Kata “ruwat” mempunyai arti terlepas (bebas) dari nasib buruk yang akan menimpa. Ruwatan adalah upacara meminta keselamatan dan membebaskan orang dari nasib buruk atau kesialan yang akan menimpa. Ruwatan biasa dilakukan untuk sebuah daerah, seorang manusia atau sekelompok manusia agar mereka terselamatkan dari malapetaka.Ruwatan dilakukan dengan mempersembahkan sesajen kepada makhluk gaib yang biasanya dipercaya sebagai penguasa atas suatu daerah.

Ruwatan dalam tradisi Jawa biasanya tidak sekedar melakukan upacara khusus untuk makhluk ghoib, namun juga dibarengi dengan pertunjukan wayang kulit. Di dalam acara pewayangan ini sang dalang membawakan cerita-cerita dusta yang merusak akidah umat. Cerita tersebut berasal dari mitos Hindu-Budha yang sangat tidak masuk akal. Oleh karena itu, acara ruwatan dengan pagelaran wayang kulit seperti ini semakin menguatkan mitos di masyarakat. Pada akhir pagelaran wayang kulit sang dalang selalu membacakan mantra-mantra dengan iringan gamelan, langgam dan gending tertentu. Mantra-mantra tersebut untuk tolak balak agar Bethara Kala (jin pengganggu) tidak lagi berbuat kerusakan.

Jelas sekali bahwa Ruwatan adalah budaya peribadatan orang musyrik. Mereka berkeyakinan bahwa datangnya marabahaya bukan dari Alloh melainkan dari makhluk lain seperti Bathara Kala yang tidak lain adalah setan. Padahal, hanya Alloh yang mampu memberikan keburukan dan kebaikan. Alloh berfirman di dalam surat An Nahl ayat 53-54.

“Apa saja nikmat yang ada pada kalian, Maka dari Allah-lah datangnya, dan apabila kalian ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kalian meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kalian, tiba-tiba sebagian dari kalian mempersekutukan Alloh  dengan yang lain.”

Ayat tersebut jelas sekali bahwa keburukan dan kebaikan datangnya hanya dari Alloh bukan dari dewa atau jin yang biasa diyakini para pelaku ruwatan. Berkaitan dengan hal tersebut , nabi bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Abu Dawud berikut ini:

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“ Ketahuilah bahwa apa yang ditakdirkan padamu pasti akan menimpamu, dan apa saja yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.”

Ritual ruwatan jelas sekali ritual kesyirikan. Di dalam ruwatan terdapat persembahan, doa, permohonan, bahkan ketundukan kepada selain Alloh . Padahal seseorang hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Alloh . Alloh berfirman di dalam surat al-Bayinah ayat lima.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”

Satu hal yang sangat ironis saat ini ritual ruwatan telah membudaya di masyarakat kita. Banyak orang yang melakukan dengan dalih melestarikan budaya bangsa. Tentu, alasan seperti ini adalah alasan yang lemah dan tertolak di dalam agama. Tidak setiap warisan budaya harus kita lestarikan. Apalagi budaya Syirik , bida’ah atau khurafat. Sebab betapa banyak orang terjatuh kepada kesyirikan gara-gara tidak selektif dan cerdas mengikuti budaya nenek moyang. Alloh berfirman di dalam surat Az Zukruf ayat 22.

“Mereka berkata, “Sesungguhnya Kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan Kami hanyalah mengikuti jejak mereka saja”.

Begitulah dalil orang-orang jahiliah ketika mereka menyembah setan-setan mereka. Mereka tersesat karena mengikuti budaya yang buruk dari leluhur mereka. Oleh karena itu, Islam datang dengan agama dan budaya yang lurus. Islam tidak melarang umatnya mengikuti budaya leluhur selama budaya tersebut adalah budaya yang tidak bertentangan dengan syariat islam.

Marilah kita jauhi budaya ruwatan kepada jin dan para setan. Yakinlah bahwa Alloh saja yang memberikan manfaat dan Madharot. Ketergantungan hati serta peribadatan kepada jin dan setan adalah kesyirikan yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka. Alloh berfirman di dalam surat al Maidah ayat tujuh puluh dua.

“…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, Maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

Ketika suatu kaum melakukan ruwatan hal tersebut justru melah mengundang petaka dari Alloh . Sebab tidaklah ada perbuatan dosa apalagi kesyirikan melainkan akan mendatangkan azab bagi pelakunya di dunia. Seandainya dengan ritual ruwatan tersebut ternyata bencana berhenti. Hal tersebut bukanlah datang dari dewa-dewa mereka. Melainkan datang dari Alloh sebagai Istidraj (azab yang seolah terlihat seperti nikmat) untuk lebih menjadikan mereka terpuruk dari jalan Alloh

Semoga uraian singkat tentang bahaya ruwatan dalam tinjauan Islam tersebut bisa menjadi benteng keiman yang memagari kita dari berbagai budaya kesyirikan. Wallahu a’lam.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

%d blogger menyukai ini: