Image result for Keharaman Berbuat Durhaka Kepada Orangtua

Alloh subhanahu wata’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Dan sebaliknya, Alloh melarang hamba-Nya berbuat durhaka kepada keduanya, bahkan memasukannya ke dalam dosa-dosa besar yang mengiringi dosa kesyirikan menyekutukan Alloh. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash rodhiallohu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
(( الكَبَائِرُ: الإشْرَاكُ بالله، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، وَقَتْلُ النَّفْس، وَاليَمِينُ الغَمُوسُ ))
“Dosa-dosa besar itu adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu.” (HR. Bukhori)

Anjuran Memuliakan Keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Ahlul bait atau Keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki keutamaan dan kemuliaan bagi semua kaum Muslimin, karena Allah Subhanahu Wata’ala telah memuliakan mereka, dan mewajibkan kaum Muslimin untuk mencintai mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq rodhiallohu anhu berkata,
(( اُرْقُبُوا مُحَمداً صلى الله عليه وسلم في أهْلِ بَيْتِهِ ))
“Perhatikan dan muliakanlah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam keluarganya.” (HR. Bukhori)

Memuliakan Orang yang sudah Tua dan Ahli Keutamaan
Seorang muslim disunnahkan untuk memuliakan orang muslim lainnya yang sudah beruban dan sudah tua, serta menghormatinya dalam berbagai situasi dengan mengakui keutamaan dan ketuaannya, dan berusaha menyayanginya. Diriwayatkan dari Abu Musa rodhiallohu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
(( إنَّ مِنْ إجْلالِ اللهِ تَعَالَى: إكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ المُسْلِمِ، وَحَامِلِ القُرآنِ غَيْرِ الغَالِي فِيهِ، وَالجَافِي عَنْهُ، وَإكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ المُقْسِط ))
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang muslim yang sudah tua, orang yang pandai tentang al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan dan tidak mengabaikannya, dan memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud. Hadits Hasan)

Keutamaan Berteman dengan Orang-orang Sholih
Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang buruk. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ariy rodhiallohu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
(( إِنَّمَا مَثلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إمَّا أنْ يُحْذِيَكَ، وَإمَّا أنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحاً طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إمَّا أنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحاً مُنْتِنَةً ))
“Sesungguhnya perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk adalah seperti penjual parfum dan tukang pandai besi. Maka penjual parfum bisa jadi ia memberimu, atau menjualnya kepadamu, atau engkau akan mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan tukang pandai besi bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau bisa jadi engkau akan mendapat bau busuk darinya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Keutamaan Mencintai Karena Allah
Cinta itu fitrah manusia. Maka mencintai kedua orang tua, anak, saudara, sahabat, dan sesama mukmin juga dibutuhkan. Dan tatkala cinta itu karena Allah semata, maka manisnya iman akan bisa dirasakan. Diriwayatkan dari Anas rodhiallohu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
(( ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاوَةَ الإيمانِ: أنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأنْ يُحِبّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أنْ يَعُودَ في الكُفْرِ بَعْدَ أنْ أنْقَذَهُ الله مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أنْ يُقْذَفَ في النَّارِ ))
“Tiga hal barangsiapa tiga hal itu ada dalam dirinya maka ia dengannya akan mendapatkan manisnya iman; hendaknya Allah dan Rosul-Nya paling ia cintai daripada selain keduanya, hendaknya ia mencintai seseorang dengan tidak mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaknya merasa benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dirinya dari kekafiran itu sebagaimana kebenciannya jika dirinya akan dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Ancaman Dari Menyakiti Orang-orang Shalih
Wali Allah yang benar adalah mereka yang selalu menetapi ketaatan dan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Siapa saja yang memusuhi mereka, maka Alloh menyatakan perang dengannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, Alloh subhanahu wata’ala berfirman,
(( مَنْ عَادَى لِي وَليّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ ))
“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya.” (HR. Bukhori)

Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedang Keadaan Hati Mereka Terserah Allah Ta’ala
Seorang Muslim diperintahkan menghukumi atau menilai seseorang dari apa yang nampak padanya. Karena seseorang tidak bisa menelusuri apa yang tersembunyi dalam hati orang lain. Seseorang tidak bisa menuduh orang lain tidak ikhlas atau riya, karena hal seperti itu butuh penglihatan dalam hati. Menerawang hati seseorang sungguh amat sulit dilakukan.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar rodhiallohu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
(( أُمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أنْ لاَ إلهَ إلاَّ الله، وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُول الله، وَيُقيمُوا الصَّلاةَ، وَيُؤتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهُمْ وَأمْوَالَهُمْ إلاَّ بحَقِّ الإسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله تَعَالَى ))
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku, kecuali karena alasan yang hak, dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta’ala.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Anjuran Agar Takut Akan Siksa Allah Ta’ala
Neraka telah Alloh siapkan bagi musuh-musuh-Nya yang ingkar kepada-Nya. Puncak kedahsyatan siksa dan penghinaan, semuanya ada di sana. Tidak ada penolong dan pelindung darinya. Tidak ada yang kuat menahan pedihnya siksa neraka, walau yang paling ringannya. Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir rodhiallohu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
(( إنَّ أهْوَنَ أهْلِ النَّارِ عَذَاباً يَوْمَ القِيَامَةِ لَرَجُلٌ يوضعُ في أخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ. مَا يَرَى أنَّ أَحَداً أشَدُّ مِنْهُ عَذَاباً، وَأنَّهُ لأَهْوَنُهُمْ عَذَاباً ))
“Sesungguhnya siksa yang paling ringan bagi ahli neraka adalah orang yang diletakkan di bawah telapak kakinya dua buah bara api yang cukup membuat otaknya mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

%d blogger menyukai ini: