Di antara klaim yang dibawa oleh sebagian kelompok yang mengatasnamakan Islam adalah seruan untuk tidak menerima hadits ahad secara total, tetapi  hanya menerimanya sebagai dalil dalam perkara selain aqidah saja. Berikut ini adalah ringkasan yang kami ambil dari beberapa fatwa ulama terkait kewajiban umat untuk menerima hadits shohih  dalam beragama, baik aqidah maupun hukum syariat, ahad, atau mutawatir. Definisi ringkas mengenai hadits ahad sebagaimana dijelaskan oleh Doktor. Mahmud Thohhan dalam Taisir Mustholah Al Hadith, secara bahasa adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja. Adapun secara istilah, ialah mencakup seluruh hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu hadits ahad dalam definisi ini lebih luas dan mencakup kategori:

Satu; Hadits masyhur, hadits yang diriwayatkan oleh tiga perawi dalam tiap thobaqot atau generasi perawi, atau lebih dari tiga selama tidak mencapai derajat bilangan perawi mutawatir.

Yang kedua; Hadits aziz, hadits yaitu diriwayatkan oleh dua orang perawi dalam tiap thobaqat.

Yang ketiga; Hadits ghorib, hadits yaitu diriwayatkan oleh satu orang perawi.

Maka suatu anggapan yang keliru dari sebagian orang yang mendefinisikan hadits ahad sebagai hadits ghorib saja. Syaikh Muhammad ibn Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ahad yang derajatnya shohih memiliki dua konsekuensi :

Pertama; Hadits ahad berfaidah zhon, yaitu adanya persangkaan terhadap keshohihan penisbatan hadits tersebut dari sisi penukilannya. Karena hadits ahad tidak mencapai tingkatan jazm atau pasti sebagaimana hadits mutawatir, oleh karenanya masih mengandung kemungkinan kesalahan, lupa, keliru dalam periwayatan, dari para perawinya atau sebagiannya. Namun faidah zhon bertingkat-tingkat, sehingga terkadang hadits ahad justru bisa berfaidah ilmu apabila terdapat qorinah atau indikasi yang menguatkannya, dan menjadi syahid atau saksi atasnya sehingga menghapus kemungkinan untuk salah, lupa, dan keliru dalam periwayatan.

Kedua; Wajib mengamalkannya, apabila hadits tersebut dalam hal syariat, dan wajib membenarkannya apabila hadits tersebut dalam hal aqidah. Hal ini berlaku apabila hadits ahad tersebut berstatus shohih  atau hasan.Sebagian ahli kalam berdalil bahwa aqidah tidak bisa diambil melainkan dari dalil yang berfaidah yakin saja. Sehingga masalah ini harus diambil dari dalil yang qoth’i atau pasti baik itu tsubut atau secara eksplisit dan dalalah atau implisit. Mereka berdalil bahwasanya dalil-dalil zhonniyah tidak berfaidah melainkan zhonn atau persangkaan saja, dan zhonn tidak boleh dijadikan sebagai argumen dalam aqidah. Mereka beralasan dengan firman Alloh ,

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأَنْفُسُ

“Mereka hanya mengikuti zhonn, dan apa yang diingini oleh keinginannya” (QS. An Najm: 14). Juga firmanNya;

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئاً

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti zhonn, dan sesungguhnya zhonn itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran” (QS. An Najm: 28)

Dan ayat-ayat lainnya di mana Alloh mencela kaum musyrikin karena mereka mengikuti zhonn, dan mereka berdalil dengan ayat tersebut dan semisalnya. Padahal zhonn dalam ayat tersebut bukanlah zhonn yang mereka maksudkan, karena nash-nash yang mereka tolak berargumen dengannya yaitu diantaranya hadits ahad itu adalah az zhonn ar rajih atau sangkaan yang kuat. Adapun zhonn yang dimaksud dalam ayat yang mereka pakai sebagai argumen, adalah zhonn dalam arti as syakk atau keraguan yang menduga-duga dan mengira-ngira suatu hal.

Inilah zhonn yang Alloh Ta’ala melarang kaum musyrikin untuk mengikutinya, hal ini ditegaskan pula dalam firman Alloh Ta’ala

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (QS. Al An’aam : 116)

Adapun zhonn rajih tidak termasuk dalam hal itu. Seandainya termasuk, maka semua dalil syara’ haruslah qoth’i, padahal yang terjadi tidaklah seperti itu. Mayoritas dalil syar’i adalah zhonni, dalalah dalam hal pendalilannya maupun tsubut dalam hal penetapan keshohihannya, atau dalalah dan tsubut. Padahal para shahabat dan tabi’in tidaklah mereka membatasi dalam mengambil darinya permasalahan aqidah dan selainnya. Para sahabat dan tabi’in juga ketika menerima hadits tidak menanyakan berapa jumlah keseluruhan perawinya, kalau sangat banyak atau mutawatir baru mereka terima, kalau sedikit atau ahad mereka tolak. Tidak demikian.

Syaikh Abdulloh Al Faqih dalam fatwanya menjelaskan,

“Adapun membedakan antara keduanya argumentasi hadits ahad dalam aqidah dan syariat adalah bid’ah yang awalnya dibuat oleh pengikut hawa nafsu, dari kalangan Qodariyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, ahli kalam, dan mereka yang mengikuti jalan mereka. Mereka melakukan hal tersebut dalam rangka menolak dalil-dalil yang mematahkan bid’ah mereka. Adapun para shahabat, tabi’in, ahlus sunnah dan ahlul hadits, mereka senantiasa berargumen dengan khobar ahad dalam masalah aqidah dan hukum. Tanpa membedakan antara keduanya, dan tidak dinukil dari mereka satupun perkataan bahwa khabar ahad hanya bisa dijadikan argumen dalam perkara hukum, bukan dalam perkara mengenai nama-nama dan sifat-sifat Alloh. Bahkan tidak diketahui adanya khilaf dalam masalah ini dari seorang pun ulama”

%d blogger menyukai ini: