Thoharoh atau bersuci menduduki masalah penting dalam Islam. Boleh dikatakan bahwa tanpa adanya thoharoh, ibadah kita kepada Alloh tidak akan diterima. Sebab beberapa ibadah utama mensyaratkan thoharoh secara mutlak. Tanpa thoharoh, ibadah tidak sah. Bila ibadah tidak sah, maka tidak akan diterima Alloh . Kalau tidak diterima Alloh , maka konsekuensinya adalah berupa kesia-siaan. Untuk itu, wajib bagi kita semua untuk mengetahui perkara-perkara yang berkaitan dengan thoharoh.

Bersuci berarti membersihkan diri dari kotoran. Apakah itu kotoran yang sifatnya indrawi seperti najis, ataupun kotoran yang sifatnya maknawi seperti aib. Adapun bersuci dalam pengertian syariat adalah suatu perbuatan yang menyebabkan bolehnya melaksanakan sholat atau hal lain yang hukumnya sama dengan sholat. Misalnya, berwudhu untuk orang yang belum benvudhu, mandi bagi orang yang wajib mandi, serta membersihkan pakaian, badan, dan tempat.

Islam sangat memerhatikan kesucian dan kebersihan pemeluknya, khususnya tatkala dalam melaksanakan ibadah. Hal ini terlihat dari beberapa perintah dan anjuran berikut ini:

Pertama, Hukum Berthaharah adalah Wajib

Thaharah atau bersuci dari segala bentuk najis adalah wajib jika diketahui dan mampu melaksanakannya. Keharusan suci dari najis ini adalah panduan syariat Islam agar seorang muslim senantiasa dalam keadaan bersih. Alloh berfirman:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Bersihkanlah pakaianmu!” (QS. al-Mudatsir [74]: 4)

Dalam ayat lain, Alloh Ta’ala berfirman:

أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud.” (QS. al-Baqoroh [2]: 125)

Kedua, Syariat Berwudhu

Alloh Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan sholat, Maka basuhlah oleh kalian muka dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. al-Maidah [5]: 6)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsirnya bahwa ayat ini merupakan perintah berwudhu tatkala hendak melaksanakan sholat. Namun, perintah wajib itu wajib dilakukan bagi orang yang berhadats. Sedangkan bagi yang masih suci, perintah itu sunnah.

Perintah wudhu bagi yang hendak sholat ini menunjukkan bahwa Islam mewajibkan ummatnya untuk dalam keadaan suci tatkala menghadap Rabb-nya. Bahkan, pelaksanaan wudhu pun harus sempurna sesuai tuntunan Rosululloh . Hal itu ditegaskan dalam sabdanya:

وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Celakalah bagi para pemilik tumit yang tidak terkena basuhan air wudhu dari neraka.” (HR. Bukhori)

Syekh Abdullah Alu Bassam menjelaskan faidah dari hadits ini bahwa wajib memerhatikan anggota-anggota wudhu dan tidak boleh mengabaikan sedikitpun di antaranya. Nash hadits menyebut kedua tumit, dan anggota-anggota lainnya diqiyaskan padanya karena ada nash-nash lain yang menyebut seluruh anggota-anggota wudhu. Dan terdapat ancaman keras bagi orang yang tidak baik dalam berwudhu.

Dengan demikian, syariat wudhu dan wajib menyempurnaan pelaksanaannya adalah bukti konkrit bahwa agama Islam benar-benar memberikan perhatian akan kebersihan dan kesucian. Terutama tatkala hendak melaksanakan ibadah sholat.

Ketiga, Syariat Mandi Junub

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mandi adalah membersihkan tubuh dengan air dan sabun. Dengan cara menyiramkan, merendamkan diri dl air, dan lain sebagainya.

Secara umum mandi merupakan kegiatan membersihkan badan. Terutama dari segala bentuk kotoran. Tatkala Islam mewajibkan mandi dari segala bentuk hadats, tentu ini menunjukkan bahwa agama Islam senantiasa mengajarkan ummatnya agar adalam keadaan bersih. Terutama tatkala hendak beribadah.

Adapun mandi yang dimaksudkan dalam syrariat Islam adalah mandi junub. Yaiau membasahi seluruh tubuh dengan air dan diawali dengan niat untuk mandi wajib. Mandi junub bersifat ta`abbudi yaitu bersifat ibadah kepada Alloh . Mandi junub bertujuan menghilangkan hadats besar. Alloh Ta’ala berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Jika kalian dalam keadaan junub maka hendaklah kalian mandi janabah.” (QS. al-Maidah [5]: 6)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.

Abu Hurairah meriwayatkan hadits bahwa Rosululloh bersabda, “Alloh tidak menerima sholat seseorang di antara kalian ketika berhadats hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhori)  

Maksud hadats dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang keluar dari dubur atau kemaluan, atau hal-hal lain yang membatalkan wudhu. Jadi hadats adalah deskripsi hukum yang diperkirakan terjadi pada anggota tubuh. Keberaadaannya menghalangi ibadah yang menjadikan thaharah sebagai syarat.

 

Yang Keempat, Islam memberikan perhatian kebersihan badan

Agama Islam menyeru kepada para pemeluknya empat belas abad yang lalu agar memperhatikan kesehatan dan kebersihan kuku, bulu ketiak dan bulu kemaluan. Gerakan kebersihan jasmani ini mengandung dampak positif, bahkan sesuai dengan ilmu kesehatan modern masa kini. Dengan demikian ajaran Islam sesuai dengan perkembangan zaman.

Memotong kuku sebagai tindakan preventif dalam mencegah penyakit. Sebab ketika kuku seseorang panjang akan terhimpun di dalamnya berbagai kotoran yang mengandung bakteri dan penyakit. Mencabut bulu ketiak dapat menghilangkan bau tak sedap yang ditimbulkan darinya dan menjadikan nyaman bagi siapa saja yang berada di sisinya. Mencabut bulu kemaluan dapat menghilangkan sisa najis yang bersarang padanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْ خَمْسٌ مِنَ اْلفِطْرَةِ) اَلْخِتَانُ وَاْلاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَارِ وَنَتْفُ اْلإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

Abu Hurairoh meriwayatkan hadits bahwa Nabi bersabda: “Ada lima hal yang termasuk fitroh (atau lima perkara yang termasuk fitroh): khitan, memotong rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut rambut ketiak dan memangkas kumis.” (HR. Muslim)

Rosululloh telah menetapkan batas paling lama seseorang dibolehkan membiarkan bulu-bulu tersebut. Anas bin Malik berkata:

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ اْلأَظْفَارِ وَنَتْفِ اْلإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Kami diberi batasan waktu dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, yaitu agar bulu-bulu tersebut tidak dibiarkan lebih dari empat puluh malam.” (HR. Muslim)

Demikianlah pembahasan kewajiban berthaharah atau bersuci dalam syariat agama Islam. Semoga bermanfaat. Allohu a’lam

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: