Kepribadian ‘Umar sungguh sangat menakjubkan. Menggali aspek kepribadiannya bagaikan bahtera berlayar di samudra yang luas tak berpantai. Butiran-butiran dan mutiara-mutiara kebaikannya tak pernah sirna sepanjang masa dan zaman. Berikut paparan sebagian kepribadian ‘Umar , sosok pemimpin hebat nan tangguh:

Yang pertama; Kesederhanaannya.

Tatkala harta rampasan perang dari tentara Kisro yaitu Raja Persia dikirim kepada ‘Umar untuk dibagikan kepadanya dan kaum Muslimin. Tiba-tiba beliau membandingkan pandangan mata dengan bashiroh atau pandangan hatinya antara kehidupannya dengan kehidupan kedua sahabatnya, yaitu Rosululloh dan Abu Bakar . Maka ia mendapati bahwa Alloh telah menyelamatkan keduanya dari melihat harta yang menggoda tersebut. Maka iapun takut jika diuji dengan harta tersebut sebagai istidroj atau kenikmatan yang menyeret seseorang kepada kebinasaan. Ia pun menangis seraya berkata,

“Ya Alloh, sesungguhnya Engkau telah mencegah harta ini dari Rosul-Mu, padahal beliau lebih Engkau cintai dan lebih mulia di sisi-Mu daripada aku. Dan Engkau telah mencegahnya dari Abu Bakar, padahal ia lebih Engkau cintai dan lebih mulia daripada aku.  Kemudian Engkau memberikannya kepadaku, maka aku berlindung kepada-Mu dari Engkau berikan harta ini kepadaku untuk mencelakakanku.”. Kemudian ia menangis hingga orang-orang yang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Lalu ia berkata kepada ‘Abdur Rohman bin ‘Auf , “Aku bersumpah kepadamu agar engkau menjualnya lalu membagikannya kepada manusia sebelum datangnya sore hari.”.

Ahnaf bin Qois berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di pintu rumah ‘Umar  tiba-tiba lewatlah seorang budak wanita. Orang-orang berkata, ‘Ini budak wanita milik Amirul Mukminin.”, mendengar itu ‘Umar membantah, “Bukan, ia bukan milik Amirul Mukminin, tapi termasuk dari harta Alloh atau baitul mal.” Lalu kami bertanya, ‘Lalu apa yang boleh baginya dari harta Alloh?’, ia menjawab, ‘Sesungguhnya tidak halal bagi ‘Umar dari harta Alloh kecuali dua pakaian, satu pakaian untuk musim panas serta apa yang saya pakai untuk haji dan ‘umroh. Makananku dan keluargaku tidak berbeda dengan apa yang dimakan oleh salah seorang dari Quraisy.”.

Ketika pada masanya terjadi musim paceklik, maka selama setahun ia tidak pernah makan daging atau minyak samin sebagai sikap “serasa sepenanggungan”.

Anas  berkata, “Aku melihat empat tambalan di baju ‘Umar di antara kedua pundaknya.”.

Suatu hari ia menjenguk ‘Ashim, putranya. Beliau dapati anaknya sedang makan daging. ‘Umar  berkata, “Apa ini?”. ‘Ashim menjawab, “Kami sedang berselera untuk makan daging.”, maka ‘Umar berkata, “Apakah setiap kali engkau berselera terhadap sesuatu engkau akan memakannya? Cukuplah sebagai pemborosan jika seseorang memakan semua yang diinginkannya!”.

Kepribadian yang Kedua adalah Kedermawanannya.

Tangan kedermawanan ‘Umar laksana angin yang berhembus. Ia berlomba-lomba dengan Abu Bakar untuk menginfakkan hartanya di jalan Alloh . Ia ingin sekali mengalahkan Abu Bakar .

Ketiga; Rasa Takutnya Kepada Alloh .

Anas bin Malik berkata, “Aku pernah masuk ke satu kebun, lalu aku mendengar ‘Umar berkata antara aku dan ia terhalang sebuah tembok, ‘Umar bin al-Khottob, Amirul Mukminin, ah!! ah!! Sungguh engkau harus takut kepada Alloh wahai anak al-Khottob, atau kalau tidak maka Alloh akan menyiksamu!”.

al-Hasan berkata, “Kadang-kadang ketika ‘Umar membaca satu ayat dari bacaan rutinnya, maka ia terjatuh sakit karena takut kepada Alloh hingga dijenguk berhari-hari.”

Muhammad bin Sirin berkata, “Suatu hari mertua ‘Umar datang menemuinya, lalu ia minta supaya ‘Umar memberinya sejumlah uang dari Baitul Mal. ‘Umar membentaknya seraya berkata, “Engkau ingin agar aku menghadap Alloh sebagai raja yang berkhianat?”, kemudian ‘Umar memberinya dari hartanya sendiri sebanyak 10.000 dirham.”.

Demikianlah sikap waro’ ‘Umar  hingga an-Nakho’i berkata, “Sesungguhnya ‘Umar biasa berdagang padahal ia adalah seorang kholifah.”.

‘Abdulloh bin ‘Umar  berkata, “Aku tidak pernah melihat ‘Umar marah lalu disebut nama Alloh di sisinya atau seseorang membaca ayat al-Qur’an, melainkan marahnya akan berhenti dan segera mengurungkan niatnya.”. ‘Umar bin al-Khottobb sosok sahabat yang teguh hatinya dan  mempunyai pertimbangan yang matang dalam menentukan kebijakan. Dalam menghadapi problematika yang melanda kaum Muslimin, ia senantiasa mencari solusi dan jalan keluar untuk kemashlahatan umat.

Salah satu contoh bahwa ‘Umar merupakan sosok problem solver adalah saat minuman keras atau khomr masih dihalalkan bagi kaum Muslimin, ‘Umar berpendapat bahwa khomr akan menghilangkan akal dan menghabiskan harta kemudian ia berdoa, “Ya Alloh, berilah penjelasan kepada kami tentang perihal minuman keras, karena sesungguhnya ia dapat menghilangkan akal dan harta.”.

Akan tetapi kebiasaan minum khomr di kalangan umat belum juga berhenti. Maka ‘Umar -rau-  kembali memohon kepada Alloh “Ya, Alloh jelaskan pada kami perihal khomr  dengan keterangan yang pasti, karena sesungguhnya ia dapat menghilangkan akal dan harta.”.

Selanjutnya. Yang Kelima; Peduli Terhadap Anak-Anak dan Janda.

Kepedulian ‘Umar  terhadap anak-anak merupakan bukti nyata,  bahwa ia adalah orang yang sangat memperhatikan generasi mendatang. Hal ini juga menjadi bukti bahwa ia lebih maju daripada peradaban modern sekalipun.

 

‘Umar memandang bahwa subsidi bagi anak-anak merupakan hak yang wajib diberikan. Beliau berpendapat bahwa masalah utama dalam  memberikan hak-hak mereka adalah semenjak mereka disapih. ‘Umar menetapkan subsidi untuk anak yang sedang menyusu 100 dirham. Manakala beranjak besar menjadi 200 dirham. Kemudian ‘Umar mengubah subsidi bagi anak-anak dan menetap-kannya semenjak lahir.

 

Hal ini ia lakukan setelah memergoki seorang wanita yang tergesa-gesa menyapih anaknya. Ketika ditanya wanita itu menjawab, “‘Umar tidak memberikan subsidi kecuali hanya bagi anak-anak yang sudah disapih.”. Jawaban wanita tersebut benar-benar menyadarkannya, hingga saat usai sholat ‘Umar berkata, “Berdosalah ‘Umar! Betapa banyak anak-anak kaum Muslimin yang ia bunuh.”. Lalu ‘Umar  meminta kepada seorang sahabat untuk mengumpulkan kaum Muslimin seraya berkata, “Janganlah terburu-buru untuk menyapih anak-anak kalian. Sebab kami telah menetapkan subsidi untuk anak yang baru lahir.”.

Selain itu. Kepedulian ‘Umar bin al-Khottob juga terhadap para janda.

Oleh karena itu, ia menetapkan subsidi bagi para janda dan ia sangat peduli agar setiap orang memperoleh haknya. Perhatian beliau kepada para janda sebagai realisasi dari sabda Rosululloh sebagaimana diriwaytakan oleh Imam Bukhori dan Muslim,

السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ

“Penyantun para janda dan orang-orang miskin bagaikan mujahid yang berperang di jalan Alloh. Aku perawi menyangka beliau bersabda, “Bagaikan orang yang menegakkan sholat malam terus-menerus dan berpuasa tak terputus-putus.”

 

Semoga kisah kepribadian ‘Umar tersebut menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari kita.

%d blogger menyukai ini: