Link sebelumnya http://fajribandung.com/hukum-isbal-1/

Hadits Kelima :
Artinya:
“Dari Ibnu Mas’ud beliau melihat seorang arab gunung sholat dan kainnya melebihi mata kaki, beliau berkata: Seorang yang memanjangkan kainnya dalam sholat, maka Allah tidak menghalalkan baginya (syurga) dan tidak pula mengharamkan baginya (neraka)”. (HR. Abu Daud Ath Thayalis (351), Ath Thabrani dalam Al Kabir 9/315, 10/284, Al Baihaqi dalam Sunan-nya 2/242, berkata Al Hafidz dalam Al Fath 10/257 : Sanadnya hasan dan hal seperti ini tidak bisa ditafsiri dengan akal, untuk itu tidak mengapa untuk memahaminya sesuai dengan dhahir hadits, derajat hadits shahih dengan syarat Imam yang enam)

Kenapa Ibnu Mas’ud mengucapkan hadits ini kepada seorang arab gunung padahal ia sedang berhadapan dengan Allah (sholat), kalau seandainya perkaranya memungkinkan dua makna yaitu antara meniatkan kesombongan dan tidak meniatkannya, kenapa Ibnu Mas’ud sampai mengatakan kepadanya tentang hal ini, bisa jadi ia memanjangkannya dengan tanpa niat sombong, jika memang perkaranya bisa diartikan seperti ini. Akan tetapi Ibnu Mas’ud mengetahui sepenuhnya bahwa isbal itu termasuk perbuatan sombong dan orang yang berbuat isbal tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat kelak, seperti telah disebutkan.

Berkata Ibnu al-‘Arabi: “Tidak sepantasnya orang yang memanjangkan kainnya berkata: “Aku tidak memanjangkannya karena sombong”, karena lafadz hadits telah mencakup larangan. Dan tidak sepantasnya pula bagi orang yang demikian untuk menyelisihi lafadz tersebut (yang berisi larangan), karena hukumnya sama seperti orang yang mengatakan: “Aku tidak akan melaksanakannya karena illat (sebab sombong) tidak ada padaku”, sesungguhnya pengakuan seperti ini tidak dapat diterima, karena justru dengan memanjangkannya berarti kesombongan”. (Aunul Ma’bud 11/142)

Begitu pula Al Hafidz Ibnu Hajar mementahkan sangkaan orang yang mengatakan bahwa pengharaman isbal itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sombong. Beliau mambantah: “Kalau memang keadaanya seperti itu, tidak ada artinya Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah tentang hukum wanita yang memanjangkan kainnya, bahkan beliau radhiallahu ‘anha memahami bahwa isbal itu dilarang secara mutlak (bagi laki-laki dan wanita) baik dengan sombong atau tidak, maka beliau bertanya tentang hukum wanita dalam masalah ini, karena wanita justru membutuhkan akan panjangnya kain guna menutupi aurat”. (Fathul Bari 10/259)

Bersamaan dengan ini Nabi Saw. mengikrarkan bahwa pengharaman isbal umum bagi laki-laki dan wanita, walaupun tidak meniatkan sombong, hal yang demikian disebabkan karena mencari tahunya Ummu Salamah setelah ia mendengar hadits yang dibawa oleh Ibnu Umar secara marfu’: “Barang siapa yang memanjangkan kainnya dengan sombong Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat”.

Begitupun Ummu Salamah memahami bahwa kain yang melebihi mata kaki ialah maksud dari pada larangan itu sendiri, untuk itu beliau mencari tahu dan mengikrarkan pemahamannya terhadap hadits di atas, dan dijawab oleh Nabi bahwa wanita mempunyai hak untuk memanjangkan kainnya sebatas satu hasta dan tidak lebih dari itu, sebagaimana tersebut dalam hadits yang akan datang insya Allah .

Jika kita perhatikan dari pemahaman sahabat dan orang-orang yang mengikutinya tentang tata cara berpakaian sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah, berikut menjadikan tempat (batasan) tertentu pada badan, yang tidak berhak bagi seorang pun untuk menyimpang darinya, seperti apa yang telah beliau katakan: “tidak ada kebaikan apa yang melebihi darinya (mata kaki)”, dan

perkataan beliau “kain yang di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka”, atau lafadz-lafadz lain yang mengancam akan isbal, maka seharusnya orang yang berpegang teguh dan arif dengan agamanya akan selalu ingin menjauhkan dirinya dari kemarahan dan adzab Allah, serta senang mendapat ridho Allah, masuk syurga dan melihat wajah-Nya, karena itu sudah sewajarnya bagi kita untuk selalu berusaha dengan sungguh-gungguh dalam menjalani petunjuk dan berjalan diatas apa yang telah ditentukan oleh Rasulullah.

Kebanyakan dalam hadits-hadits yang telah disebutkan berbicara seputar permasalahan isbal dan yang melebihi dari mata kaki, ada banyak dalil yang mengecam dan mengancam orang yang memanjangkan kainnya dengan sombong, takabbur dan merasa lebih tinggi dari yang lain, yang mengharuskan kita untuk berhati-hati dari isbal, berikut uraiannya :

Hadits Pertama :
Artinya:
“Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhu berkata: Berkata Rasulullah Saw.: “Barang siapa yang memanjangkan kainnya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat kelak”. Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya sebelah kainku melorot (karena kendor), tetapi aku selalu berusaha menjaga kain itu dari isbal, Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh engkau bukan termasuk orang yang berbuat sombong” (HR. Bukhari 7/19, 10/254, 378, Abu Daud (4085), Nasa’i 8/208, Ahmad 2/147, Al Humaidy (649), Ath Thabrani dalam Al Kabir 12/299, 301, Al Baihaqi 2/243, Al Baghawi 12/9)

Hadits Kedua :
Artinya:
“Dari Ibnu Umar bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda: ketika seorang laki-laki memanjangkan kainnya dengan sombong, ia ditenggelamkan dengannya lalu berteriak di dalam bumi sampai hari kiamat”. (HR. Bukhari 6/515, 10/258, Nasa’i 8/206, Ahmad 2/66, Hunad dalam Az Zuhdi (842) dan Abu ‘Awanah 5/475-478)

Hadits Ketiga :
Artinya:
“Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda: ketika seorang laki-laki berjalan sombong dengan mengenakan pakaian yang membuatnya ta’ajub (besar diri), Allah pun menenggelamkannya ke dalam bumi dan ia berteriak sampai hari kiamat”. (HR. Muslim (2088), Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 1/413, 2/212, Ahmad 2/390,531, Thayalis (2469), Abdur rozaq 11/82, Ali ibnu Al Ja’di (1168), Abu Na’imaka dalam Al Hilyah 8/389).

Hadits Keempat :
Artinya:
“Dari Ibnu Umar dari Nabi saW. bersabda: “isbal itu pada tiga tempat: kain, qomis dan sorban, barang siapa yang memanjangkan darinya sedikit saja dengan rasa sombong, Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud (4094), Nasa’i 8/208, Ibnu Majah (3576), Ibnu Abi Syaibah 8/208, Hunad dalam Az Zuhdi (847), derajatnya hasan karena seseorang bernama Ibnu Abi Rawwad yang dianggap terpercaya oleh Yahya Al Qatthan, Ibnu Ma’in dan ibnul Mubarak)

Hadits Kelima :
Artinya:
“Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah saw. bersabda: “Ketika seorang laki-laki sombong lagi besar diri dengan jambul pada pakaiannya, dan ia memanjangkan kainnya, Allah pun menenggelamkannya dengan (perbuatan itu) dan ia berteriak (atau dikatakan ia menukik jatuh) ke dalamnya sampai hari kiamat”. (HR. Bukhari 10/258, Muslim (49), (2088), Ahmad 2/267, 315, 456, 467, Abu ‘Awanah 5/471-472)

Hadits Keenam :
Artinya:
“Dari Ibnu Umar bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah tidak akan melihat orang yang memanjangkan kainnya dengan sombong”. (Malik dalam Al Muwaththa’ 2/914, Bukhari 10/252, Muslim (2085), Tirmidzi 4/223, Ahmad 2/10, Ibnu Abi Syaibah 8/199, Hunad dalam Az Zuhdi (844), Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 7/277, Ath Thabrani dalam Al Kabir 12/407, Ibnu ‘Adi dalam Al kamil hal. 2254)

Hadits Ketujuh :
Artinya:
“Dari Hubaib bin Mughoffal Al Ghifari bahwasannya ia melihat Muhammad Al Qurasy berdiri dengan memanjangklan kainnya. Maka Hubaib pun melihat kepadanya dan berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang menurunkan (kainnya) dengan sombong, maka Allah akan merendahkannya di neraka”. (HR. Ahmad 3/437,438, 4/237, dan anaknya Abdullah dalam Zawaid Al snad 3/437, 4/237, Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 8/257, Abu Ya’la 3/111, Ath Thabrani dalam Al Kabir 22/206 dan dishahihkan oleh Al Hafidz dalam Al ishobah 9/125, 10/237 dan derajatnya shahih)

Hadits-hadits yang telah disebutkan sebagiannya menyebutkan tentang isbal, akan tetapi maksud yang terkandung di dalamnya lebih besar lagi, yaitu takabbur dan merasa besar diri, hadits di atas tidaklah bertentangan dengan hadits-hadits isbal pada umumnya, sebagaimana yang telah lalu bahwa orang yang memanjangkan kainnya akan mendapatkan hukuman yang berat begitu pula ancaman bagi siapa saja yang memanjangkannya lebih dari mata kaki, tetapi hukuman yang terdapat pada pelanggaran isbal kali ini lebih berat dan lebih besar, untuk itu hendaknya kita pandai-pandai membedakan antara hukuman bagi pelaku isbal saja, dengan orang yang isbal disertai sombong dan takabbur, setiap dari keduanya diadzab sesuai dengan berat hukuman masing-masing, karena adzab pada orang yang Nabi katakan dalam haditsnya “apa yang melebihi mata kaki, maka tempatnya di neraka”, tidak sama timbangan adzabnya pada orang yang Nabi sebutkan dalam haditsnya “barang siapa menurunkan kainnya dengan sombong , maka Allah akan merendahkannya di neraka”.

Setiap dari kita mengetahui bahwa penduduk neraka itu berbeda-beda dalam merasakan atau mendapatkan adzab, walaupun mereka sama-sama berada di dalamnya, di antara mereka ada yang mendapatkan adzab berlipat-lipat dibandingkan dari yang lain, di antara mereka pula ada yang mendapatkan seringan-ringannya adzab walaupun ia mengira bahwa dirinya adalah orang yang paling besar adzabnya.

Kalau kita mau menilik kembali kepada sekumpulan hadits-hadits terakhir di atas (yang menunjukkan akan takabbur), niscaya akan kita dapatkan bahwa sebagian besar hadits tersebut menunjukkan akan tidak melihatnya Allah kepada para pelaku isbal, maka hukuman adzab di neraka lebih dahsyat dibanding dari yang selainnya, yaitu adzab yang ia rasakan dari waktu kematian sampai hari kiamat, dengan dalih sabda Nabi : “ia berteriak di dalam bumi sampai hari kiamat”. maka jelaslah bahwa setiap ma’siat mempunyai timbangan adzab masing-masing, untuk itu tidaklah pantas seorang mengatakan : aku memanjangkan kain bukan karena sombong, maka kita katakan : kalau ia memakainya tanpa kesombongan maka ia mendapatkan adzab yang telah ditentukan, kalau diniati sombong, maka adzabnya lebih besar lagi.

Beberapa Syubhat dan Jawabannya
Setelah mengetahui dalil-dalil yang cukup jelas tentang isbal, kita akan mengupas syubhat (pengkaburan dari hal yang sebenarnya) pada sebagian orang yang berpendapat bahwa isbal itu hanya disyariatkan bagi orang-orang yang sombong, mereka berdalih dengan alasan yang sangat lemah yang tidak mampu manghadang dalil yang telah tetap tentang pengharaman isbal, di antara dalih yang sering mereka gemborkan ialah hadits Ibnu Umar ketika Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah, sungguh kainku yang sebelah melorot (karena kendor) dan aku selalu berusaha menjaganya dari isbal, Rasulullah menjawab: “Engkau bukanlah orang yang berbuat sombong”, dalam riwayat yang lain, Abu Bakar berkata : sungguh kainku terkadang melorot, Nabi menjawab: “Engkau bukanlah dari mereka”. Dalam riwayat lain juga beliau berkata: Sungguh sebelah kainku melorot dan aku selalu berusaha menjaganya dari isbal. Nabi bersabda: “engkau bukanlah orang yang berbuat demikian”.

Syubhat Pertama :
Mereka mengatakan: Sesungguhnya sabda Rasul kepada Abu Bakar: “Sesungguhnya engkau bukanlah yang berbuat demikian”, menunjukkan bahwa larangan di sini hanya apabila diniatkan sombong, dan apabila tidak diniatkan sombong, maka tidak termasuk dalam ancaman hadits tersebut.

Jawaban:

  1. Sebagaimana sabda Nabi kepada Hudzaifah ketika beliau memegang tulang betisnya beliau berkata : “ini tempat (batas) kain, apabila engkau keberatan maka turunkan (sampai sebatas mata kaki), apabila masih keberatan maka tidak ada hak bagi kain di bawah mata kaki”
    Kalau kembali membaca hadits ini, apa kira-kira yang engkau pahami ?, apakah engkau memahami apabila tidak diniati sombong boleh bagi seseorang untuk memanjangkan kain sekehendaknya ?, ataukah engkau memahami bahwa Nabi menyuruh untuk menjadikan tempat (batas) kain seperti yang telah beliau tentukan pada awalnya (setengah betis) dan kemudian boleh menurunkan sampai sebatas mata kaki, lalu beliaupun mengancam kepada orang yang memanjangkan lebih dari mata kaki dengan sabdanya : “tidak ada hak bagi kain untuk melebihi mata kaki”.
    Dan ini sungguh sangat jelas, karena dengan ini orang tidak memungkinkan untuk mengadakan syubhat akan bolehnya melakukan isbal dengan alasan apabila tidak sombong, diperjelas dengan sabda Nabi kepada Ibnu Umar ketika kelihatan kainnya menjulur (isbal): Wahai Abdullah, angkatlah kainmu! kemudian beliau berkata: angkatlah lagi! dan hadits-hadits lainnya, yang tidak ada keterangan tentang bolehnya isbal jika tidak sombong.
  2. Sesungguhnya Abu bakar tidak mengatakan: “Aku jadikan kainku panjang” atau “aku memakai pakaian panjang ” tetapi beliau berkata: “inna ahada syiqqoy izaari” (sesungguhnya kainku yang sebelah), dalam riwayat lain “inna syiqqi izaari” (sesungguhnya sebelah kainku), dalam riwayat yang lain lagi “inna ahada jaanibay izaari” (sesungguhnya kainku yang sebelah). Lafadz “assyiqqi” (dengan syin kasroh) dalam lisanul arab: assyiqqi dan assyiqqah (dengan kasroh) berarti : “setengan dari pada sesuatu apabila dibelah”, dari sini diketahui bahwa yang dimaksud oleh Abu Bakar ialah setengan dari kainnya, adapun riwayat “inna izaari yastarkhii” (sesungguhnya kainku melorot), lalu berkata “ahyaanan” (kadang-kadang). Dan hampir di semua riwayat menyebutkan kalimat “yastarkhii“, dan dapat dipahami bahwa beliau tidak melakukannya dengan kesengajaan, karena kain beliau melorot dengan sendirinya, sebagaimana beliau katakan: “Illa an ata’aahada dzalika minhu” atau “liata’aahada dzalika minhu” (tetapi aku selalu berusaha menjaga kain itu dari isbal).

Berkata Abu Thayyib : “ta’aahuduhu” berasal dari kalimat “at ta’aahud” yang berarti menjaga dan memelihara. Maksudnya ialah sebelah kainnya yang melorot ketika digerakkan atau berjalan tanpa beliau sengaja, apabila beliau terjaga kain itu tidak akan melorot, karena setiap mau melorot beliau menariknya” . (Aunul Ma’bud 11/141)

Keadaan yang Abu Bakar ceritakan kepada Rasulullah ini dijawab oleh beliau Saw.: “Engkau bukanlah dari mereka (yang berbuat sombong)” atau “Engkau bukanlah orang yang berbuat sombong”, ini adalah sebuah kebenaran yang jelas, dan hendaknya setiap muslim berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dalam menjaga kainnya yaitu dengan menariknya apabila melorot bukanlah dari kesombongan sedikitpun, akan tetapi bagaimana mungkin perbuatan Abu Bakar dikiaskan (baca : disamakan) dengan orang yang menyengaja memakai pakaian panjang (isbal), lalu pergi ke tukang jahit dan mensyaratkan agar panjangnya sampai menyentuh tanah ?.

Begitu pula sebenarnya Abu Bakar tidak merelakan dirinya membiarkan kainnya melorot. Untuk itu setiap kain itu melorot beliau langsung tarik, dengan dalih perkataan beliau: “inni la ata’aahadu dzalika minhu” (aku selalu berusaha menjaga kain dari isbal). Beliau “selalu” menjaga dan berikrar pada dirinya untuk terus menjaga dari isbal, karena kalimat “ata’aahadu” (seperti yang baliau ucapkan) adalah fi’il mudhori’ (kata kerja untuk menunjukkan kejadian pada masa sekarang dan yang akan datang)

  1. Sabda Nabi Saw.: “Barangsiapa yang memanjangkan kainnya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat” Lalu Abu Bakar berkata: Sesungguhnya kainku yang sebelah melorot, Rasul menjawab dengan sabdanya “Engkau bukanlah termasuk dari mereka”, dari sini dapat dipahami bahwa Rasulullah tidak mencela pemahaman Abu Bakar, Nabi pun tidak memaksudkan perkataannya kepada Abu Bakar saja, dengan ini berarti Abu Bakar telah berikrar bahwa isbal itu adalah kesombongan, beliaupun membersihkan diri dari hal itu karena melorot pada kainnya bukanlah sesuatu yang beliau kehendaki.

Lanjut ke link http://fajribandung.com/hukum-isbal-3/

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: