Pembaca yang dirahmati Alloh

Salah satu problematika besar dalam rumah tangga yang seringkali diabaikan oleh keluarga yaitu pasangan hidup yang meninggalkan sholat. Perkara ini hakikatnya jauh lebih berat dibandingkan dengan problematika finansial dalam keluarga.

Jika yang meninggalkan sholat adalah suami, tentu sang istri akan merasa diresahkan. Meskipun sang suami tersebut bertipe romantis dan penuh cinta, namun ia kurang bertanggung jawab. Bahkan, tidak bertanggungjawab terhadap masa depan akhirat keluarganya. Betapa banyak suami yang bertipe “tidak beres” seperti ini. Jelas sekali tipe suami yang meninggalkan sholat adalah suami yang tidak beres. Bagaimana mungkin ia akan beres dengan manusia sementara hak dan kewajiban Alloh  yang utama ia telantarkan?

Nabi bersabda, “Perkara yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, maka akan baik seluruh amalnya. Jika sholatnya rusak, maka akan rusak seluruh amalnya.” (HR. Thobroni)

Maka jelas sekali bahwa meninggalkan sholat merupakan tanda kegagalan suami dalam memimpin keluarga menjadi keluaga sakinah, mawadah wa rohmah. Jika di dalam islam meninggalkan sholat merupakan dosa besar, Lantas bolehkah bagi seorang istri meminta/menggugat cerai (khulu’) terhadap suami? Mirip dengan kasus ini, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin  pernah ditanya sebagai berikut:“Suami saya meninggalkan sholat dan saya tahu bahwa orang yang meninggalkan sholat adalah kafir, sementara saya sangat mencintainya dan kami keluarga hidup bahagia karena telah dikaruniai anak. Saya sering menasehatinya, akan tetapi dia selalu mengatakan: “Suatu saat nanti saya akan mendapat petunjuk” Apa hukumnya jika saya meneruskan pernikahan tersebut?”

Dalam menanggapi pertanyaan tersebut, maka beliau menjawab, “Tidak boleh seseorang (istri) bertahan terhadap suami yang meninggalkan sholat karena dia mengetahui bahwa orang yang meninggalkan sholat adalah kafir. Maka dilarang bagi istri mempertahankan hidup bersama seorang suami yang telah dianggap kafir berdasarkan firman Alloh, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian wanita-wanita yang beriman, maka hendaklah kalian uji keimananmereka. Alloh lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman, maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada suami-suami mereka orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka” (QS. al-Mumtahanah [60]: 10)

Pada ayat tersebut, wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kafir dan begitu pula sebaliknya, dengan demikian, sebaiknya wanita tersebut segera meninggalkan suaminya itu dan segera pisah, sebab suami tersebut sudah tidak halal baginya. Mengenai cinta dan kemesraan hidup yang telah dijalani bersama suaminya, apabila mengetahui bahwa suami tersebut sudah tidak halal lagi baginya dan sudah menjadi orang lain, maka cinta dan kemesraan itu akan hilang dengan sendirinya sebab kecintaan seorang mukmin hanyalah kepada Alloh, dan aturan Alloh di atas segala-galanya. Setelah itu laki-laki tersebut tidak berhak menjadi wali bagi anak-anaknya, karena wali bagi seorang muslim harus beragama Islam.

Sebaiknya wanita tersebut selalu memberi nasihat kepada suaminya agar kembali ke jalan kebenaran dan melepas baju kekafiran serta segera menunaikan sholat sebaik mungkin dengan disertai amal sholih. Apabila suami tersebut bertetap hati dan bersungguh-sungguh pasti Alloh akan memudahkan semuanya, sebagaimana firman Alloh, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Alloh) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. al-Lail [92]: 5-7)

Dan saya nasehatkan kepada sang suami agar bertaubat kepada Allohagar istri dan anak-anaknya tetap hidup bersamanya, bila tidak bertaubat, maka akan kehilangan istri dan anak-anaknya serta tidak dianggap kewaliannya.

Jadi dibolehkan bagi istri meminta cerai kepada suami dengan alasan suami meninggalkan sholat. Alasan tersebut sangat syar’i sehingga ia tidak dikategorikan sebagai istri yang mendapatkan laknat Alloh lantaran meminta cerai dengan alasan yang tidak dibenarkan agama. Sebagaimana hadis Nabi dari Tsauban bahwasanya Nabi bersabda:

أَيُّمَا اِمْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقاً مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةَ الْجَنَّةِ.

“Setiap wanita yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat maka haram baginya mencium aroma surga” (HR. Abu Dawud)

Sebaliknya, dibolehkan juga bagi suami untuk menceraikan istrinya karena ia meninggalkan sholat. Istri yang meninggalkan sholat juga termasuk tipe istri yang tidak beres meskipun ia lembut dan penuh kasih sayang. Kasih sayang tersebut kelak tidak ada gunanya di hari seorang lari saudaranya. Begitu juga lari dari ayah dan ibunya karena semuanya sibuk mementingkan dirinya di hari kiamat.

Meskipun secara syar’i boleh diceraikan tentunya hal tersebut setelah melalui proses dakwah dan nasihat serta iqomatu hujjah (diklarifikasi dengan menanyakan dan menjelaskan sehingga memang tidak ada syubhat lagi dalam masalah tersebut).

Dalam surat al-Mumtahanah di atas Alloh juga menjelaskan, “Dan janganlah kalian (para suami) tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.”(QS. al-Mumtahanah [60]: 10)

Dari ayat tersebut jelas sekali bahwa Alloh memerintahkan suami untuk menceraikan para istri yang mereka yang berstatus kafir. Dan diantara bentuk kekafiran adalah dengan meninggalkan sholat. Nabi bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

“Batasan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR.Muslim)

Abdulloh bin Syaqiq  yang merupakan seorang tabi’in terkenal berkata, “Para sahabat Nabi tidak beranggapan ada satu amal yang jika ditinggalkan dapat menyebabkan kafir, selain sholat.” (HR. Tirmidzi dan dishohihkan al-Albani)

Jadi perkara meninggalkan sholat bukan perkara biasa di dalam islam. Oleh karena itu, upaya pertama yang harus ditempuh oleh pasutri yang meninggalkan sholat adalah dengan menasihati dan mendoakannya semaksimal mungkin. Jika masing-masing bertaubat maka hal tersebut lebih baik. Namun jika tetap bersikeras meninggalkan sholat maka jalan terbaik adalah dengan berpisah dengan orang yang telah keluar dari keimanannya. Wallahu a’lam bishowab. Semoga Alloh menjadikan keluarga kita para hamba yang senantiasa menegakkan sholat. Amiin…Wallohu ta’ala a’lam…

Oleh: Hawari, Lc., M.E.I.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: