Pintu-pintu masuk syetan ke dalam hati manusia adalah marah.

Yaitu marah karena perkara-perkara dunia. Marah yang demikian inilah yang tercela. Marah akan menghilangkan akal seseorang. Jika seseorang dalam keadaan marah, maka syetan akan menyerangnya, menguasainya, lalu mempermainkannya. Dan marah itu sering menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa perkataan atau perbuatan haram. Seperti mencaci, menghina, menuduh, berkata keji, dan perkataan haram lainnya. Atau memukul, menendang, membunuh, dan perbuatan lainnya.

Oleh karena itu. Rosululloh menasihati seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.

“Dari Abu Hurairah , sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi , “Berilah wasiat kepadaku,” Nabi , ”Janganlah engkau marah, ”laki-laki tadi mengulangi berulang kali, Beliau , “Janganlah engkau marah”.

Jika kita marah, maka hendaklah kita menguasai diri dan melawan diri agar tidak melampiaskan kemarahan kita, sehingga keburukan dari marah itu akan segera reda dan hilang. Sifat seperti inilah yang dipuji oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Selanjutnya, di antara pintu syetan, ialah suka membuat berbagai perhiasan yang berlebihan pada rumah, pakaian, kendaraan, perkakas rumah tangga, dan lainnya. Sehingga kesukaan ini mendorong seseorang untuk selalu memperbaiki rumah, menghiasi atapnya dan dindingnya, menata perkakas rumah tangganya, dan lainnya, sehingga dia telah merugikan dirinya dan menghabiskan umurnya untuk perkara itu. Padahal umur merupakan salah satu nikmat Alloh yang akan ditanyakan penggunaannya.

Nabi bersabda:

“Telapak kaki anak Adam tidak akan bergeser dari sisi Robbnya pada hari kiamat,  sampai  dia ditanya tentang lima perkara, Tentang umurnya, untuk apa dia telah menghabiskannya, tentang masa mudanya, untuk apa dia telah menggunakannya, tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya, dan untuk apa dia membelanjakannya, dan apa yang telah dia amalkan dari ilmu yang telah dia ketahui”.

Selanjutnya, Di antara pintu syetan, ialah kekenyangan, dan ini akan menguatkan syahwat, menyibukkannya dari berbuat taat. Oleh karena itu, Nabi mengatkan, bahwa seburuk-buruk wadah yang dipenuhi oleh manusia adalah perut.

Beliau bersabda:

“Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari pada perut. Manusia mencukupi beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika keinginannya mengalahkannya untuk menambah makan, maka sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas”.

Selanjutnya, Yaitu berharap kepada manusia. Seseorang yang berharap kepada manusia lainnya, dia akan melewati batas dalam memuji dan menjilatnya, tidak memerintahkan yang ma’ruf, dan tidak melarang kemungkaran terhadap orang tersebut.

Selanjutnya, Di antara pintu syetan, yaitu tergesa-gesa, tidak berhati-hati.

Nabi bersabda:

“Ketergesaan adalah dari syetan, sedangkan berhati-hati adalah dari Alloh ”.

 

Selanjutnya, Ialah mencintai harta. Kecintaan terhadap harta merupakan perkara yang waja. Tetapi, jika kecintaan pada harta itu telah menguasai hati, maka hati akan rusak. Hati akan didorong untuk mengejar harta dengan cara yang haram, mengajak kebakhilan, dan menakut-nakuti kemiskinan, sehingga ia meninggalkan kewajibannya terkait harta.

Alloh berfirman, di dalam Qur’an Surat Al-Baqoroh ayat 268:

Artinya: “Syetan menjanjikan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan, dan menyuruh kamu berbuat kejahata, kikir, sedang Alloh menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia, dan Alloh Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengatahui”.

Nabi , telah mengingatkan akhir perjalanan harta manusia dengan sabda Beliau :

“Seorang hamba berkata: “Hartaku, hartaku,” padahal harta yang dia miliki hanyalah tiga: Yaitu, yang telah ia makan, lalu dia habiskan, yang telah ia pakai, lalu dia menjadikannya using, yang telah dia berikan, shodaqoh karena Alloh, lalu ia pasti akan memilikinya. Adapun selain itu, maka ia akan pergi dan meninggalkannya untuk manusia, yaitu ahli warisnya.

Selanjutnya, di antara pintu syetan, yaitu menggiring orang-orang awam untuk fanatik kepada guru, madzhab, golongan, suku, daerah, atau lainnya.

Padahal Nabi :

“Barang siapa menolong kaumnya tidak di atas kebenaran, maka dia seperti onta yang terjerumus, lalu ditarik ekornya”.

Al-Khoththobi berkata, “Maknanya, bahwa ia telah terjerumus dalam dosa dan binasa. Yaitu seperti seekor onta, jika terjerumus di dalam sumur, lalu ditarik ekornya, dan ia tidak mampu selamat”.

Selanjutnya, di antara pintu syetan, yaitu mengajak orang-orang untuk memikirkan Dzat Alloh , atau membicarakan sifat-sifat Alloh tanpa mengikuti jalan orang-orang shaleh terdahulu, sehingga akan mengantarkan manusia kepada keraguan dan kesesatan. Karena sesungguhnya akal manusia terbatas, dan ia tidak mampu memikirkan Dzat Alloh .

 

Nabi shollallohu :

“Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Alloh, dan janganlah kamu berfikir tentang dzat Alloh.”

pendengar yang Budiman, Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, insya Alloh kita akan kembali melanjutkan pada edisi selanjutnya. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya, dan mengaplikasikannya di dalam kehidupan kita sehari-hari.  Semoga Alloh senantiasa memelihara hati kita dari hati yang kotor. Aamiin. Wallohu a’lam.

%d blogger menyukai ini: