kamu punya suami?.”

Ia menjawab,”Ya.”

Beliau bertanya lagi,”Bagaimana sikapmu terhadapnya?.”

Ia menjawab. “Aku tidak kurangi hak-nya kecuali apa yang aku tidak mampu.”

Beliau bersabda. “Perhatikan sikapmu terhadap suamimu, karena suamimu surga dan nerakamu. hadits riwayat Imam Ahmad dan Hakim.

Nah sahabat, maksud dari suamimu adalah surga dan nerakamu adalah, masuk surganya seorang wanita itu tergantung dari ketaatannya kepada suami, dan masuk nerakanya seorang istri tergantung dari kedurhakaannya kepada suami.

Nah sahabat, sekian pemaparan hak-hak suami terhadap istri, semoga hal ini bisa menjadi wawasan keilmuan kita. Tentunya untuk yang masih lajang bisa menjadi bekal sebelum memasuki gerbang pernikahan, dan untuk yang sudah menikah menjadi pegangan dalam bergaul bersama suami atau istri.

Semoga bermanfaat.

%d blogger menyukai ini: