Israel mengklaim pada pekan ini telah mengembalikan pengiriman bahan bakar secara penuh ke Jalur Gaza. Sebelumnya Israel mengurangi setengah pasokan bahan bakar ke Gaza sebagai tanggapan terhadap tembakan roket Palestina.

Dilansir dari The Jerusalem Post, Selasa kemarin Pusat Hukum untuk Kebebasan Gerakan mengumumkan bahan bakar tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik di Gaza. Saat ini tiga turbin telah diaktifkan di pembangkit listrik Gaza. Pembangkit menyediakan 12 jam listrik per hari ke Jalur Gaza.

Pekan lalu, penyediaan listrik itu turun menjadi enam jam setelah pemotongan bahan bakar Israel. Pada Senin kemarin waktu setempat, 10 truk yang membawa 380 ribu liter bahan bakar dilaporkan memasuki Gaza melalui persimpangan Kerem Shalom.

Sekitar 3,1 juta liter bahan bakar yang dialokasikan tiap pekan untuk pembangkit listrik Gaza telah didanai oleh Qatar sejak Oktober 2018. Namun pengiriman bahan bakar ini, pada Agustus lalu dipangkas setengahnya oleh Israel.

Pembatasan Israel terhadap akses kebutuhan warga Gaza, seperti bahan bakar, kerap menjadi penentu hubungan antara Gaza dan Israel. Pembatasan bahan bakar oleh Israel sering menjadi pertanda ketegangan dan kekerasan yang meningkat. Ketika tidak ada pembatasan, berarti menunjukkan masa pemulihan. (internasional.republikas.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: