Sesungguhnya penyimpangan dalam masalah takfir atau mengkafirkan telah ada semenjak awal sejarah ummat ini. Yaitu dengan memberontaknya kaum Khowarij  kepada Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Tholib pada tahun 37 Hijriyah setelah beliau memandatkan tahkim. Yaitu menunjuk dua orang hakim untuk menjadi juru damai dalam memutuskan perkara pada Perang Shiffin. Mereka mengingkari ‘Ali tentang hal ini, lalu mereka mengkafirkan ‘Ali, dua orang hakim yaitu ‘Amr bin al-‘Ash dan Abu Musa al-Asy’ari  dan orang-orang yang ridho dengan keputusan itu.

Ibnu Katsir berkata,”Ketika ‘Ali mengutus Abu Musa dan sejumlah pasukan bersamanya ke Daumatul Jandal, maka kaum Khowarij  semakin menjadi-jadi. Mereka berlebih lebihan dalam mengingkari ‘Ali, dan akhirnya mereka secara terang-terangan mengkafirkannya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,”Karena inilah, wajib berhati-hati dalam mengkafirkan kaum Muslimin dengan sebab dosa dan kesalahan yang dilakukan. Karena hal ini merupakan bid’ah yang pertama kali muncul dalam Islam, sehingga pelakunya mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka.”

Pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahlus Sunnah meyakini bahwa iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.

Imam Ahmad berkata, “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.
Imam Abu ‘Utsman Isma’il ash-Shobuni  berkata, “Dan di antara madzhab Ahlul Hadits bahwa iman adalah perkatan, perbuatan, dan pengetahuan. Bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat.”

Imam al-Ajurri berkata, “Sesungguhnya pendapat ulama kaum Muslimin ialah bahwa iman wajib atas seluruh makhluk; yaitu membenarkan dengan hati, menetapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.”

Kesimpulannya, iman menurut Ahlus Sunnah terdiri dari tiga pokok, yaitu keyakinan hati, perkataan lisan, dan perbuatan anggota badan. Dari tiga pokok inilah bercabangnya cabang-cabang iman.

Inti dari pendapat Murji’ah dalam masalah iman ialah, mengeluarkan amal perbuatan dari nama iman, dan bahwasanya iman tidak bercabang-cabang dan tidak terbagi-bagi, tidak menerima tambahan maupun pengurangan, bahkan iman itu sesuatu yang satu, seluruh orang Mukmin sama keimanannya. Inilah pokok pendapat mereka yang telah disepakati oleh seluruh firqoh mereka.

Khowarij  dan Mu’tazilah masing-masing meyakini bahwa, al-iman al-mutlaq atau pokok keimanan mencakup hal melakukan seluruh amalan ketaatan dan meninggalkan seluruh hal yang diharamkan. Bila sebagian dari hal ini hilang pada diri seseorang, maka batallah keimanannya, dan ia berada di dalam neraka, kekal selama-lamanya. Kemudian kedua firqoh ini berselisih mengenai penamaan orang fasiq atau pelaku dosa besar di dunia. Khowarij  mengatakan, pelaku dosa besar adalah kafir. Sedangkan Mu’tazilah mengatakan, bahwa pelaku dosa besar berada dalam satu kedudukan di antara dua kedudukan atau tidak mukmin dan tidak juga kafir.

Nah, Sumber kesalahan firqoh-firqoh sesat yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah iman, kembali pada satu syubhat, yaitu keyakinan mereka bahwa iman adalah sesuatu yang satu, tidak terbagi-bagi atau bercabang.

Perbedaan secara umum antara Ahlus Sunnah dan firqoh-firqoh sesat dalam masalah iman, terdapat pada tiga masalah.

Masalah Pertama. Ahlus Sunnah berpendapat bahwasanya iman itu terbagi-bagi dan bercabang-cabang. Apabila sebagiannya hilang, maka sebagian lain tetap ada. Berbeda dengan firqoh-firqoh sesat secara umum, karena mereka tidak berpendapat seperti itu, sebagaimana yang telah dijelaskan.

Masalah Kedua. Iman menurut Ahlus Sunnah dapat bertambah dan berkurang. Dan dalam hal ini, orang yang beriman itu bertingkat-tingkat. Sedangkan kebanyakan ahlul bid’ah tidak berpendapat demikian, karena didasari pokok pendapat mereka, yaitu iman tidak dapat dibagibagi dan tidak bercabang-cabang.
Dan Masalah yang Ketiga. Menurut Ahlus Sunnah, terkadang pada diri seseorang terkumpul antara kufur dan iman, syirik dan tauhid, dan ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh berbagai nash.

Dalam masalah ini, sebagian besar ahlul bid’ah menyelisihi dan mengingkarinya. Bahkan, Paham Khowarij  berpendapat, bahwa tidak mungkin terkumpul keimanan dan maksiat pada diri seseorang.

Padahal Imam Ibnul Qoyyim mengatakan,”Dan di sini ada pokok yang lain, yaitu terkadang terkumpul pada diri seseorang kekafiran dan iman, syirik dan tauhid, takwa dan maksiat, nifaq dan iman. Inilah di antara pokok Ahlus Sunnah yang agung. Selain mereka, yaitu dari kalangan ahlul bid’ah menyelisihinya, seperti Khowarij , Mu’tazilah, dan Qodariyyah.

Dan permasalahan keluarnya pelaku dosa besar dari neraka dan kekekalan di dalamnya,  dibangun diataspokokini.”
Makna perkataan mereka Ahlus Sunnah berkumpul di dalam dirinya kufur dan keimanan, maksudnya, berkumpul di dalamnya cabang-cabang kufur dan cabang-cabang iman; karena perbuatan maksiat merupakan cabang dari kekufuran. Adapun perbuatan ketaatan, termasuk cabang keimanan. Setiap cabang dari cabang-cabang kekufuran disebut kufur, dan setiap cabang dari cabang-cabang keimanan disebut dengan iman.

Demikianlah artikel tentang Iman yang benar yang harus ada dalam diri seorang muslim yang sesuai dengan Manhaj ahlussunnah wal jamaah yaitu kita harus meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan Dan Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan kita kepada Alloh dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Semoga bermanfaat, wallohu a’lam.

%d blogger menyukai ini: