Penggunaan alat pelindung diri berupa masker saat berihram banyak dipertanyakan jamaah. Penggunaan masker dianggap sebagian jamaah termasuk larangan ihram.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, menjelaskan bahwa, ada pertanyaan dari jamaah haji mengenai penggunaan masker saat ibadah haji dan juga umrah. Oleh sebab itu, MUI bersama Kementerian Kesehatan mengelar Focus  Group Discussion Majelis Ulama Indonesia tentang penggunaan masker saat berihram.

Karena kata dia, secara umum ada larangan-larangan bagi orang yang sedang berihram yang harus dijaga. Seperti halnya menutup muka, juga menutup kepala bagi laki-laki.

Seperti diketahui, penggunaan masker menutup sebagian muka penggunanya. Dan beberapa jenis masker juga ada yang terbuat dari benang yang unsur benang tidak boleh digunakan saat jamaah sudah mengenakan kain ihram.

Selama penyelenggaraan ibadah haji  Kementerian Kesehatan melalui Pusat Kesehatan Haji gencar sosialisasikan penggunaan alat pelindung diri atau APD, salah satunya masker. Penggunaan APD penting demi dapat mengurangi faktor risiko penyakit menular selama di tanah suci.

Dari beberapa item APD seperti sandal, payung, topi, kacamata. Masker yang paling dianjurkan untuk digunakan jamaah, karena penggunaan masker dinilai efektif mengurangi risiko penyakit menular yang terbawa angin atau debu.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Eka Yusup Singka, mengatakan gencarnya petugas kesehatan sosialisasikan penggunaan masker sebagai upaya melindungi jamaah dari semua faktor risiko penyakit yang terjadi selamat di Arab Saudi. (ihram.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: