Blokade Israel telah membuat kehidupan rakyat Palestina memburuk dari hari ke hari. Bahkan menurut Komite Rakyat Palestina, selama bertahun-tahun, 85 persen warga Palestina yang berada di jalur Gaza berada dibawah garis kemiskinan.

Melihat situasi kemanusiaan di Gaza, Komite Populer untuk Mengakhiri Pengepungan Gaza menyerukan agar komunitas internasional mengambil tindakan mengakhiri pendudukan Israel sepenuhnya di Jalur Gaza.

Menurut Komite Palestina, pendapatan rata-rata harian per kapita warga Palestina di Gaza maksimum hanya dua dolar Amerika saja. Sementara tingkat pengangguran mencapai 65 persen di kalangan anak muda.

Orang-orang Palestina telah sering berdemonstrasi menentang tingginya angka pengangguran di Jalur Gaza. Lebih dari 300 ribu pekerja tercatat kini sebagai pengangguran di tengah memburuknya kondisi ekonomi di Palestina. Jumlah itu meningkat setiap hari sebagai akibat dari penangguhan proyek-proyek penting di Palestina karena blokade Israel.

Selain itu, kondisi ekonomi yang parah juga menyebabkan tutupnya toko-toko, perusahaan atau pabrik yang sangat dipengaruhi oleh blokade selama bertahun-tahun. Pada September lalu, Bank Dunia sempat mengingatkan ekonomi Gaza telah anjlok.

Sudah sejak 2007, jalur Gaza berada di bawah blokade Israel dan Mesir. Kondisi itu telah melumpuhkan dan menghancurkan ekonomi warga Palestina. Selain itu blokade juga merampas akses hampir dua juta penduduk Palestina pada komoditas penting termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Badan Bantuan dan Pemulihan Pembangunan PBB, UNRWA sebelumnya menyatakan saat ini ada sekitar 620 ribu warga Gaza yang hidup di tengah kemiskinan. Ini berarti para warga Gaza itu tak bisa memenuhi kebutuhan makanan pokok mereka dan harus bertahan hidup dengan 1,6 dolar per hari. Hampir 390 ribu orang Palestina di Gaza miskin absolut. Dengan kemiskinan dan pengangguran yang tinggi membuat banyak penduduk Palestina yang bergantung pada layanan yang disediakan UNRWA. (internasional/admin)

 

%d blogger menyukai ini: