Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menyampaikan kepada koleganya dari Turki Mevlut Cavusoglu bahwa Teheran “menentang” rencana operasi militer Turki di Suriah. Penolakan ini disampaikan melalui sambungan telepon, seperti pernyataan resmi Deplu Iran.

Menurut pernyataan itu, Cavusoglu mengatakan kepada Zarif pentingnya menghormati kedaulatan wilayah Suriah. Ia menekankan bahwa operasi Turki di wilayah Suriah akan sementara.

Sementara itu, Zarif menekankan bahwa Iran menentang operasi militer dan menyerukan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah dan kedaulatan nasional.

Seperti diketahui, Turki menyatakan siap menggelar operasi di Timur Sungai Eufrat, wilayah kontrol milisi Kurdi YPG. Amerika serikat telah memberi lampau hijau kepada Turki untuk menyerang sekutunya itu.

Iran dan Rusia, yang merupakan sekutu Damaskus, dan Turki yang mendukung oposisi Suriah, telah mengadakan pembicaraan sejak Januari 2017 di Astana.

Zarif mengungkapkan dalam pembicaraan itu bahwa Perjanjian Adana yang mengikat Ankara dan Damaskus adalah cara terbaik untuk mengatasi ketakutan timbal balik.

Perjanjian Adana merupakan kesepakatan kerja sama yang ditandatangani pada tahun 1998 antara Turki dan Suriah di kota Turki. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri krisis antara Ankara dan Damaskus, yang kemudian disebabkan oleh kehadiran pemimpin PKK Abdullah Ocalan di Suriah.

Turki percaya bahwa perjanjian ini memberikannya hak untuk campur tangan di wilayah Suriah untuk memerangi PKK dan gerakan terkaitnya jika rezim Suriah tidak bertindak menentangnya.

Di bawah perjanjian, Suriah telah berjanji untuk mencegah kegiatan PKK di wilayah utara. (kiblat.admin)

%d blogger menyukai ini: