Artikel kita kali ini adalah tentang kehujjahan hadits ahad. Hadits Ahad adalah Hujjah dalam Aqidah dan Syariat Berdasarkan Ijma’ atau kesepakatan Para Ulama. adapun definisi ringkas dari hadis ahad adalah sebagaimana dijelaskan oleh Doktor Mahmud Thohhan dalam kitab Taisir Mustholah Al Hadith, secara bahasa adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja. Adapun secara istilah, ialah mencakup seluruh hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.

Mari kita simak perkataan Imam Ibnu Abdil bar :

وقال الإمام ابن عبد البر ـ وهو يتكلم عن خبر الواحد وموقف العلماء منه: وكلهم يدين بخبر الواحد العدل في الاعتقادات ويعادي ويوالي عليها ويجعلها شرعاً وديناً في معتقده، على ذلك جميع أهل السنة. انتهى من كتابه ـ التمهيد.

Dalam kitab At Tamhid “Al-Imam Ibn Abdil Barr berkata mengenai khobar ahad dan sikap para ulama terhadapnya, ‘Seluruh ulama berpegang dengan khobar ahad yang ‘adl dalam masalah aqidah, mereka menetapkan loyalitas dan permusuhan dengan khobar ahad, meyakininya sebagai sumber dalam syariat dan agama, dan seluruh ahlus sunnah wal jaamah bersepakat dalam hal ini. Dan perkataan lainnya:

قال ابن تيمية معلقاً على هذا الإجماع الذي نقله ابن عبد البر: قلت: هذا الإجماع الذي ذكره في خبر الواحد العدل في الاعتقادات يؤيد قول من يقول: إنه يوجب العلم، وإلا فما لا يفيد علماً ولا عملاً كيف يجعل شرعاً وديناً يوالي عليه ويعادي؟. انتهى.

“Ibnu Taimiyah berkata mengomentari klaim ijma’ atau kesepakatan dari Ibnu Abdil Barr-ru- , ‘Ijma’ ini yang telah disebutkan dalam hal khobar ahad al-‘adl adalah argumen dalam masalah aqidah, bahwa mereka berkata, ‘Hadits ini menghasilkan ilmu’, adalah benar. Karena apabila hadits ahad tidak berfaidah ilmu dan amal, bagaimana syariat dan agama, permusuhan dan loyalitas bisa terbentuk tanpa hadits ahad ?’”

Syaikh Muhammad ibn Sholih Al ‘Utsaimin dalam Fatawa Al ‘Aqidah halaman 18 menjelaskan kekeliruan pendapat ini dalam beberapa poin:

Pertama; Pendapat ulama yang menyatakan hadits ahad hanya berfaidah zhonn atau persangkaan tidaklah mutlak. Bahkan khobar ahad bisa berfaidah yakin apabila ada qorinah atau indikasi yang menunjukkan benarnya khobar tersebut. Sebagaimana telah sepakat ummat untuk menerima hadits-hadits yang shohih tersebut. Misalnya hadits Umar ibn Al Khottob yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori yang berbunyi,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya bagi masing-masing orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang akan ia dapatkan atau kepada perempuan yang akan dia nikahi maka hasil hijrahnya adalah apa yang dia niatkan”.

Apakah hadits ini tidak berbicara tentang aqidah? Bahkan hadits ini berbicara tentang salah satu diterimanya amal, tentang ikhlas yang merupakan syarat diterimanya amal seseorang. Hadits ini, jelas merupakan hadits ahad, dan termasuk ke dalam bagian hadits gharib, karena tidak diriwayatkan, kecuali dari jalan Umar bin Khottob.

Ini salah satu contoh hadits yang diterima oleh para ulama, bahkan hampir sebagian besar ulama ini khobar ahad atau contoh dari hadis ahad, padahal kita telah yakin dan mengetahui bahwa Nabi lah yang mengucapkannya. Inilah yang ditetapkan oleh Syaikhul Islam ibn Taimiyah , Al Hafizh Ibn Hajar , dan selainnya.

Yang Kedua; Bahwa Nabi telah mengutus beberapa shahabat seorang diri untuk menjelaskan pokok-pokok aqidah, yaitu persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak selain Alloh dan Muhammad adalah Utusan Alloh , dan mengutusnya sebagai hujjah yang tetap. Sebagaimana diutusnya Mu’adz ke Yaman, dan pengutusan beliau adalah hujjah yang ditetapkan bagi penduduk Yaman agar menerimanya.

Ketiga; Apabila kita katakan bahwa masalah aqidah tidak bisa ditetapkan dengan khobar ahad, dapatlah kita katakan: masalah syariat juga tidak bisa ditetapkan dengan khobar ahad juga. Karena masalah praktik hukum amaliyah beriringan dengan aqidah bahwasanya Alloh memerintahkan hal tersebut, atau melarang sesuatu hal. Apabila argumen ini diterima, maka tertolaklah berbagai hal dalam masalah syariat. Dan apabila argumen ini ditolak, maka tertolaklah pula pendapat bahwa aqidah tidak bisa ditetapkan melalui khobar ahad. Karena tidak ada beda antara keduanya. Alhasil, khobar ahad atau hadis ahad apabila menunjukkan indikasi kebenarannya, menghasilkan ilmu. Khobar ahad menjadi argument yang valid dalam perkara amaliyah maupun ilmiyah. Tidak ada satu pun dalil untuk membedakan keduanya. Barangsiapa yang menisbatkan hal tersebut kepada para imam dalam agama ini, tentang pembedaan antara keduanya maka ia harus menunjukkan sanad yang shohih, kemudian menjelaskan dalil tersebut.

Dan yang keempat. Bahwa Alloh  memerintahkan untuk kembali pada perkataan ahli ilmu, bagi siapa saja yang jahil, tidak tahu atau bodoh, dan hal ini adalah di antara masalah yang agung dalam aqidah, yaitu risalah. Alloh berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ * بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau Muhammad, melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Mereka Kami utus dengan membawa keterangan-keterangan mukjizat dan kitab-kitab” (QS. An Nahl ayat 43-44).

Kesimpulannya para ulama telah berijma’ atau sepakat atas wajibnya mengamalkan hadits ahad. Tidak ada yang berselisih di antara mereka, Kewajiban kita sebagai seorang Muslim adalah tunduk dan taslim secara sempurna, serta tunduk kepada perintahnya, menerima berita yang datang dari beliau dengan penerimaan yang penuh dengan pembenaran, tidak boleh menentang apa yang datang dari Alloh dan Rosul-Nya dengan perkataan bathil, hal-hal yang syubhat atau ragu-ragu, dan tidak boleh juga dipertentangkan dengan perkataan seorang pun dari manusia. Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita dan para keluarga serta sahabatnya.

%d blogger menyukai ini: