Israel mengancam akan mengambil lebih banyak lagi tanah dan lahan pertanian milik Palestina di sekitar Kota Salfit, Tepi Barat. Hal itu ditentang oleh otoritas dan warga Palestina di sana. Direktur Urusan Sipil di Salfit Usama Musleh mengatakan Israel telah memperbarui surat perintah pengambilalihan lahan di sana. Surat itu telah dibagikan kepada para petani Palestina di daerah tersebut.

Musleh mengatakan bahwa Pasukan Israel menggunakan tanah ini untuk jangka waktu antara empat dan enam tahun. Kemudian mereka mencaploknya untuk permukiman. Hal ini diungkapkan Musleh kepada media hari kemarin.

Musleh mengatakan sebelumnya Israel telah melakukan hal serupa. Mereka mengambil lahan milik warga Palestina di sana, kemudian mengklaimnya sebagai bagian dari wilayahnya. Gubernur Salfit Abdullah Komeel menyatakan tak akan tinggal diam menghadapi rencana Israel mencaplok lahan pertanian di wilayahnya. Sebab luas tanah tersebut mencapai ratusan hektare.

Pernyataan serupa diutarakan Sekretaris Jenderal Persatuan Petani Palestina Jammal Hammad.  Hammad mengungkapkan selama ini pasukan Israel juga kerap menghalangi dan mencegah para petani Palestina untuk bertani di lahan pertanian atau kebun mereka. Para petani juga sering diserang pemukim Yahudi ekstremis saat mereka sedang memanen zaitun.

Pendudukan Israel terhadap Palestina merupakan pendudukan terpanjang di dunia modern. Hal itu disampaikan pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di wilayah Palestina Micharl Lynk saat menguraikan laporannya di Majelis Umum PBB pada 23 Oktober lalu.

Menurutnya, komunitas internasional masih enggan mengambil tindakan tegas atas pendudukan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Lynk menambahkan bahwa Komunitas internasional telah menerbitkan resolusi dan deklarasi yang tak terhitung jumlahnya yang mengkritik pendudukan Israel yang tak pernah berakhir. Tapi tidak menghasilkan apa-apa. (internasional.republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: