Tindakan keras dan rasis terhadap Muslim Sri Lanka semakin meningkat setelah pemboman mematikan pada Minggu Paskah. Hal ini disinyalir bisa mengancam  perdamaian dan keamanan negara Sri Lanka. Hal ini sebagaimana diungkapkan Kelompok krisis Internasional hari jumat kemarin.

Sebagaimana diketahui, bulan april lalu terjadi pemboman gereja dan hotel di Sri Lanka. Serangan yang menewaskan lebih dari 250 orang tersebut dilakukan oleh teroris ISIS. Tetapi polisi Sri Lanka mengatakan anggota cabang kelompok Muslim lokal, National Thauhid Jamath juga bertanggung jawab. Sayangnya,  politisi dan nasionalis Sinhala telah menggunakan serangan tersebut untuk membenarkan tindakan yang telah melecehkan komunitas Muslim secara luas.

Sejak itu, lebih dari 1.800 Muslim ditangkap di bawah undang-undang darurat dan hampir 300 orang tetap ditahan.

Umat Muslim hanya berjumlah 10 persen dari populasi yang didominasi oleh umat Buddha Sinhala di Sri Lanka. Keluarga dari mereka yang ditangkap mengatakan kepada bahwa banyak dari mereka yang dipenjara tidak memiliki hubungan dengan serangan itu, tetapi telah dilaporkan ke pihak berwenang karena takut dan fanatik. (arrahmah.com/admin)

%d blogger menyukai ini: