Sahabat hijrah, Setidaknya tujuh belas kali dalam sehari kita memohon bimbingan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus, Yakni dalam doa “Ihdinash shiraathal mustakim”. ya Allah tunjukilah kami ke jalan yang lurus. tentunya kita tahu apa yang dimaksud jalan yang lurus, yakni jalan ketundukan, jalan keimanan dengan berlandaskan quran dan sunnah.

Sahabat hijrah, berbicara tentang jalan yang lurus, maka kita harus berbicara tentang istiqomah, kenapa?. oleh karena itulah, di rubrik pemuda hijrah kali ini, saya mengajak sahabat untuk membahas tentang istiqomah, apa sih yang dimaksud dengan istiqomah itu?.

Ada dua hal yang harus kita ketahui tentang arti istiqomah.

Yang pertama, Istiqamah berarti lurus, niatnya hanya tertuju kepada Allah. Lurus amalnya, sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan as-sunnah.

Suatu hari, Rasulullah membuat suatu garis lurus dengan tangan beliau, seraya bersabda.“Ini adalah jalan Allah”.

Kemudian beliau membuat garis-garis lain di samping kiri dan kanannya, dan bersabda. “Ini adalah jalan-jalan yang lain, tidak ada satupun darinya melainkan padanya ada syetan yang menyeru kepadanya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Hakim.

Kemudian sahabat, Makna kedua dari istiqamah adalah mudaawamah atau continue, rutin dan berkesinambungan.

Layaknya orang yang menempuh perjalanan, tidak cukup baginya mengetahui arah jalan dan memahami rambu-rambu saja. Seseorang yang ingin sampai ke tujuan harus menempuh proses atau usaha untuk mendekati tempat tujuannya.,Dan tak ada cara yang lebih efektif mendekatkan seseorang ke tempat tujuan selain berjalan dengan continue dan rutin.

Karena sahabat hijrah, jalan menuju Allah bukanlah perjalanan yang pendek, butuh nafas panjang dan stamina yang senantiasa terjaga. Apa jadinya coba jika pelari marathon yang harus menempuh jarak yang jauh, namun ia berlari dengan gaya sprint yang sangat lambat. Ini hanya sekedar perumpamaan, sedangkan jalan menuju Allah, lebih jauh lagi dari itu.

Nah sahabat, tak heran jika Allah lebih menyukai ibadah yang sedikit tapi dilakukan secara rutin, daripada ibadah yang banyak dilakukan sekali tempo tapi tidak dilakukan rutin.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah bersabda.

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit.

Hadits riwayat Muslim.

Di dalam hadits riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa Pernah suatu kali ‘Alqamah bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah , “Wahai Ummul Mukminin, bagaimana amal Rasulullah ?. Apakah beliau memiliki hari-hari khusus untuk memaksimalkan amal.?”

Maka Ibunda Aisyah menjawab,“Tidak, amal yang beliau lakukan adalah amalan yang rutin.”

Nah sahabat, Beribadah dengan continue meski dengan kadar yang relatif sedikit, lebih banyak faedah dan lebih bagus pengaruhnya dalam kebaikan, dibanding amal yang sekaligus banyak dan berat, namun tidak dilakukan secara rutin.

Sebagaimana kata pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit, begitupun dengan amal, Allah lebih menyukai amal yang rutin walaupun sedikit dibanding amal yang banyak tapi hanya satu kali waktu atau bolong-bolong. Ini bukan berarti kita menyepelekan amal besar dibanding amal yang sedikit lho, tapi ini untuk menjelaskan bahwa rutin dalam beramal itu besar keutamaannya.

Lagi pula sahabat, dengan rutin dalam amal, hati kita akan selalu terhubung dengan Allah .

Selain itu, Allah memberi keistimewaan khusus bagi orang yang rutin dalam amal,

Dengan amalan yang rutin, seseorang tercatat melakukan suatu ibadah yang menjadi kebiasaannya meskipun suatu kali ia tidak melakukannya karena adanya halangan atau udzur syar’i. Rasulullah bersabda.

مَا مِنَ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلَاةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلَاتِهِ، وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْه

Tiada seorangpun yang memiliki kebiasaan shalat malam, lalu suatu kali ia tertidur sehingga tidak mengerjakannya, melainkan Allah akan mencatat untuknya pahala shalat malam seperti biasanya. dan tidurnya itu sebagai sedekah Allah untuknya.

Hadits riwayat an-Nasa’i.

Kemudian juga di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori disebutkan.

إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Apabila seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka tercatat baginya pahala seperti ketika ia beramal di saat mukim dan sehat.”

Sahabat hijrah yang dimuliakan Allah, Selain banyak pahala, amalan yang dilakukan secara dawam atau rutin adalah amal yang paling besar faedahnya. Seseorang lebih ringan menjalankan ketaatan tatkala sudah biasa. Dan dengan cara yang rutin, akan mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Dan telah menjadi sunnatullah, ketika seseorang melakukan suatu bentuk ketaatan, maka akan dimudahkan oleh Allah untuk menjalankan ketaatan yang lain. Seperti kaedah yang masyhur di kalangan para ulama, balasan bagi orang yang melakukan kebaikan adalah akan dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya.

Maka tatkala seseorang melakukan suatu kebaikan dengan istiqamah, maka akan istiqamah pula penambahan amalnya. nah makanya tak salah jika amal yang istiqomah kita sebut multi level pahala. karena amal kebaikan yang satu akan berbuah amal kebaikan yang lain.

Sahabat, Memang ada bentuk amal shalih yang tidak boleh ditambah secara kuantitasnya, seperti lima kali shalat fardhu dalam sehari berikut jumlah rekaat yang telah ditentukan. Akan tetapi ia bisa menambah secara kualitasnya, khusyuknya, panjang bacaannya dan tumaninahnya. Ia juga bisa menambahnya dengan shalat-shalat nafilah atau sunnah.

Begitupun ketika seseorang istiqamah dalam belajar ilmu syar’i, tentu pengetahuannya akan bertambah dan berkembang. Meskipun jumlah waktu yang tersedia setiap harinya tidak bertambah. Dari sini menjadi jelas perbedaan antara monoton dengan istiqamah. Jika seseorang melakukan sesuatu sebagai rutinitas, tapi tidak ada penambahan secara kuantitas maupun kualitas, bisa jadi yang dilakukan itu adalah monoton, bukan istiqamah.

Selain itu sahabat, Hati memiliki masa-masa rajin dan tekun, ketika itu amal shalih secara rutin bisa dilakukan secara optimal. Akan tetapi ada kalanya hati mengalami masa lelah, jeda atau bahkan cenderung bosan. Pada saat itulah istiqamah seseorang diuji. Pada titik tertentu, semua itu masih bersifat manusiawi. Karena tak ada manusia yang terbebas dari kelelahan dan kebosanan. akan tetapi yang salah adalah ketika kita berhenti total dari amal kebaikan karena bosan, atau bahkan mengambil jalan yang bengkok, Naudzubillahi min dzalik.

Nah sahabat, mari kita saling mendoakan supaya kita selalu istiqomah dalam beramal sholih, istiqomah di jalan kebenaran dan iman serta islam hingga akhir hayat kita.

Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 

 

%d blogger menyukai ini: