Khawarij, mungkin istilah ini sering kita dengar, mereka adalah kelompok sempalan paling pertama dalam islam (mengaku islam tapi menyimpang), dimana kemunculannya sudah dinubuatkan oleh Rasulullah jauh sebelum kemunculannya. Sejarah golongan khawarij yang begitu menyeramkan dan penuh darah inilah yang membuat kisah tentang mereka sering diangkat dimedia maya, apalagi Rasulullah pernah bersabda bahwa golongan mereka akan selalu ada hingga golongan mereka yang terakhir akan berada pada barisan pasukan Dajjal memerangi imam Mahdi, sehingga khawarij akan selalu menjadi duri dalam daging dalam tubuh umat islam ini.

Saling tunjuk “kamu khawarij”

Sungguh menjadi peristiwa ironis ketika dizaman sekarang ini, antara satu golongan islam dengan golongan islam yang lain saling tunjuk dan memfitnah bahwa golongan yang lain adalah khawarij tanpa didasari pemahaman yang menyeluruh. Semua fitnah itu muncul berdasarkan informasi yang sepotong-sepotong tentang siapakah khawarij, sehingga amat disayangkan hal tersebut membuat perpecahan ditubuh umat islam. Maka berangkat dari hal tersebut kami akan mencoba untuk membuat analisa yang adil dan berimbang tentang siapakah khawarij itu.

makna khawarij

Khawārij (Arab: خوارج baca Khowaarij, secara harfiah berarti “Mereka yang Keluar”) ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya. Pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, terpusat di daerah yang kini ada di Irak selatan.

Disebut atau dinamakan Khowarij disebabkan karena keluarnya mereka dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin (khalifah/ulil amri minkum).

Awal keluarnya mereka dari pemimpin kaum muslimin yaitu pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi (musyawarah) dua utusan. Mereka berkumpul disuatu tempat yang disebut Khouro (satu tempat di daerah Kufah). Oleh sebab itulah mereka juga disebut Al Khoruriyyah.

Sekte

Akibat perbedaan pendapat di antara tokoh-tokohnya, Khawarij terpecah menjadi beberapa sekte, antara lain:

Perpecahan itulah yang menghancurkan aliran Khawarij. Satu-satunya yang masih ada, Ibadi dari Oman, Zanzibar, dan Maghreb menganggap dirinya berbeda dari yang lain dan menolak disebut Khawarij.

Ajaran

Secara umum, ciri pokok ajaran sesat golongan ini yang disepakati ulama adalah:

  • Kaum muslimin yang melakukan dosa besar adalah kafir.
  • Kaum muslimin yang terlibat dalam perang Jamal, yakni perang antara Aisyah, Thalhah, dan Zubair melawan Ali bin Abi Thalib dan pelaku arbitrase (termasuk yang menerima dan membenarkannya) dihukumi kafir.
  • Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus keturunan Quraisy. Jadi, seorang muslim dari golongan manapun bisa menjadi khalifah /ulil amri minkum asalkan mampu memimpin dengan benar.
  • Menjadikan ayat-ayat untuk orang kafir kepada umat muslim.
  • Tidak percaya hadits.
  • Keras terhadap muslim (karena dianggap kafir) tapi berlemah lembut dengan orang kafir yang sebenarnya.
  • Ahlul bid’ah secara ritual ibadah maupun pemikiran karena memahami ayat tidak dengan pemahaman Rasulullah dan para sahabat (mentakwil ayat dengan nafsunya sendiri dan memaksakan keyakinannya).
  • Berlepas diri dari jamaah (baiat kubro kepada khalifah).
  • Membiarkan penyembah berhala

Adapun ciri tambahan yang akhir-akhir ini diperdebatkan adalah :

  • Bughot ( memberontak) terhadap penguasa.
  • Selalu teriak untuk berhukum kepada hukum Allah saja.
  • Sering melakukan takfir.
  • Identik dengan darah.

Dibagian inilah kami akan mencoba melakukan studi ilmiyah dan tabayun untuk membahasnya :

CIRI KHAWARIJ ADALAH BUGHOT (MEMBERONTAK) KEPADA PENGUASA ?

Memang benar bahwa sejarah membuktikan bahwa khawarij dimasa lalu telah melakukan pemberontakan kepada KHALIFAH yang sah, namun bila kita melihat dalam sejarah ternyata pemberontakan terhadap penguasa, ternyata sangat sering terjadi, berikut sebagian dari kasus-kasusnya :

  1. Perang jamal (siffin) antara Ali bin abu Thalib (khalifah yang sah saat itu) dengan Aisyah (janda Rasulullah) , Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam (dua sahabat rasulullah yang dijamin masuk surga ).
  2. Perang antara dinasti khalifah, baik antara dinasti abbasiyah, umayyah, dan lainnya yang sering terjadi dalam sejarah islam (perebutan kekuasaan).
  3. Perang antara syekh ibnu Taimiyah (mazhab hambali) dan ibnu Katsir melawan raja tartar Hulagu Khan (pemimpin yang sah saat itu)
  4. Dan yang belum terjadi, perang akhir zaman dimana imam Mahdi akan memerangi semua pemimpin-pemimpin mulkan jabriyan seluruh dunia yang dimulai dari jazirah arab, persia, roma dan pasukan dajjal. Berdasarkan hadits ini

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim 5161)

Namun tidak ada satupun ulama yang berani mengatakan mereka semua (yang berontak kepada penguasa) adalah seorang khawarij, maka sudah sepantasnya KHILAFIYAH ini kita analisa untuk mengetahui apa yang membuat pemberontakan sesat ala khawarij berbeda dengan pemberontakan-pemberontakan yang lainnya.

Sebenarnya perkara ini sangat mudah dijawab, perbedaan yang paling besar ternyata terletak dari motif atau tujuan dari pemberontakan tersebut, bila disambungkan dengan ciri pokok ajaran sesat khawarij.

  1. Dalam perang jamal, peperangan terjadi karena salah paham dan fitnah yang disebarkan oleh pihak ketiga.
  2. Perang antara dinasti khalifah lebih kental motif politiknya dan perebutan kekuasaannya.
  3. Perang ibnu Taimiyah dan ibnu Katsir adalah karena pemimpinnya sudah tidak mau berhukum dengan syariat islam dimana itu adalah fungsi pokok seorang khalifah
  4. Dan imam Mahdi memerangi pemimpin mulkan jabriyan seluruh dunia untuk menegakkan kalimatullah dengan membangun kembali khalifah di akhir zaman dan meruntuhkan kedzaliman didunia. Berdasarkan hadits ini.

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Tampak jelas bahwa pemberontakan disini lebih ke permasalahan di intern kekhalifahan, tidak satupun permasalahan pemberontakan yang didasari pemikiran untuk menolak konsep khalifah dan menggantikannya dengan konsep yang lain, dimana jelas khawarij berpendapat bahwa Khalifah boleh dipilih rakyat serta tidak harus keturunan Quraisy dan memilih berlepas diri dari baiat kepada khalifah (baiat kubro) dimana mereka tidak percaya dengan hadits dan menolak hukum huhud. Bahkan pada akhirnya mereka menolak konsep kekhalifahan secara keseluruhan dengan berusaha memerangi kekhalifahan yang sah untuk digantikan konsep versi mereka yang jelas-jelas menyimpang (bukan sekedar perebutan kekuasaan atau masalah internal khalifah). ini sejalan dengan arti khawarij secara bahasa yaitu “mereka yang keluar” karena tidak sekedar keluar dari baiat tapi keluar dari konsep kekhalifahan itu sendiri (tidak setuju dengan konsep khalifah).

Dan sebagai catatan akhir, khalifah Ali bin abi thalib sampai detik akhir tidak mau memerangi khawarij walaupun terang-terangan mereka akan memberontak, sebelum mengirim Ibnu Abbas untuk mengajak diskusi dan ditegakkan hujjah kepada mereka secara terbuka dan dilihat semua masyarakat, sehingga sepertiga dari golongan khawarij tersebut sadar akan kesesatannya (detailnya akan dibahas dibawah). Sehingga bila kita mengklaim diri kita mengikuti pemahaman para sahabat, sudah sepantasnya kita mengikuti jejak langkah khalifah Ali Bin Abi Thalib kepada khawarij, dimana beliau mengadakan debat terbuka yang bisa dilihat masyarakat umum untuk membuka syubhat-syubhat yang ada (bukan tahdzir tanpa bertatap muka)

CIRI KHAWARIJ ADALAH SELALU BERTERIAK HARUS BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH ?

Dalam perkara inipun jelas pernah dilakukan oleh selain khawarij yaitu :

  1. Perang antara syekh ibnu Taimiyah (mazhab hambali) dan ibnu Katsir melawan raja tartar Hulagu Khan (pemimpin yang sah saat itu) dengan alasan yang sama, karena hulagu khan juga tidak mau berhukum selain syariat islam.
  2. Dan yang belum terjadi, perang akhir zaman dimana imam Mahdi akan memerangi semua pemimpin-pemimpin di era mulkan jabriyan seluruh dunia yang dimulai dari jazirah arab, khurasan, roma dan pasukan dajjal.

Bisa dibaca artikelnya disini http://fajribandung.com/91-tahun-umat-islam-hidup-bak-gelandangan-tanpa-rumah/

Untuk memahami perbedaannya, bisa dilihat saat diadakan perdebatan antara Ibnu Abbas dan khawarij saat mereka akan memberontakan :

Ibnu Abbas z berkata: “Sungguh aku dapati diriku masuk di tengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka. Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pusat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”

Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku: “Marhaban, wahai Ibnu ‘Abbas z. Apa gerangan yang membawamu kemari?”

Aku berkata: “Sungguh aku datang pada kalian dari sisi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, juga dari sisi menantu Rasulullah, yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Al-Qur’an daripada kalian.”

Pembaca rahimakumullah, sebelum kita lanjutkan penuturan Ibnul Jauzi t, perhatikan sejenak jawaban Ibnu ‘Abbas z yang sarat makna dan penuh keindahan. Kata-kata itu sesungguhnya mutiara yang sangat berharga, yang mengingatkan akan kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar sekaligus nasihat bagaimana seharusnya prinsip seorang muslim dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah yaitu: mengembalikan kepada pemahaman sahabat yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, dan merekalah orang yang paling mengerti Al-Kitab dan As-Sunnah. Dalam jawaban ini, beliau juga ingin tegaskan besarnya kedudukan Ali bin Abi Thalib z di sisi Allah l, sebagai menantu Rasulullah n. Mungkin dengan ini mereka menyadari kesesatan yang mereka berada di atasnya dan segera bertaubat untuk tidak memerangi Ali z.

Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas z yang penuh makna dan merupakan prinsip hidup –yang tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka–, berkatalah sebagian Khawarij memberi peringatan: “Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibnu ‘Abbas z, pen.). Sesungguhnya Allah l berfirman:

ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ

“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58)

Betapa bodohnya mereka gunakan ayat ini untuk mencela Ibnu Abbas z, padahal beliau lebih mengerti Al-Qur’an, sebagaimana Rasulullah n berdoa untuknya: “Ya Allah, faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ia tafsir.”

Ibnul Jauzi t kembali melanjutkan riwayat kisah ini: Berkata dua atau tiga orang dari mereka: “Biarlah kami yang akan mendebatnya!”.

Aku berkata: “Wahai kaum, datangkan untukku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah n beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, Tidak ada pula seorang pun dari sahabat yang bersama kalian, dan ia (Ali z adalah orang) yang paling mengerti dengan tafsir Al-Qur’an?”

Mereka berkata: “Kami punya tiga alasan.”

Aku berkata: “Sebutkan (tiga alasan kalian).”

Mereka berkata: “Pertama: Sungguh dia telah jadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah l, padahal Allah l berfirman:

“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah l…” (Yusuf: 40)

Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah l.

Aku berkata: “Ini alasan kalian yang pertama. Lalu apa lagi?”

Mereka berkata: “Adapun yang kedua, sesungguhnya dia telah berperang dan membunuh tapi kenapa tidak mau menawan dan mengambil ghanimah? Kalau mereka (Aisyah dan barisannya) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.”

Ibnu Abbas z berkata: “Lalu apa alasan kalian yang ketiga?”

Mereka berkata: “Ketiga: Dia telah hapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin(pemimpin orang-orang kafir).”

Ibnu ‘Abbas z berkata: “Adakah pada kalian alasan selain ini?” Mereka berkata: “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini!”

BERSAMBUNG……..

oleh : Murawhy Madholin

Lanjut ke http://fajribandung.com/khawarij-studi-ilmiah-dan-analisanya-2/

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: