Oleh: Dr. Slamet Muliono

Penulis Bina Qalam Indonesia

PEMERINTAH Jokowi telah mencanangkan gerakan “revolusi mental” untuk menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Maraknya penyimpangan jabatan, budaya korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan, serta terus bertahannya disorientasi dalam mengelola negara telah menjadi musuh bersama (common enemy). Oleh karena itu, revolusi mental merupakan gagasan besar untuk memecahkan problem besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Namun gerakan revolusi mental itu sudah terlihat indikasi kegagalannya. Betapa tumpul penegakan hukum di Indonesia ini terhadap penyimpangan yang secara mata kasat dilakukan secara sistematis dan terbuka.

Terbakarnya hutan di Pekanbaru, Riau, sehingga masyarakat  bernafas campur nafas lebih dari sebulan. Penambangan pasir secara illegal di Lumajang yang masih terus berlangsung meski telang membawa korban kematian Salim Kancil dan berbagai kasus lainnya.

Artinya, revolusi mental yang dicanangkan pemimpin tertinggi negara ini belum bisa memberikan harapan yang menggembirakan. Hal disebabkan keinginan atau mimpi besar yang ingin diterapkan tidak mampu menggerakkan warga negara untuk bersama-sama secara sinergis untuk mewujudkannya.

Kalau berkaca pada sejarah Islam, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah berhasil mewujudkan “Revolusi mental yang sebenarnya. Nabi Muhammad berhasil menanamkan sebuah ruh yang bisa menggerakkan hati individu untuk melakukan sebuah perubahan perilaku. Perubahan perilaku itu tergerak dari dalam hati mereka, sehingga mereka melakukan perbuatan-perbuatan agung dan mulia. Perbuatan mereka tercatat sebagai tinta emas dan tidak pernah dilupakan oleh sejarah kehidupan manusia hingga akhir zaman.

Nabi Muhammad dalam waktu yang begitu cepat bisa mengubah tradisi yang begitu mengakar kuat, dan para sahabat secara sukarela meninggalkan perbuatan yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan mereka harus rela menghadapi tantangan yang begitu hebat atas kokohnya mereka dalam berpegang teguh terhadap ajaran Islam ini.

Tauhid telah tertancap di dalam dada-dada mereka. Apakah ini bukan revolusi mental yang sejati dan hakiki. Bukan lagi revolusi mental yang basa-basi dan lipservice sebagaimana yang sering kita dengar begitu manis dan menjanjikan di tengah kerusakan moral anak bangsa ini.

Bagaimana Sa’ad bin Abi Waqqash bisa bertahan dengan keimanannya ketika ibunya  mengancam mogok makan, dan meminta agar Sa’ad keluar dari agamanya. Bahkan Saad dengan lemah lembut mengatakan “Andaikata ibu memiliki seratus nyawa dan keluar satu persatu untuk mengeluarkan saya dari agamaku, maka aku akan tetap berpegang teguh pada agamaku.” Faktor apa yang menggerakkan hati Sa’ad bin Abi Waqqash  tidak memematuhi perkataan ibunya ?

Begitu pula apa yang menggerakkan tiga orang pemuda setelah mendatangi Aisyah untuk menanyakan ibadah yang dilakukan nabi, maka setelah memperoleh jawaban dari Aisyah, maka pemuda pertama bertekad untuk berpuasa terus menerus dan tak berbuka, sementara pemuda kedua ingin shalat malam dan tak akan tidur sepanjang malam. Kemudian pemuda ketika berjanji tidak akan menikah selama-lamanya. Faktor apa yang menggerakkan hati tiga pemuda untuk melakukan perbuatan-perbuatan itu ?

Dalam sejarah dikatakan bahwa dua suku, Aus dan Khazraj, terus berperang dan tak pernah berhenti. Setelah datangnya Nabi, maka peperangan itu bisa berakhir, dan bahkan mereka menjadi satu kekuatan yang utuh dan bahu membahu di bawah panji Islam. Faktor apa yang membuat mereka bersatu dan menghentikan perilaku merusak itu ?

Bahkan Abu Thalhah dikenal di dalam kalangan sahabat sebagai orang yang langsung mensedekahkan kebun kurma terbaiknya begitu mendengar ayat Al-Qur’an yang disampaikan Nabi yang memerintahkan untuk bersedekah dengan apa yang dicintainya. Kebun milik Abu Thalhah itu adalah kebun yang paling dia cintai karena menghasilkan kurma yang sangat produktif dan berkualitas. Apa yang menggerakkan hati Abu Thalhah sehingga dengan senang hati memberikan kebun terbaiknya kepada Nabi ?

Kalau kita mengenal sejarah raja Romawi, Heraklius, yang hampir masuk ke dalam agama Islam di hadapan Abu Sufyan, yang waktu itu masih kafir. Kekaguman Heraklius terhadap kebenaran Islam telah menggerakkan hatinya untuk membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad lewat utusan yang menghadap kepada raja Romawi terbesar waktu itu.  kalau saja bukan karena pengaruh dan bisikan para pembesar, serta ketakutan akan hilangnya pengaruh, kedudukan, dan jabatannya maka dia kembali lagi ke agamanya. Faktor apa yang menggerakkan hati Heraklius hingga sempat goyah dan hampir saja masuk ke dalam agama Islam ?

Salah satu di antara faktor yang bisa diketengahkan untuk menjawab pertanyaan di atas adalah adanya keyakinan tentang balasan di hari akhir (kiamat) atas perbuatan-perbuatan yang dilakukannya ketika di dunia. Hal inilah yang membuat menghentikan perbuatan buruk mereka dan berganti dengan perbuatan mulia. Artinya, faktor agama (iman) inilah yang membuat perubahan atau revolusi mental.

Sementara kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh manusia saat ini tidak bisa dihentikan kecuali dengan menggerakkan hati mereka dari dalam dengan kekuatan agama ini. Adanya peraturan, undang-undang atau lembaga yang bertujuan untuk menekan angka kriminal kurang begitu maksimal. Hal ini karena secara internal tidak ada yang menggerakkan untuk mematuhi peraturan itu. Yang muncul dari dalam diri mereka justru untuk melawan dan menghancurkan peraturan itu.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang jelas-jelas sangat efektif dalam memberantas korupsi di Indonesia, justru memperoleh perlawanan. Apakah cukup hanya menggandalkan peraturan eksternal dalam mengadakan revolusi mental tanpa melibatkan sesuatu yang bersifat internal? Nabi Muhammad sudah membuktikan dalam sejarah untuk mengubah masyarakat dengan revolusi mental yang sejati yakni dengan ajaran agama. Nabi benar-benar menjalankan revolusi mental sebagaimana yang difirmankan Allah :

Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’ad : 11).

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: